Kisah Sosiolog Wieslaw Zejieski Pilih Islam karena Anggap sebagai Ideologi Jalan Tengah
Jum'at, 13 Januari 2023 - 17:51 WIB
loading...
A
A
A
Saya percaya bahwa organisasi kemasyarakatan harus berdasarkan kebebasan yang berdisiplin, atau dengan lain perkataan, organisasi yang menghormati kebebasan dan kebijaksanaan tradisi. Dan kita harus memperkembangkan tradisi-tradisi itu supaya sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Tidak pula mengherankan bahwa saya dididik dalam semangat "jalan tengah" supaya saya menjadi "orang jalan tengah" juga. Bolehlah disebutkan bahwa saya ini adalah seorang traditionalist progressive.
Pada waktu saya berusia 16 tahun, saya banyak meragukan macam-macam kepercayaan yang diajarkan oleh Gereja Katolik Roma yang dinyatakan "Tidak akan pernah salah" itu.
Saya tidak sanggup memercayai Trinitas, perpindahan korban kepada daging dan darah Yesus (transubstantiation), perantaraan yang dilakukan oleh para pendeta antara manusia dengan Allah, atau tentang tidak bisa salahnya Paus dan keefektifan kata-kata magis yang diberikan oleh para pendeta dalam gereja.
Baca juga: Kisah Mualaf Natalia yang Mantap Memeluk Islam Berkat Alkitab
Saya tidak bisa menyembah Maria, para Pendeta, patung-patung, gambar-gambar dan lain-lain. Akhirnya saya mengingkari segala apa yang pernah saya percayai, dan tidak lagi mau memedulikan soal-soal agama.
Pecahnya perang dunia ke-II telah menyebabkan tumbuhnya kembali rasa keagamaan dalam jiwa saya. Tuhan telah membuka mata saya, dan saya berpendapat bahwa manusia memerlukan ideologi, dan memang tidak mungkin manusia tanpa ideologi, jika manusia ingin selamat dari kehancuran.
Bagi saya jelas bahwa hanya agamalah yang bisa memberikan banyak ideologi kepada dunia. Hanya saja, manusia zaman sekarang ini tidak mungkin bagaimanapun juga mempercayai agama yang segala kepercayaan dan peribadatannya tidak bisa diterima oleh akal dan pikiran.
Selain dari itu saya yakin bahwa kemanusiaan hanya bisa dipimpin oleh suatu agama yang memberikan ajaran-ajaran yang komplit dan sempurna, baik mengenai hidup perseorangan maupun mengenai hidup masyarakat.
Berdasarkan keyakinan itulah, saya telah mempelajari bermacam-macam agama, terutama tentang sejarah dan prinsip-prinsip Quakerism (Shahibiyah), Unitarianism (aliran Kristen yang tidak mempercayai Trinitas), Buddism dan Bahaism. Akan tetapi tidak ada satupun di antara agama-agama tersebut yang dapat memuaskan saya secara keseluruhan.
Baca juga: Kisah Mualaf Rebecca Reijman yang Masuk Islam Berkat Tahlilan
Akhirnya saya menemukan Islam. Sebuah pamplet kecil dengan nama "Islamo esperantiste regardata" ditulis dalam bahasa esperanto oleh seorang Muslim bangsa Inggris, Mr. Ismail Colin Evans, telah membuka kuping saya untuk mendengar panggilan Tuhan Itu terjadi pada bulan Februari 1949.
Tidak pula mengherankan bahwa saya dididik dalam semangat "jalan tengah" supaya saya menjadi "orang jalan tengah" juga. Bolehlah disebutkan bahwa saya ini adalah seorang traditionalist progressive.
Pada waktu saya berusia 16 tahun, saya banyak meragukan macam-macam kepercayaan yang diajarkan oleh Gereja Katolik Roma yang dinyatakan "Tidak akan pernah salah" itu.
Saya tidak sanggup memercayai Trinitas, perpindahan korban kepada daging dan darah Yesus (transubstantiation), perantaraan yang dilakukan oleh para pendeta antara manusia dengan Allah, atau tentang tidak bisa salahnya Paus dan keefektifan kata-kata magis yang diberikan oleh para pendeta dalam gereja.
Baca juga: Kisah Mualaf Natalia yang Mantap Memeluk Islam Berkat Alkitab
Saya tidak bisa menyembah Maria, para Pendeta, patung-patung, gambar-gambar dan lain-lain. Akhirnya saya mengingkari segala apa yang pernah saya percayai, dan tidak lagi mau memedulikan soal-soal agama.
Pecahnya perang dunia ke-II telah menyebabkan tumbuhnya kembali rasa keagamaan dalam jiwa saya. Tuhan telah membuka mata saya, dan saya berpendapat bahwa manusia memerlukan ideologi, dan memang tidak mungkin manusia tanpa ideologi, jika manusia ingin selamat dari kehancuran.
Bagi saya jelas bahwa hanya agamalah yang bisa memberikan banyak ideologi kepada dunia. Hanya saja, manusia zaman sekarang ini tidak mungkin bagaimanapun juga mempercayai agama yang segala kepercayaan dan peribadatannya tidak bisa diterima oleh akal dan pikiran.
Selain dari itu saya yakin bahwa kemanusiaan hanya bisa dipimpin oleh suatu agama yang memberikan ajaran-ajaran yang komplit dan sempurna, baik mengenai hidup perseorangan maupun mengenai hidup masyarakat.
Berdasarkan keyakinan itulah, saya telah mempelajari bermacam-macam agama, terutama tentang sejarah dan prinsip-prinsip Quakerism (Shahibiyah), Unitarianism (aliran Kristen yang tidak mempercayai Trinitas), Buddism dan Bahaism. Akan tetapi tidak ada satupun di antara agama-agama tersebut yang dapat memuaskan saya secara keseluruhan.
Baca juga: Kisah Mualaf Rebecca Reijman yang Masuk Islam Berkat Tahlilan
Akhirnya saya menemukan Islam. Sebuah pamplet kecil dengan nama "Islamo esperantiste regardata" ditulis dalam bahasa esperanto oleh seorang Muslim bangsa Inggris, Mr. Ismail Colin Evans, telah membuka kuping saya untuk mendengar panggilan Tuhan Itu terjadi pada bulan Februari 1949.
Lihat Juga :