Semua Agama Para Nabi dan Rasul Adalah Islam, Begini Penjelasannya
Minggu, 15 Januari 2023 - 14:52 WIB
loading...
A
A
A
Cak Nur mengatakan berdasarkan pengertian-pengertian itu juga harus dipahami penegasan dalam al-Qur'an bahwa semua agama para Nabi dan Rasul adalah agama Islam. Yakni, agama yang mengajarkan sikap tunduk dan patuh, pasrah dan berserah diri secara tulus kepada Tuhan dengan segala qudrat dan iradat-Nya.
Maka sebagai misal, mengenai Nabi Ibrahim as. ditegaskan bahwa dia bukanlah seorang penganut agama komunal seperti Yahudi atau Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang tulus mencari dan mengikuti kebenaran (hanif) dan yang pasrah kepada Tuhan (muslim) (QS. 'Ali 'Imran 3:67).
Demikian agama seluruh Nabi keturunan Ibrahim, khususnya anak-cucu Ya'qub atau Bani Israil, sebagaimana dilukiskan dalam penuturan Kitab Suci, demikian:
Adakah kamu menyaksikan tatkala maut datang kepada Ya'qub, dan ketika ia bertanya kepada anak-anakuya, "Apakah yang akan kamu sekalian sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu, Ibrahim, Isma'il dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan kepada-Nya kamu semua pasrah (muslim) (QS al-Baqarah 2:133).
Kemudian tentang Nabi Musa as digambarkan melalui ucapan pertobatan Fir'aun bahwa dia, Nabi Musa, membawa ajaran agar manusia pasrah (muslim) kepada Tuhan. Dengan begitu, agamanya pun sebuah agama Islam. Kata Fir'aun! yang berusaha bertobat setelah melihat kebenaran, "Aku percaya bahwa tiada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang pasrah -muslimun- (kepadaNya)" ( QS Yunus 90 :10).
Demikian pula, sebuah ilustrasi tentang Nabi Isa dan para pengikutnya, menunjukkan bahwa agama yang diajarkannya pun adalah sebuah agama Islam, dalam arti agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada-Nya:
Maka ketika Isa merasakan adanya sikap ingkar dari mereka (kaumnya), ia berkata, "Siapa yang akan menjadi pendukungku kepada Allah?" Para pengikut setianya (al-Hawariyyun) berkata, "Kamilah para pendukung (menuju) Allah, kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang pasrah -muslimun- (kepada-Nya). (QS Ali Imran 3:52).
Baca juga: Ikhlas Sebagai Kunci Kekuatan Iman
Menurut Cak Nur, karena semua agama yang benar adalah agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan, maka tidak ada agama atau sikap keagamaan yang bakal diterima Tuhan selain sikap pasrah kepada Tuhan atau Islam itu.
Dan karena Islam pada dasarnya bukanlah suatu proper name untuk sebuah agama tertentu (para Nabi, Rasul dan umat terdahulu yang digambarkan dalam Kitab Suci sebagai orang-orang yang pasrah kepada Tuhan itu pun tidak menggunakan lafal harfiah "Islam" atau pun "muslim") maka orang pemeluk Islam sekarang ini, juga seorang muslim, masih tetap dituntut untuk mengembangkan dalam dirinya kemampuan dan kemauan untuk tunduk patuh serta pasrah dan terserah diri kepada Tuhan dengan setulus-tulusnya.
Hanya dengan itu agama dan keagamaan bakal diterima Allah, dan di akhirat tidak bakal termasuk mereka yang merugi. Inilah yang sebenarnya dimaksud oleh firman Allah, "Sesungguhnya agama bagi Allah ialah al-Islam (yaitu sikap pasrah yang tulus kepada-Nya) (QS 'Ali 'Imran 3:19), serta firman Allah: "Dan barangsiapa menganut selain al-Islam (sikap pasrah kepada Allah) sebagai agama maka ia tidak akan diterima, dan di akhirat ia akan termasuk mereka yang menyesal"- (QS. 'Ali 'Imran 3:85).
Cak Nur menegaskan sudah terang bahwa Islam dalam pengertian ini mustahil tanpa iman, karena ia dapat tumbuh hanya kalau seseorang memiliki rasa percaya kepada Allah yang tulus dan penuh.
Baca juga: Amanah, Tanda-tanda Iman Seorang Mukmin
Maka sebagai misal, mengenai Nabi Ibrahim as. ditegaskan bahwa dia bukanlah seorang penganut agama komunal seperti Yahudi atau Nasrani, melainkan dia adalah seorang yang tulus mencari dan mengikuti kebenaran (hanif) dan yang pasrah kepada Tuhan (muslim) (QS. 'Ali 'Imran 3:67).
Demikian agama seluruh Nabi keturunan Ibrahim, khususnya anak-cucu Ya'qub atau Bani Israil, sebagaimana dilukiskan dalam penuturan Kitab Suci, demikian:
Adakah kamu menyaksikan tatkala maut datang kepada Ya'qub, dan ketika ia bertanya kepada anak-anakuya, "Apakah yang akan kamu sekalian sembah sepeninggalku?" Mereka menjawab, "Kami menyembah Tuhanmu dan Tuhan leluhurmu, Ibrahim, Isma'il dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, dan kepada-Nya kamu semua pasrah (muslim) (QS al-Baqarah 2:133).
Kemudian tentang Nabi Musa as digambarkan melalui ucapan pertobatan Fir'aun bahwa dia, Nabi Musa, membawa ajaran agar manusia pasrah (muslim) kepada Tuhan. Dengan begitu, agamanya pun sebuah agama Islam. Kata Fir'aun! yang berusaha bertobat setelah melihat kebenaran, "Aku percaya bahwa tiada Tuhan kecuali yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang yang pasrah -muslimun- (kepadaNya)" ( QS Yunus 90 :10).
Demikian pula, sebuah ilustrasi tentang Nabi Isa dan para pengikutnya, menunjukkan bahwa agama yang diajarkannya pun adalah sebuah agama Islam, dalam arti agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada-Nya:
Maka ketika Isa merasakan adanya sikap ingkar dari mereka (kaumnya), ia berkata, "Siapa yang akan menjadi pendukungku kepada Allah?" Para pengikut setianya (al-Hawariyyun) berkata, "Kamilah para pendukung (menuju) Allah, kami beriman kepada Allah, dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang pasrah -muslimun- (kepada-Nya). (QS Ali Imran 3:52).
Baca juga: Ikhlas Sebagai Kunci Kekuatan Iman
Menurut Cak Nur, karena semua agama yang benar adalah agama yang mengajarkan sikap pasrah kepada Tuhan, maka tidak ada agama atau sikap keagamaan yang bakal diterima Tuhan selain sikap pasrah kepada Tuhan atau Islam itu.
Dan karena Islam pada dasarnya bukanlah suatu proper name untuk sebuah agama tertentu (para Nabi, Rasul dan umat terdahulu yang digambarkan dalam Kitab Suci sebagai orang-orang yang pasrah kepada Tuhan itu pun tidak menggunakan lafal harfiah "Islam" atau pun "muslim") maka orang pemeluk Islam sekarang ini, juga seorang muslim, masih tetap dituntut untuk mengembangkan dalam dirinya kemampuan dan kemauan untuk tunduk patuh serta pasrah dan terserah diri kepada Tuhan dengan setulus-tulusnya.
Hanya dengan itu agama dan keagamaan bakal diterima Allah, dan di akhirat tidak bakal termasuk mereka yang merugi. Inilah yang sebenarnya dimaksud oleh firman Allah, "Sesungguhnya agama bagi Allah ialah al-Islam (yaitu sikap pasrah yang tulus kepada-Nya) (QS 'Ali 'Imran 3:19), serta firman Allah: "Dan barangsiapa menganut selain al-Islam (sikap pasrah kepada Allah) sebagai agama maka ia tidak akan diterima, dan di akhirat ia akan termasuk mereka yang menyesal"- (QS. 'Ali 'Imran 3:85).
Cak Nur menegaskan sudah terang bahwa Islam dalam pengertian ini mustahil tanpa iman, karena ia dapat tumbuh hanya kalau seseorang memiliki rasa percaya kepada Allah yang tulus dan penuh.
Baca juga: Amanah, Tanda-tanda Iman Seorang Mukmin
(mhy)
Lihat Juga :