Hajj Journey-15

Wukuf di Arafah, Momen Menemukan Kembali Jati Diri

Jum'at, 16 Agustus 2019 - 06:37 WIB
Wukuf di Arafah, Momen...
Wukuf di Arafah, Momen Menemukan Kembali Jati Diri
A A A
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pembimbing Haji Nusantara USA

Pada segala sesuatu ada yang paling mendasar dan menentukan. Bahkan menjadi identitas khusus dari sesuatu itu. Dengannya sesuatu itu teridentifikasi.

Nampaknya ibadah haji secara khusus teridentifikasi dengan ritual wukuf di Arafah. Ini yang kemudian menjadikan baginda Rasulullah SAW bersabda: "Haji itu adalah Arafah".

Arafah menjadi sangat penting dan mendasar karena dengannya manusia akan tersadarkan. Manusia yang gagal Arafah (sadar) adalah manusia yang 'lalai' yang akan dengan mudah dikendalikan oleh diri dan alam sekitarnya.

Konon awal penamaan Arafah itu karena di sanalah awal keyakinan Ibrahim tentang perintah Tuhan untuk menyembelih anaknya. Keyakinan tertinggi tentang sesuatu, khususnya dalam ilmu ladunni, disebut 'ma'rifat'.

Olehnya ketika Ibrahim telah sampai pada tingkatan keyakinan itu, bahwa memang Tuhan memang menyembelih anaknya maka hal itu dinamai 'ma'rifat'. Dan kebetulan bahwa keyakinan penuh itu terjadi di saat beliau berada di padang luas itu. Maka dinamailah padang itu Padang Arafah.

Versi lain dari penamaan ini adalah bahwa ketika Adam dan Hawa diturunkan ke bumi ini mereka terpisah. Mereka saling mencari dan akhirnya ketemu dan saling mengenal sebagai manusia di bumi ini. Pertemuan inilah yang menjadi dasar penamaan Arafah.

Pendapat lain mengaitkan kata Arafah dengan kesalahan Adam memakan buah terlarang. Ketika turun ke atas dunia ini Adam diingatkan oleh malaikat agar mengakui kesalahannya itu.

Itulah yang kemudian diekspresikan oleh Adam, sebagaimana disebutkan Alqur'an: "Wahai Tuhan kami. Sesungguhnya kami telah menzhalimi diri sendiri. Maka jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami maka kami telah termasuk orang-orang yang merugi".

Kata 'mengakui' dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah 'I'tiraaf' atau pengakuan. Tempat mengakui dosa inilah yang disebut Arafah.

Terlepas dari mana yang paling akurat dari ketiga klaim itu, Arafah memang tempat di mana keaslian jatidiri manusia harus ditemukan kembali. Jati diri itu adalah tabiat dasar manusia yang lebih dikenal dengan fitrah manusia.

Ketika fitrah manusia tidak tersembunyi oleh ragam najis-najis di duniawi, termasuk hawa nafsu sendiri, maka hidup manusia akan alami dan sesuai. Tapi ketika fitrah itu tertutupi oleh berbagai hijab (penutup) termasuk kebodohan dan keangkuhan, maka hidup manusia akan keluar dari jalan yang sesungguhnya.

Di sanalah kemudian manusia melakukan berbagai deviasi hidup. Bagaikan orang sakit, bahkan mengalami gangguan mentalitas dan pemikiran. Tidak berlebihan jika manusia yang fitrahnya tertimbun kotoran-kotoran tadi dapat dikatakan sedang mengalami state of craziness (situasi gila).

Dunia yang dihuni oleh manusia seperti inilah yang berubah menjadi dunia gila. Berbagai kezhaliman terjadi, perusakan, pembantaian dan pemusnahan hidup manusia menjadi seolah barang lumrah dalam dunia yang gila itu.

Bahkan yang baik cenderung dipandang buruk. Sebaliknya yang buruk dipandang baik. Manis dan pahitnya hidup tidak lagi diukur dengan ukuran kedamaian batin. Tapi terbawa arus ombak pergerakan dunia itu sendiri.

Singkatnya, ketika fitrah tersembunyi (hidden) maka hidup manusia menjadi Semrawut atau kacau (messy). Di sinilah kemudian ajaran agama hadir untuk mengembalikan hidup yang kacau itu ke hidup yang teratur. Wajar, jika salah satu makna 'diin' adalah aturan.

Singkatnya wukuf di Arafah adalah momen menemukan kembali (discovery) jati diri manusia. Dan jalan untuk menemukan jati diri itu ada pada penemuan kefitrahan manusia. Kefitrahan yang secara fundamental terbangun di atas ketauhidan. Sehingga dzikir terafdhol di hari Arafah adalah: "Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu. Lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa killi syaein Qadiir".

Dengan menemukan jati diri, manusia menemukan Tuhan. Dengan menemukan Tuhan manusia kembali berada pada jalan hidupnya yang alami.

Tapi kehidupan alami itu bukan tidak ada tantangannya. Iblis dan bala tentaranya telah bertekad untuk kembali menggelincirkan manusia dari jalan hidup yang sejati itu.

Itu yang kemudian mengharuskan semua jamaah untuk selalu bersiap-siap untuk melakukan perlawanan dan peperangan melawan Iblis dan tentaranya. Maka prosesi selanjutnya, Muzdalifah dan Mina, semuanya menggambarkan tekad perang dan perlawanan itu. (bersambung)
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Haji dan Panggilan Kemanusiaan
Haji dan Panggilan Kemanusiaan
Meneladani Ibrahim (1):...
Meneladani Ibrahim (1): Kebesaran Allah dan Kehidupan
Waktu Itu!
Waktu Itu!
Idul Adha, Kurban, dan...
Idul Adha, Kurban, dan Keteladanan Nabi Ibrahim AS (1)
Puasa adalah Pembuktian...
Puasa adalah Pembuktian Keimanan - Imam Shamsi Ali
Puasa adalah Pembuktian...
Puasa adalah Pembuktian Ketaatan - Imam Shamsi Ali
Rekomendasi
Suhu Global Naik Satu...
Suhu Global Naik Satu Derajat, 50% Penduduk Bumi Terancam Mengungsi
Debu Gurun Sahara Diprediksi...
Debu Gurun Sahara Diprediksi Akan Menutupi Wilayah AS Minggu Ini
Syaikh Abu Al-Hasan...
Syaikh Abu Al-Hasan Ali An-Nadwi, Sosok Ulama dan Penulis Terbaik Sirah Nabawiyah
Artikel Terkini
Kemenhaj Ingatkan Jemaah...
Kemenhaj Ingatkan Jemaah Haji Tak Bawa Air Zamzam dalam Koper
21.948 Jemaah Haji Reguler...
21.948 Jemaah Haji Reguler dan 7.702 Haji Khusus Sudah Tiba di Indonesia
Fitnah Akhir Zaman:...
Fitnah Akhir Zaman: Mengapa Wanita Menjadi Sasaran Utama Fitnah Dajjal?
Jemaah asal Tuban Bagikan...
Jemaah asal Tuban Bagikan Pentingnya JKN untuk Perjalanan Ibadah Haji yang Tenang
Syarat Istithaah Sukses...
Syarat Istithaah Sukses Tekan Angka Jemaah Haji Indonesia Sakit Pascaarmuzna
Kunjungi Misi Haji di...
Kunjungi Misi Haji di Makkah, Wamenhaj Arab Saudi Puji Perubahan Radikal Sistem Haji Indonesia
Infografis
Berjasa dalam Penemuan...
Berjasa dalam Penemuan Obat Kanker, 3 Ilmuwan Meraih Nobel Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved