Muhammad SAW Sang Mutiara (7) - Terakhir

loading...
Muhammad SAW Sang Mutiara (7) - Terakhir
Muhammad SAW Sang Mutiara (7) - Terakhir
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA

Ada satu prilaku diskriminatif umat dalam menyikapi sunnah-sunnah Rasulullah SAW . Satu yang paling sering diabaikan adalah sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan publik dan sosialnya. Seolah sunnah hanya bersifat personal, bahkan itupun dibatasi dalam hal-hal ritual ubudiyah semata.

Padahal sekali lagi, sunnah-sunnahnya mencakup segala aspek hidup manusia untuk ditauladani. Muhammad SAW memang adalah manusia biasa (basyar). Tapi kemanusiaan beliau mencapai tingkatan kesempurnaannya. Karenanya menuntut kesadaran Umat untuk menauladani beliau juga secara sempurna dalam kehidupan.

Pada bagian lalu disebutkan ketauladanan dalam aspek iman, ibadah, dan juga pada sisi karakter pribadi. Bahwa pada semua itu beliau menjadi tauladan terbaik. kehidupan beliau adalah aktualisasi hidup dari keagungan ajaran Al-Qur'an.

Hal terakhir yang ingin saya bahas adalah sunnah-sunnah Rasul dalam kehidupan sosial dan publik beliau. Pada sisi inilah banyak yang terlupakan atau diabaikan sengaja atau tidak oleh umatnya. Baik itu dikarenakan oleh ketidaktahuan. Ataupun juga karena kesalahan dalam memahami agama sebagai agama personal semata.

Kesalahan memahami agama seperti ini lebih dikenal dengan paham"'tab'idh" atau pemahaman yang sebagian-sebagian. Biasanya pada tahap ini beragama umumnya ditentukan oleh kecenderungan hawa nafsu. Tanpa disadari makna "Islam" secara esensi hilang. Bahwa beislam sesungguhnya bermakna berserah diri (istislam) secara totalitas kepada kekuasaan dan aturan Ilahi.

Oleh karena agama bersifat "syamil, Kamil wa mutakamil" (menyeluruh, sempurna dan komprehensif) maka demikian pula sunnah Rasul SAW. Termasuk di dalamnya bagaimana harusnya Umat ini menjalankan kehidupan publik dan sosialnya.

Saya tentunya tidak pada posisi menjelaskan secara rinci sunnah-sunnah Rasul pada aspek hidup sosial. Tapi sekadar mengingatkan agar umat ini sadar, jangan lupa atau pura-pura lupa jika sunnah-sunnah itu ada pada aspek sosial dan publik hidup manusia.

Rasulullah SAW adalah tajir (businessman). Dan dalam menjalankan bisnisnya beliau memiliki ketauladanan yang agung. Tentu bukan pada teknis pelaksanaan bisnis beliau. Tapi lebih kepada nilai-nilai agung (value) yang beliau demonstrasikan dalam menjalankan bisnisnya.

Salah satunya adalah nilai kejujuran dalam bisnis. Kejujuran ini merupakan aktualisasi dari ajaran Islam yang mengecam ketidakjujuran atau lebih dikenal dengan prilaku 'muthoffif' (tidak jujur dalam menimbang).

Kejujuran dalam bisnis ini diperlihatkan di saat beliau menjadi manajer bisnis calon istrinya ketika itu, Sayyidah Khadijah RA. Walhasil dengan kejujuran itu beliau selalu meraih keuntungan (profit) yang luar biasa. Dan ini pulalah yang menjadikan Khadijah ketika itu diam-diam jatuh hati dengan Rasulullah SAW.

Selanjutnya beliau kemudian memotivasi umatnya untuk jujur dalam bisnis. Bahkan dalam hadis "tajirun shaduuq" (pebisnis yang jujur) dijanjikan surga. Juga menjadi salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah di Padang Mahsyar kelak.

Rasulullah SAW itu adalah panglima militer. Beliau adalah panglima tertinggi (commander in-chief). Dan karenanya beliau menjadi tauladan yang agung dalam kepemimpinan militer.

Salah satu yang terpenting pada aspek ini adalah bagaimana bahkan ketika dalam keadaan genting sekalipun beliau tidak pernah kehilangan "sense of compassion" (rasa kasih sayang) yang memang menjadi bagian integral dari dirinya sebagai rahmatan lil-alamin.

Beliau misalnya tekankan kepada semua prajuritnya: "Jangan membunuh wanita, anak-anak, orang tua, bahkan siapa saja yang tidak memerangimu (non combatans)".

Lebih jauh beliau selalu mengingatkan: "Jangan mengganggu orang-orang yang beribadah, termasuk merusak rumah ibadah. Jangan membunuh hewan, jangan membabat pohon-pohon, dan jangan meracuni sumur".

Intinya beliau sebagai panglima perang selalu mengedepankan moralitas dan nilai kasih sayang bahkan kepada musuh. Perang bagi beliau bukan bertujuan merusak dan membunuh. Sebaliknya perang terpaksa dilakukan untuk membendung pembunuhan dan kerusakan yang lebih besar.

Beliau adalah diplomat ulung. Berbagai peristiwa dalam sejarah yang memerlukan skill diplomasi yang tinggi beliau buktikan. Di antaranya pada perjanjian pascaperang Badar dan beberapa perjanjian selanjutnya.

Mungkin yang paling kita ingat adalah bagaimana beliau melakukan negosiasi ketika orang-orang kafir Quraysh melarang beliau masuk Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Bagi banyak kalangan hal itu adalah pelecehan. Dan karenanya izzah (kemuliaan) menjadi taruhan.

Instink diplomasi beliau tumbuh. Tentunya secara teologis memang dengan inspirasi langit. Beliau justru ingin memakai momentum itu untuk melakukan dialog dan perjanjian dengan musuh-musuhnya.
halaman ke-1
preload video