Cara Makan Rasulullah yang Patut Diteladani (2)

loading...
Cara Makan Rasulullah yang Patut Diteladani (2)
Cara Makan Rasulullah yang Patut Diteladani (2)
Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) adalah sosok manusia yang paling sehat. Salah satu rahasia kesehatan Rasulullah adalah menjaga pola makan dan makanan yang dikonsumsinya.

Pada bagian pertama telah diulas beberapa adab dan cara makan Rasulullah yang bersumber dari Kitab Tha'amur-Rasul SAW wat-Tadawi bil-Ghidza (Inilah Makanan Rasulullah SAW) karya Prof Abdul Basith Muhammad as-Sayyid. Adab lainnya disebutkan bahwa Rasulullah tidak mengumpulkan sejumlah makanan yang berasal dari satu jenis. [Baca Juga: Cara Makan Rasulullah yang Patut Diteladani (1)]

Dalam Kitab Zad Al-Ma'ad, Ibnu Al-Qayyim menjelaskan bahwa menggabungkan makanan dari satu jenis baik dari kandungan gizi maupun protein, dianggap berbahaya bagi tubuh. Rasulullah juga tidak mau menggabungkan dua makanan yang panas. Beliau juga tidak meniup makanan yang masih panas, karena tiupan mulut akan mendatangkan bau yang tidak sedap dan tidak disukai orang lain. Apalagi jika orang yang meniup itu memang memiliki bau mulut yang tidak sedap.

Rasulullah menganjurkan agar tidak tergesa-gesa saat makan dan minum. Tunggu hidangan yang kita makan atau minum itu mencapai suhu normal, tidak terlalu dingin (seperti susu, krim, sup, dan minyak samin). Tidak mengerut (seperti makanan yang mengandung garam atau sejenisnya), dan tidak mengeras (seperti nasi atau roti kering).



Rasulullah juga tidak pernah mengonsumsi makanan yang sudah basi. Beliau selalu menyantap makanan yang dihidangkan untuknya, tidak pernah mencela makanan tersebut. Jika tidak menyukai suatu makanan, beliau tidak mendekatinya. Sebagai contoh, Rasulullah menolak untuk memakan biawak, karena tidak terbiasa makan binatang tersebut.

Meski demikian, beliau tidak mengharamkan biawak bagi umatnya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang Badui tentang hal itu. Beliau menjawab, "Wahai Badui, sesungguhnya Allah murka kepada dua suku Bani Israil. Allah pun mengubah wujud mereka menjadi hewan melata di bumi ini. Aku tidak tahu pasti, apakah binatang ini termasuk salah satu di antara binatang itu. Aku pun tidak mau memakannya, tetapi aku tidak pula melarang umatku untuk memakannya." (HR Muslim). Ada yang mengatakan bahwa binatang yang dimaksud bukan biawak, tapi hewan sejenis biawak bernama Dhab yang hidup di gurun pasir (bukan di rawa-rawa seperti biawak), ukuran Dhab lebih kecil dari biawak.

Rasulullah juga tidak pernah makan dengan lahap atau rakus seperti yang dilakukan sebagian orang. Kita sering mendapati orang makan dengan rakusnya hingga semua rongga dalam perutnya terisi penuh. Akibatnya, tidak ada tempat lagi dalam perutnya untuk menampung air dan udara, bahkan orang itu tidak sanggup agi bergerak dari tempat duduknya. Dia telah melupakan hadis asulullah yang diriwayatkan oleh Al-Miqdad bin Fakrab berikut ini.



Rasulullah bersabda, "Seorang anak (cucu) Adam tidak pernah memenuhi satu bejana pun yang lebih jelek daripada perutnya. Cukuplah bagi seorang anak (cucu) Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan punggungnya. Jika dia harus makan, hendaklah sepertiga (dari perutnya) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk udara." (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
اَلَمۡ تَكُنۡ اٰيٰتِىۡ تُتۡلٰى عَلَيۡكُمۡ فَكُنۡتُمۡ بِهَا تُكَذِّبُوۡنَ‏
Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya?

(QS. Al-Mu’minun:105)
cover bottom ayah
preload video