Begini Isi Lengkap Fiqih Pemulasaraan Jenazah Pasien Covid-19 Menurut NU

loading...
Begini Isi Lengkap Fiqih Pemulasaraan Jenazah Pasien Covid-19 Menurut NU
Begini Isi Lengkap Fiqih Pemulasaraan Jenazah Pasien Covid-19 Menurut NU
Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdatul Ulama (NU) merilis Fiqih pemulasaraan jenazah pasien Covid-19 dua hari lalu. Pertama, NU berpendapat orang yang meninggal karena virus corona adalah mati sahid. Kedua, kedudukan dan perlakuan jenazah korban virus corona sama dengan jenazah muslim pada umumnya, yaitu wajib dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan. Ketiga, cara memandikan jenazah pasien Covid-19 dengan menggunakan peralatan yang bisa mencegah penularan penyakit tersebut. Keempat, untuk protokol atau teknis mengkafanan jenazah pasien Covid-19 secara ekstra dan pemakamannya harus mengikuti arahan dari para ahli medis.

Lebih rinci lagi rilis yang ditandatangani Ketua Bahtsul Masail NU, KH. M. Nadjib Hassan tersebut menegaskan bahwa dalam Islam, manusia diposisikan sebagai penerima anugerah karamah insaniyah (martabat kemanusiaan). Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) berfirman:

وَلَـقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىۡۤ اٰدَمَ وَحَمَلۡنٰهُمۡ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنٰهُمۡ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلۡنٰهُمۡ عَلٰى كَثِيۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيۡلًا

Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (Q.S. al-Isra':70)



Karamah insaniyah tersebut salah satunya tercermin dalam المیت تجھیز (pemulasaraan jenazah: memandikan, mengkafani, menshalati dan menguburkan) yang menjadi kewajiban fakultatif (كفایة فرض (yang tertuju kepada umat Islam untuk setiap mayit muslim. Pemulasaraan janazah (التجھیز (diatur di dalam syari'at dengan begitu baik dan sempurna yang benar-benar mencerminkan posisi manusia sebagai
makhluk terhormat.

Perlakuan terbaik terhadap jenazah kadang tidak dapat diwujudkan karena kendala tertentu, seperti soal memandikan jenazah pasien Covid-19, yang mana kalau dilakukan dengan standar normal diduga kuat dapat menimbulkan bahaya (ضرر (bagi yang hidup, terutama bagi yang melaksanakannya, yaitu penularan virus. Sementara menolak bahaya (الضرر دفع (merupakan salah satu tujuan syari'at
(الشریعة مقاصد .Oleh sebab itu, ketentuan tajhizul mayyit (pemulasaraan jenazah) pasien Covid-19 sebagai berikut:

Pertama, bahwa Covid-19 merupakan wabah (tho'un), karena itu orang yang meninggal akibat Covid-19 statusnya adalah syahid fil akhiroh. Sebab kedudukan syahadah (mati syahid) tidak hanya didapat oleh mereka yang gugur di medan perang. Mereka yang meninggal karena wabah penyakit (tho'un) juga dapat meraih kedudukan syahadah. Sebagaimana hadis dan keterangan berikut:



قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما تعدون الشهداء فيكم? قالوا : يا رسول الله,
من قتل في سبيل الله فهو شهيد. قال إن شهداء أمتي إذا لقليل! قالوا: فمن هم يا
رسول الله?قال من قتل في سبيل الله فهو شهيد, ومن مات في سبيل الله فهو شهيد,
ومن مات في الطاعون فهو شهيد, ومن مات في البطن فهو شهيد, والغريق شهيد
(رواه مسلم)
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
اَلَمۡ تَكُنۡ اٰيٰتِىۡ تُتۡلٰى عَلَيۡكُمۡ فَكُنۡتُمۡ بِهَا تُكَذِّبُوۡنَ‏
Bukankah ayat-ayat-Ku telah dibacakan kepadamu, tetapi kamu selalu mendustakannya?

(QS. Al-Mu’minun:105)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video