alexametrics

Saat Lockdown, Waktu Tepat untuk Uzlah dan Khalwat

loading...
Saat Lockdown, Waktu Tepat untuk Uzlah dan Khalwat
Saat Lockdown, Waktu Tepat untuk Uzlah dan Khalwat
WFH atau work from home yang kini menjadi keseharian masyarakat di tengah mewabahnya Covid-19 membuka kesempatan bagi kaum Muslimin untuk uzlah dan khalwat.

Secara harfiyah uzlah berarti “mengasingkan diri dari keramaian”. Sedangkan khalwat berarti “menyendiri”. Kata uzlah dan khalwat memiliki hubungan arti yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya.

Secara lebih luas, makna istilah ini adalah upaya menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan maksiat dan sibuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Atau bisa diartikan sebagai aktivitas menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan, dan segala hal yang tidak bermanfaat yang berlebihan.



Wabah corona yang mencekam memberi pesan bahwa Allah mengingatkan kita terhadap kematian yang merupakan fase historical necessity. Keniscayaan sejarah sebagaimana ziarah kubur juga diharapkan sebagai media pengingat kematian.

Kita hadapi corona dengan ikhtiar doa dan mahabbah cinta kepada Allah dan Kanjeng Nabi Muhammad Sallallah alaihi wa sallam (SAW). Kita jadikan corona sebagai trigger, pemantik untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas yang lain. Halawatal iman (manisnya iman) hanya bisa dirasakan dengan Cinta Allah dan Rasul-Nya.

Menjauhi Sifat-sifat Tidak Terpuji
Rasulullah pernah memberi contoh aktivitas uzlah dan khalwat di Gua Hira. Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kehidupan manusia adalah orang yang mampu memegang kerasnya (kendali) kuda di jalan Allah. Jika mendengar hal yang mengejutkan dan menakutkan, ia tetap di atas punggung kuda dengan pilihan mati atau terbunuh, atau orang yang mendapatkan harta rampasan perang yang bertempat tinggal di atas gunung atau di dasar lembah, yang senantiasa mengerjakan salat, memberi zakat, dan beribadah kepada Tuhan sampai kematian menjemputnya, yang tidak dimiliki oleh orang lain kecuali tetap dalam kebaikan.” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ada keharusan bagi seorang hamba Allah untuk melakukan uzlah agar dapat beribadah kepada Allah, berdzikir kepada-Nya, membaca ayat-ayat-Nya, melakukan muhasabah terhadap dirinya, berdoa kepada-Nya, meminta ampunan-Nya, menjauhi tindakan-tindakan yang jelek, dan sejenisnya.”

Banyak macam dan cara uzlah. Di antaranya ada yang sama sekali tidak membutuhkan bantuan orang lain. Yang demikian itu benar-benar menyendiri, tidak bercampur dengan orang lain kecuali ketika melakukan salat Jumat, salat berjamaah, salat Idul Fitri, salat Idul Adha, ibadah haji atau ketika menuntut ilmu atau kebutuhan-kebutuhan lainnya dalam kehidupan yang sifatnya sangat primer. Jika tidak karena kewajiban-kewajiban di atas, seperti kondisi saat lockdown karena covid-19, uzlah dilakukan hanya berkumpul dengan keluarga yang jumlahnya tidak banyak.

Uzlah amat baik dilakukan di rumah saja. Bisa di dalam kamar yang sepi. Meski uzlah dan khalwat sesungguhnya lebih baik berada di tengah-tengah masyarakat untuk menegakkan agama, memberi nasihat-nasihat keagamaan.

Dalam kondisi seperti ini orang yang mengerti agama hendaklah dia bergaul dengan masyarakat luas, di mana pergaulan membutuhkan kesabaran, keuletan, sikap yang lemah lembut, meskipun dalam hatinya ia tetap merasa menyendiri, yang jika diajak bicara ia jawab seperlunya, jika dikunjungi ia menghormat sepantasnya.

Uzlah dalam hati memang lebih sulit, sebab secara fisik ia tetap bergaul dengan orang banyak dan harus memperhatikan sikap umatnya. Jika mereka berpaling darinya, atau sebaliknya mereka simpati, maka ia harus tetap tegar. Jika umat mencerca, memaki, dan mengasingkan dirinya, maka ia harus bersabar, ia harus menganggap cercaan dan pujian sama, ia harus tetap ramah kepada siapa pun, baik yang menyakiti dirinya maupun yang memujinya.

Abulqashim Abd al-Karim Hawazin al-Qusyairi an-Naisaburi dalam Ar-Risalah menyatakan bahwa untuk dapat berkhlawat dengan tepat, seseorang muslim mesti mempunyai pengetahuan agama untuk memantapkan tauhidnya, supaya setan tidak menggoda dengan bisikan-bisikannya.

Dia juga harus mempunyai pengetahuan yang diperoleh dari syariah tentang kewajibannya, supaya segala urusannya berada di atas dasar yang kokoh. Karena sesungguhnya uzlah dan khalwat itu adalah menjauhi sifat-sifat yang tidak terpuji dan bertujuan mengubah sifat-sifat tersebut, bukan untuk menciptakan jarak yang sejauh-jauhnya dari sesuatu tempat.

Itulah sebabnya mengapa lahir pertanyaan, “Siapakah orang yang makrifat itu?” Jawabnya, “Orang yang selalu ada tetapi jauh, yakni selalu bersama dengan orang lain, tetapi hatinya jauh dari mereka.”

Artinya, bersama dengan sesama manusia secara lahiriah, dan berada jauh dari mereka secara batiniah karena hatinya terus berzikir kepada Allah SWT.

Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Pakailah bersama sesama manusia apa yang mereka pakai, dan makanlah apa yang mereka makan, tetapi berpisahlah dari mereka secara batiniyah.”

Dzun Nun al-Mishri mengatakan, “Saya tidak menemukan satu hal pun yang lebih baik yang dapat melahirkan keikhlasan selain uzlah.”

Menurut Al-Junaid, susahnya uzlah lebih mudah diatasi daripada kesenangan berada bersama orang lain.

Menurut Makhul asy-Syami, jika hidup bermasyarakat memperoleh kebaikan, uzlah pun memberikan keselamatan. Sedangkan menurut Yahya bin Mu’azd, menggabungkan keduanya merupakan cara yang terbaik bagi orang yang mencari kebenaran.

Jika karakteristik uzlah dan khalwat seperti yang telah diuraikan dipraktikkan, maka akan membuat dada menjadi lapang dan mengikis semua kesedihan. Dalam uzlah dan khalwat ada perenungan, muhasabah, penghayatan, tafakur dan tadabur akan kebesaran Allah SWT. Buah hikmahnya adalah hati akan menjadi tenang, pikiran akan menjadi jernih, batin akan menjadi tenteram dan jiwa akan menjadi sehat.

Uzlah dan khalwat sangat besar pengaruhnya bagi kesehatan jiwa. Sendiri dalam uzlah sangat kondusif bagi ketenangan jiwa. Yahya ibn Mu’adz menyatakan, “Keheningan adalah sahabat orang jujur.” Sedangkan Al-Junayd mengatakan, “Barangsiapa menginginkan agamanya sehat, raga serta jiwanya tenteram, lebih baik dia memisahkan diri dari orang banyak.”

Pada saat seseorang melakukan uzlah dan khalwat hatinya berada dalam kebahagiaan, ruh dan nuraninya berada dalam kegembiraan. Ahmad ibnu Khalil al-Hambali berkata, “Siapa menginginkan kemuliaan dan ketenangan dari kesedihan panjang melelahkan, ia harus menyendiri dan rela dengan yang sedikit.”

Ibnu al-Mubarak pernah ditanya, “Apakah obat hati yang sakit?” Dia menjawab, “Berjumpa dengan sesama manusia sejarang mungkin.” Dikatakan, “Apabila Allah hendak memindahkan hamba-Nya dari kehinaan kekafiran menuju kemuliaan ketaatan, Dia menjadikannya intim dengan kesendirian, kaya dalam kesederhanaan, dan mampu melihat kekurangan dirinya. Malik ibnu Mas’ud berkata, “Aku tidak menganggap bahwa seseorang yang bersama Tuhan itu kesepian.”

Seorang yang beruzlah dan berkhalwat harus bisa menyimpan ambisi, riya, amarah dan keinginan di dalam hatinya. Ia harus menganggap ibadahlah yang harus dinomorsatukan, tak ada yang lain yang harus didahulukan selain ibadah yang ikhlas. Sebab, ketika seseorang melakukan uzlah dengan benar, ia akan dapat menyelami makna-makna, menangkap butiran-butiran nilai, merenungkan tujuan hidup, dan membangun menara ide serta pemikiran yang jernih.

Al-Ghazal melakukan uzlah dan khalwat selama 11 tahun, dua tahun di antaranya di atas menara Masjid Agung Damaskus. Selama itu Al-Ghazali telah menghasilkan tulisan yang sangat banyak mengenai berbagai tema ilmu pengetahuan. Salah satunya adalah Ihya’ Ulum ad-Din, sebuah kitab yang sampai hari ini masih tetap dijadikan salah satu rujukan ilmu tasawuf.

Ahmad ibn Abdu Aziz al-Jurjani telah melukiskan mengenai kenikmatan yang dialami oleh batinnya ketika ia melakukan uzlah. Ia melantunkan bait syair:

Tak pernah kunikmati manisnya hidup hingga
teman dudukku rumah dan buku.
Tak ada yang lebih mulia daripada ilmu
karenanya aku mencarinya untuk teman akrab.

Para sufi yang lainnya membacakan barisan-barisan bait syair berikut:

Buku-buku di sekitarku
tidak meninggalkan tempat tidurku,
Karena di dalamnya terdapat obat
bagi sakit yang kusembunyikan.

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah menjelaskan tentang saat uzlah, yaitu apabila kamu melihat banyak orang yang mengingkari janji dan tidak dapat dipercaya dalam menyampaikan amanat, mereka juga teramat bakhil. Abdullah bin Umar berkata, “Pada saat seperti itu apa yang harus kami lakukan, ya Rasulullah?” Rasulullah Saw menjawab, “Dalam kondisi seperti itu hendaknya kamu tinggal di rumah, jangan banyak bicara, kerjakan apa yang kamu tahu, tinggalkan apa yang kamu tidak mengetahuinya, kerjakan perintah yang sifatnya khusus, dan tinggalkan perintah yang sifatnya umum.”

Kini waktunya menyempatkan diri untuk melakukan uzlah dan khalwat dari pergaulan yang tiada gunanya.

Lalu apa yang dilakukan saat khalwat? Tharîqah Qâdiriyah mengatur rata cara khalwat selama 40 hari. Mereka yang menjalankan khalwat, tidak berbicara kecuali dengan pembicaraan yang diridhai oleh Allâh. Selalu berpuasa dan sedikit makan. Sedikit tidur. Berzikir setiap tarikan nafas. Menghilangkan seluruh keinginan kecuali ridhanya Allâh SWT. Selalu bermuraqabah kepada Allâh. Menghilangkan kesibukan yang bisa menggagalkan khalwatnya. Membaca al-Qur’an.

Belajar dari Bagdad
Sejak abad 9 Hijriyah, awal mula ilmu tasawuf berdiri dan diikuti dengan menjamurnya kumpulan thariqoh, suasana Kota Bagdad sebagai pusat peradaban dan ilmu pengetahuan sedang jatuh dan kacau dengan perang. Bahkan berkembang penyakit yang tidak ada namanya.

Kala itu Kota Bagdad benar-benar menjadi kota mati karena maksiat dan kekacauan menyebar ke segala penjuru dunia. Dari situasi inilah ulama menggali ilmu untuk mensucikan jiwa manusia agar kembali sehat jasmani dan ruhani.

Kepanikan penduduk Kota Bagdad diselesaikan dengan tazkiyatun nufus lewat zikir dan riyadhoh yang mengekang hawa nafsu. Awal mulanya situasi kota yang rusak akhlaknya adalah musibah, namun kemudian menjadi berkah karena lahirlah ilmu tasawuf, lahir perkumpulan thariqah dan lahir buku -buku ilmiah tasawuf. Wallahu a'lam
(mhy)
cover top ayah
رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيًا يُّنَادِىۡ لِلۡاِيۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّكُمۡ فَاٰمَنَّا  ۖرَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَيِّاٰتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الۡاَبۡرَارِ‌ۚ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), “Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,” maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.

(QS. Ali 'Imran:193)
cover bottom ayah
preload video
KOMENTAR
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak