Wabah Covid-19 dalam Pandangan Kiyai Said Aqil Siroj

loading...
Wabah Covid-19 dalam Pandangan Kiyai Said Aqil Siroj
Wabah Covid-19 dalam Pandangan Kiyai Said Aqil Siroj
PANDEMI virus Corona atau Covid-19 merupakan ujian kemanusiaan. Virus ini mulanya muncul dari Wuhan, China dan merebak ke berbagai negara di kawasan Eropa, Amerika, Asia, termasuk Indonesia.

Kini, para tenaga medis dan ahli obat-obatan di seluruh dunia sedang berjuang keras untuk menemukan solusi, pencegahan, dan penghentian penyakit baru itu. Termasuk kaum agamawan juga tiada henti memohon kepada Tuhan agar ujian berat ini segera berakhir.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siroj mengemukakan, ilmuwan dan agamawan adalah dua golongan yang saling melengkapi. Golongan pertama beramal untuk memahami ciptaan Tuhan, dan yang terakhir beramal untuk mencari hubungan ciptaan dengan Sang Pencipta.

"Ilmuwan membahas kosmos yang paling besar hingga virus yang sangat kecil semacam Covid-19 ini. Agamawan membantu pikiran dan perasaan manusia yang halus-lembut untuk tetap terhubung dengan Dzat Maha Lembut (al-Halim) lagi Maha Halus (al-Lathif)," tutur Kiai Said dalam pandangan tertulisnya kepada SINDOnews, Senin (30/3/2020).



Menurutnya, perbedaan ilmuwan dan agamawan pun sedikit. Sebagian ilmuwan hanya fokus pada objek risetnya dan abai pada apa dibalik objeknya sebagai ciptaan. Sebagian lagi tidak saja fokus pada objek penelitiannya, melainkan juga beriman pada yang gaib di balik cara kerja semesta alam ini.

"Golongan terakhir ini disebut ilmuwan yang beriman. Dalam menangani virus Covid-19, ilmuwan beriman berikhtiar mencari vaksin sekaligus bertawakal pada Tuhan agar diberi keselamatan di luar daya upaya manusia sendiri," paparnya.

Dijelaskan Kiyai Said, agamawan dalam tataran manhajul fikr (metodologi berpikir), sejalan dengan ilmuwan beriman, hanya berbeda porsi pada urusan spesifikasi keahlian. Ilmuwan lebih dominan kajian sainstifiknya, agamawan lebih fokus pada detail dimensi ilahiah atau ketuhanannya. Covid-19 bagi agamawan harus dituntaskan dengan cara-cara ilmiah, melalui metode yang disarankan paramedis, tetapi ketakwaan dan keimanan pada Tuhan harus diperbanyak porsinya.



Persamaan manhajul fikr ilmuwan beriman dan agamawan ini berangkat dari keutuhan memandang hidup, wujud, being. Agamawan, khususnya kaum Sufi, memandang bahwa segala selain Allah tidak ada (non-eksistensi). Bila keyakinan ini dipegang teguh maka disebut fana’. Segala selain Allah adalah ciptaan Allah dan penampakan jejak-jejak kehendak dan kekuasaan Allah atau tajalliyat qudroh wa irodah ilahiah.
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ‌ؕ وَاِنۡ تُبۡدُوۡا مَا فِىۡۤ اَنۡفُسِكُمۡ اَوۡ تُخۡفُوۡهُ يُحَاسِبۡكُمۡ بِهِ اللّٰهُ‌ؕ فَيَـغۡفِرُ لِمَنۡ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنۡ يَّشَآءُ‌ ؕ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ قَدِيۡرٌ
Milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu sembunyikan, niscaya Allah memperhitungkannya (tentang perbuatan itu) bagimu. Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

(QS. Al-Baqarah:284)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video