Ramadan momentum redam konflik & perbaikan diri
Kamis, 11 Juli 2013 - 00:06 WIB
Ramadan momentum redam konflik & perbaikan diri
A
A
A
Sindonews.com - Ramadan menjadi momentum untuk membersihkan hati dari rasa amarah. Banyak pihak menilai, rasa amarah dapat menimbulkan konflik dan meregangkan rasa toleransi antar umat.
Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Aljufri mengatakan, saat bulan Ramadan datang, momentum umat Islam untuk berpuasa. Menurutnya, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga.
"Pahalanya hanya dahaga dan lapar, tentu tidak akan dapat apa-apa," tandasnya saat ditemui di Kantor Kemensos, Rabu (10/7/2013).
Menurut salim, puasa bukan hanya menahan hal tersebut, tetapi juga menahan emosi dan amarah. Semua anggota tubuh, kita diwajibkan untuk terlatih berpuasa selama sebulan. "Yang tadinya emosional, dapat menahan dan menjaga. Karena amarah tersebut yang membuat konflik di antara masyarakat," kata Salim.
Dalam momentum Ramadan, lanjut dia, puasa dapat melatih diri, jiwa dan raga. Selain itu, masalah semangat kesetiakawanan sosial dan semangat solidaritas, tolong-menolong dapat dieratkan kembali.
Menurut Mensos, dengan berpuasa umat muslim dapat merasakan para sodara yang miskin. Maka tidak heran banyak kegaiatan bakti sosial seperti buka bersama dan sahur. Maka, dengan berpuasa diharapkan dapat melatih dan mendidik setiap sodara semuslim untuk melakukan ibadah puasa dan memberikan semangat peduli dan berbagi.
Untuk itu, Mensos optimis setelah Ramadan, konflik akan menurun dalam segi komplikasi dan masalah di antara masyarakat. "Semoga selesai bulan Ramadan, dapat berakhir asalkan memang umat muslim melakukan ibadah puasa sebaik-baiknya," terangnya.
Menteri Sosial (Mensos) Salim Segaf Aljufri mengatakan, saat bulan Ramadan datang, momentum umat Islam untuk berpuasa. Menurutnya, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga.
"Pahalanya hanya dahaga dan lapar, tentu tidak akan dapat apa-apa," tandasnya saat ditemui di Kantor Kemensos, Rabu (10/7/2013).
Menurut salim, puasa bukan hanya menahan hal tersebut, tetapi juga menahan emosi dan amarah. Semua anggota tubuh, kita diwajibkan untuk terlatih berpuasa selama sebulan. "Yang tadinya emosional, dapat menahan dan menjaga. Karena amarah tersebut yang membuat konflik di antara masyarakat," kata Salim.
Dalam momentum Ramadan, lanjut dia, puasa dapat melatih diri, jiwa dan raga. Selain itu, masalah semangat kesetiakawanan sosial dan semangat solidaritas, tolong-menolong dapat dieratkan kembali.
Menurut Mensos, dengan berpuasa umat muslim dapat merasakan para sodara yang miskin. Maka tidak heran banyak kegaiatan bakti sosial seperti buka bersama dan sahur. Maka, dengan berpuasa diharapkan dapat melatih dan mendidik setiap sodara semuslim untuk melakukan ibadah puasa dan memberikan semangat peduli dan berbagi.
Untuk itu, Mensos optimis setelah Ramadan, konflik akan menurun dalam segi komplikasi dan masalah di antara masyarakat. "Semoga selesai bulan Ramadan, dapat berakhir asalkan memang umat muslim melakukan ibadah puasa sebaik-baiknya," terangnya.
(maf)
Lihat Juga :