Jalan Panjang Konstantinopel, Hagia Shophia, dan Muhammad Al-Fatih
Rabu, 15 Juli 2020 - 12:20 WIB
Penaklukan Konstantinopel menjadi kerinduan dan impian kaum Utsmani sejak berdirinya Dinasti mereka, Sultan Utsman, pendiri Dinasti, telah mewasiatkan penaklukan kota ini kepada sultan-sultan setelahnya. Tapi tidak ada satu sultan pun sesudah Utsman yang mampu mewujudkannya sampai masa Sultan Muhammad II yang merupakan anak dari sultan Murad II, sejak hari itu pula Muhammad II digelari al Fatih.
Dari sudut pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu setelah Sultan Salahuddin Al Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di Ain al Jalut melawan tentara Mongol).
Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga seleksi pemilihan tentaranya.
Sultan Muhammad al Fatih diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Aaq Syamsuddin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel.
Sultan al Fatih memulai persiapan penaklukan. Ia membangun benteng di daratan Eropa dekat selat Bosphorus yang menghadap sebuah benteng di daratan Asia yang dibangun Sultan Bayazid I, dengan demikian ia dapat mengawasi selat Bosphorus dan mencegah bantuan Kristen datang ke Konstantinopel.
Langkah selanjutnya yaitu melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya.
Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Byzantium di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer. Maka dijalinlah perjanjian dengan negara Galata yang berbatasan dengan Konstantinopel dari arah timur yang dipisahkan dengan Selat Tanduk Mas.
Sebagaimana ia juga menjalin perjanjian dengan negara Majd dan Venezia, dua negara yang berbatasan dengan negara-negara Eropa. Namun, negara-negara tersebut mengabaikan perjanjian, ketika serangan Sultan Al Fatih mulai beroperasi di Konstantinopel, pasukan negara-negara tersebut datang ke Konstantinopel, ikut membantu mempertahankan Konstantinopel.
Di bidang militer, Sultan al Fatih menyiapkan sebanyak 250 ribu tentara. Para tentara diberikan pelatihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah Saw terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.
Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad al Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M.
Di hadapan tentaranya, Sultan al Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT.
Dia juga membacakan ayat-ayat al Qur’an mengenainya serta hadis Nabi SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel.
Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT.
Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak dulu. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Byzantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Byzantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Tembok konstantinopel sungguh sulit untuk ditembus karena memiliki pertahanan yang kokoh, dari 20 km garis pertahan kota, 13 km diantaranya dibatasi oleh laut. Sebelah selatan kota dilindungi oleh laut marmara dengan ombak dan badai yang sering datang tak terduga, membuat kapal manapun sulit merapat.
Seluruh batas laut ini dijaga dengan sebaris tembok setinggi 15 meter dengan bersusun yang tak terputus dikuatkan dengan 188 menara setiap 70 meter.
Sebelah utara kota juga terdapat perairan yang tenang di Teluk Tanduk Emas yang berfungsi sebagai pelabuhan alami. Sedangkan garis pertahanan sepanjang 7 km di barat kota dilindungi oleh tembok tiga lapis, dikenal dengan tembok Theodosius yang terbentang dari Teluk Tanduk Emas sampai Laut Marmara.
Baca juga: Erdogan: Hagia Sophia Adalah Urusan Dalam Negeri Turki!
Bagian terdalam tembok yang bersentuhan langsung dengan kota disebut mega teichos atau tembok dalam. Bagian ini menjulang dengan tinggi 18-20 meter degan ketebalan 5 meter, di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7 meter.
Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan Laut Marmara pasukan laut Turki harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tidak bisa lewat.
Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tidak bisa ditembus, kalaupun runtuh membuat celah maka pasukan Konstantin langsung mempertahankan celah tersebut dan cepat menutupnya kembali.
Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal.
Baca juga: Paus Fransiskus Sangat Sedih Hagia Sophia Jadi Masjid Lagi
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosphorus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi.
Dari sudut pandang Islam, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang hebat, pilih tanding, dan tawadhu setelah Sultan Salahuddin Al Ayyubi (pahlawan Islam dalam perang Salib) dan Sultan Saifuddin Mahmud Al Qutuz (pahlawan Islam dalam peperangan di Ain al Jalut melawan tentara Mongol).
Kejayaannya dalam menaklukkan Konstantinopel menyebabkan banyak kawan dan lawan kagum dengan kepimpinannya serta taktik dan strategi peperangannya yang dikatakan mendahului pada zamannya dan juga seleksi pemilihan tentaranya.
Sultan Muhammad al Fatih diangkat menjadi Khalifah Utsmaniyah pada tanggal 5 Muharam 855 H bersamaan dengan 7 Febuari 1451 M. Ketika naik takhta, Sultan Muhammad segera menemui Syeikh Aaq Syamsuddin untuk menyiapkan bala tentara untuk penaklukan Konstantinopel.
Sultan al Fatih memulai persiapan penaklukan. Ia membangun benteng di daratan Eropa dekat selat Bosphorus yang menghadap sebuah benteng di daratan Asia yang dibangun Sultan Bayazid I, dengan demikian ia dapat mengawasi selat Bosphorus dan mencegah bantuan Kristen datang ke Konstantinopel.
Langkah selanjutnya yaitu melakukan kebijakan militer dan politik luar negeri yang strategis. Ia memperbarui perjanjian dan kesepakatan yang telah terjalin dengan negara-negara tetangga dan sekutu-sekutu militernya.
Pengaturan ulang perjanjian tersebut bertujuan menghilangkan pengaruh Kerajaan Byzantium di wilayah-wilayah tetangga Utsmaniah baik secara politis maupun militer. Maka dijalinlah perjanjian dengan negara Galata yang berbatasan dengan Konstantinopel dari arah timur yang dipisahkan dengan Selat Tanduk Mas.
Sebagaimana ia juga menjalin perjanjian dengan negara Majd dan Venezia, dua negara yang berbatasan dengan negara-negara Eropa. Namun, negara-negara tersebut mengabaikan perjanjian, ketika serangan Sultan Al Fatih mulai beroperasi di Konstantinopel, pasukan negara-negara tersebut datang ke Konstantinopel, ikut membantu mempertahankan Konstantinopel.
Di bidang militer, Sultan al Fatih menyiapkan sebanyak 250 ribu tentara. Para tentara diberikan pelatihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah Saw terkait pentingnya Konstantinopel bagi kejayaan Islam.
Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad al Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M.
Di hadapan tentaranya, Sultan al Fatih lebih dahulu berkhutbah mengingatkan tentang kelebihan jihad, kepentingan memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT.
Dia juga membacakan ayat-ayat al Qur’an mengenainya serta hadis Nabi SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel.
Ini semua memberikan semangat yang tinggi pada bala tentera dan lantas mereka menyambutnya dengan zikir, pujian dan doa kepada Allah SWT.
Pertahanan yang tangguh dari kerajaan besar Romawi ini terlihat sejak dulu. Sebelum musuh mencapai benteng mereka, Byzantium telah memagari laut mereka dengan rantai yang membentang di semenanjung Tanduk Emas. Tidak mungkin bisa menyentuh benteng Byzantium kecuali dengan melintasi rantai tersebut.
Tembok konstantinopel sungguh sulit untuk ditembus karena memiliki pertahanan yang kokoh, dari 20 km garis pertahan kota, 13 km diantaranya dibatasi oleh laut. Sebelah selatan kota dilindungi oleh laut marmara dengan ombak dan badai yang sering datang tak terduga, membuat kapal manapun sulit merapat.
Seluruh batas laut ini dijaga dengan sebaris tembok setinggi 15 meter dengan bersusun yang tak terputus dikuatkan dengan 188 menara setiap 70 meter.
Sebelah utara kota juga terdapat perairan yang tenang di Teluk Tanduk Emas yang berfungsi sebagai pelabuhan alami. Sedangkan garis pertahanan sepanjang 7 km di barat kota dilindungi oleh tembok tiga lapis, dikenal dengan tembok Theodosius yang terbentang dari Teluk Tanduk Emas sampai Laut Marmara.
Baca juga: Erdogan: Hagia Sophia Adalah Urusan Dalam Negeri Turki!
Bagian terdalam tembok yang bersentuhan langsung dengan kota disebut mega teichos atau tembok dalam. Bagian ini menjulang dengan tinggi 18-20 meter degan ketebalan 5 meter, di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7 meter.
Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan Laut Marmara pasukan laut Turki harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tidak bisa lewat.
Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tidak bisa ditembus, kalaupun runtuh membuat celah maka pasukan Konstantin langsung mempertahankan celah tersebut dan cepat menutupnya kembali.
Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal.
Baca juga: Paus Fransiskus Sangat Sedih Hagia Sophia Jadi Masjid Lagi
Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosphorus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi.
Lihat Juga :