Menyikapi Hagia Sofia dengan Bijak (1)

Rabu, 15 Juli 2020 - 13:45 WIB
Keindahan interior Hagia Sophia, tempat ibadah paling bersejarah di Istanbul, Turki, Jumat (10/7/2020). Foto/dok Reuters
Imam Shamsi Ali

Direktur/Imam Jamaica Muslim Center

Presiden Nusantara Foundation USA

Banyak di antara umat Islam begitu senang dan bahagia karena Hagia Sophia , sebuah gedung yang bersejarah dan telah bergonta ganti status, kembali akan mengalami perubahan status (konversi) baru di tahun 2020 ini.

Hagia Sophia adalah bekas sebuah gereja terbesar (Katedral) untuk umat Kristen Bizantium dari tahun 537-1055. Lalu dari 1054 hingga tahun 1204 diubah menjadi gereja Ortodoks Yunani. Pada tahun 1204-1261 gereja ini diambil alih oleh Agama Katolik Roma. Dari dari tahun 1261 hingga 1453 gereja ini kembali menjadi Katedral Kristen Ortodoks Yunani. ( Baca Juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )

Pada tahun 1453 Kota Konstantinopel jatuh ke tangan Ottoman Empira (Khilafah Utsmaniyah) di bawah komando Al-Fatih Sultan Mehmed II. Sejak itu gedung gereja ini diubah menjadi masjid yang lebih dikenal dengan nama Aaya Sophia mosque.

Belakangan dengan jatuhnya Ottoman Empira atau Khilafah Utsmaniyah menjadikan Turki terjatuh ke dalam kekuasaan Kemal Ataturk yang sekuler. Maka di bawah pemerintahannya Masjid Aaya Sophia kembali mengalami perubahan status dari sebuah masjid megah menjadi museum hingga Juli 2020 ini.

Di tahun-tahun terakhir inilah Turki kembali dipimpin oleh politisi-politisi yang sadar agama, termasuk Erdogan yang dianggap oleh sebagian Muslim sebagai simbol kepahlawanan umat terhadap berbagai ketidakadilan dunia.

Di bawah pemerintahan Erdogan kini gedung bersejarah ini akan kembali mengalami perubahan status. Konon kabarnya Pemerintahan Erdogan melalui proses di pengadilan memenangkan untuk mengubah Hagia Sophia dari sebuah musium menjadi masjid kembali seperti di zaman keemansan Khilafah Utsmaniyah.

Rencana itu tentunya mengundang ragam reaksi dunia. Umat Islam pastinya seperti yang diperkirakan (expectable) umumnya senang, bahagia dan memuji keputusan pemerintahan Erdogan itu. Sampai-sampai ada yang menyandingkan Erdogan dengan Al-Fatih, sang penakluk Konstantinopel.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!