Kisah Kegagalan Penaklukan Konstantinopel sebelum Al-Fatih

Kamis, 23 Februari 2023 - 15:41 WIB
Seluruh batas laut ini dijaga dengan sebaris tembok setinggi 15 meter dengan bersusun yang tak terputus dikuatkan dengan 188 menara setiap 70 meter.

Sebelah utara kota juga terdapat perairan yang tenang di Teluk Tanduk Emas yang berfungsi sebagai pelabuhan alami. Sedangkan garis pertahanan sepanjang 7 km di barat kota dilindungi oleh tembok tiga lapis, dikenal dengan tembok Theodosius yang terbentang dari Teluk Tanduk Emas sampai Laut Marmara.

Baca juga: Komandan yang Mualaf Ini Dukung Penuh Al-Fatih Taklukkan Konstantinopel

Bagian terdalam tembok yang bersentuhan langsung dengan kota disebut mega teichos atau tembok dalam. Bagian ini menjulang dengan tinggi 18-20 meter degan ketebalan 5 meter, di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7 meter.

Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan Laut Marmara pasukan laut Turki harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tidak bisa lewat.

Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tidak bisa ditembus, kalaupun runtuh membuat celah maka pasukan Konstantin langsung mempertahankan celah tersebut dan cepat menutupnya kembali.

Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal.

Akhirnya Sultan Muhammad menemukan ide yang ia anggap merupakan satu-satunya cara agar bisa melewati pagar tersebut. Ide ini mirip dengan yang dilakukan oleh para pangeran Kiev yang menyerang Bizantium di abad ke-10, para pangeran Kiev menarik kapalnya keluar Selat Bosphorus, mengelilingi Galata, dan meluncurkannya kembali di Tanduk Emas, akan tetapi pasukan mereka tetap dikalahkan oleh orang-orang Bizantium Romawi.

Sultan Muhammad melakukannya dengan cara yang lebih cerdik lagi, ia menggandeng 70 kapalnya melintasi Galata ke muara setelah meminyaki batang-batang kayu. Hal itu dilakukan dalam waktu yang sangat singkat, tidak sampai satu malam.

Di pagi hari, Bizantium kaget bukan kepalang, mereka sama sekali tidak mengira Sultan Muhammad dan pasukannya menyeberangkan kapal-kapal mereka lewat jalur darat. Tujuh puluh kapal laut diseberangkan lewat jalur darat yang masih ditumbuhi pohon-pohon besar, menebangi pohon-pohonnya dan menyeberangkan kapal-kapal dalam waktu satu malam adalah suatu kemustahilan menurut mereka, akan tetapi itulah yang terjadi.

Pasukan Utsmani dengan semangat yang tinggi terus menggempur kota Konstantinopel yang dipimpin langsung oleh sultan al Fatih. Sedang pasukan Byzantium melakukan perlawanan yang gagah berani.

Kaisar Byzantium berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan kota dan raknyatnya dengan berbagai cara. Kaisar mengajukan berbagai tawaran kepada Sultan agar menarik pasukannya dan sebagai gantinya akan menyetorkan upeti dan menyatakan ketaatan kepadanya. Namun Sultan al Fatih dengan tegas menolak tawaran tersebut dan meminta agar Kaisar menyerahkan kota Konstantinopel.

Jika dilakukan, maka sultan akan memberi jaminan bahwa tidak akan ada seorang penduduk dan satu gereja pun yang akan diganggu. Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau pilihan terakhir yaitu perang.

Constantine menjawab bahwa dia tetap akan mempertahankan kota dengan dibantu Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovani Giustiniani dari Genoa.

Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan.

Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tidak pernah ditemukan jasadnya.

Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoanya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.

Sultan Muhammad al Fatih melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Byzantium. Takbir terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan meruntuhkan langit kota itu.

Pada 27 Mei 1453, Sultan Muhammad al Fatih bersama tentaranya berusaha keras membersihkan diri di hadapan Allah SWT. Mereka memperbanyak sholat, doa, dan zikir. Hingga tepat jam 1 pagi hari Selasa 20 Jumadil Awal 857 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Mei 1453 M, serangan utama dilancarkan.

Para mujahidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimah tauhid sambil menyerang kota. Tentara Utsmaniyyah akhirnya berhasil menembus kota Konstantinopel melalui Pintu Edirne dan mereka mengibarkan bendera Daulah Utsmaniyyah di puncak kota.

Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara al Fatih, akhirnya berjaya mengantarkan cita-cita mereka.

Konstantinopel telah jatuh, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia (Aya Sofia), dan Sultan Muhammad al Fatih memberi perlindungan kepada semua penduduk, siapapun, baik Yahudi maupun Kristen karena mereka (penduduk) termasuk non muslim dzimmi (kafir yang harus dilindungi karena membayar pajak), mu’ahad (yang terikat perjanjian), dan musta’man (yang dilindungi seperti pedagang antar negara) bukan nonmuslim harbi (kafir yang harus diperangi).

Konstantinopel diubah namanya menjadi Islambul (Islam Keseluruhannya). Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!