Komandan yang Mualaf Ini Dukung Penuh Al-Fatih Taklukkan Konstantinopel
Minggu, 19 Juli 2020 - 08:05 WIB
loading...
Sultan Muhammad Al-Fatih dan pasukannya. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
SELAIN meminta nasehat para ulama dalam menjalankan misi penaklukan Konstantinopel , Sultan Muhammad Al-Fatih membentuk majelis syura. Dalam majelis ini siapa pun boleh mengeluarkan pendapat. Anggota majelis syura terdiri para komandan dan para ulama. (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
Sultan Muhammad Al-Fatih meminta mereka untuk mengeluarkan pendapat secara terus-terang dan tanpa ragu-ragu. Seperti pada hari itu, tatkala setiap serangan ke Konstantinopel tak juga membuahkan hasil maka rapat majelis syura pun digelar
Dalam rapat tersebut, sebagian di antara mereka menasehatinya untuk segera menarik pasukan. Nasehat ini terutama disampaikan Perdana Menteri Khalil Pasya dan para pendukungnya. (Baca juga: Hagia Sophia Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih )
Penarikan pasukan perlu dilakukan, menurut Khalil Pasya, agar tidak terjadi pertumpahan darah dan tidak menimbulkan kemarahan Nasrani-Eropa, jika kaum muslimin nantinya menguasai kota; serta alasan-alasan lain untuk membenarkan tindakan penarikan mundur.
Pendapat Khalil Pasha sudah bisa ditebak Sultan. Karena sudah berkali-kali penasehatnya itu bicara begitu. Maka tidak aneh, jika Khalil Pasha dicurigai membantu Byzantium dan berusaha menjatuhkan kaum muslimin. (Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah memaparkan sebagian yang hadir berusaha mendorong Sultan untuk melanjutkan serangan ke dalam kota dan menganggap remeh Eropa dan kekuatannya. Mereka juga mendorong agar kembali menggelorakan semangat tempur para mujahidin untuk menaklukkan kota itu. (Baca juga: Guru Spiritual di Balik Sukses Penaklukan Konstantinopel ).
Dalam pandangan mereka, mundur berarti akan menghancurkan semangat jihad para mujahidin Islam Turki Utsmani. Di antara orang yang berpendapat demikian, adalah seorang komandan yang sangat pemberani bernama Zughanusy Pasya. Dia seorang mualaf. Semula ia Nasrani dari Albania, lalu masuk Islam. Dengan terang-terangan dia menganggap lemah kekuatan Eropa di hadapan Sultan.
Baca juga: Jalan Panjang Konstantinopel, Hagia Shophia, dan Muhammad Al-Fatih
Buku-buku sejarah menyebutkan tentang sikap Zughanusy Pasya ini. Tatkala Sultan menanyakan sikap dan pandangannya, dia melompat dari duduknya dan bersuara lantang dengan menggunakan bahasa Turki yang sedikit gagap. “Tidak! Sekali lagi tidak, wahai Sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang ke sini tidak ada tujuan lain, kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali,” ucap Zughanusy Pasya berapi-api.
Ucapan lantang ini menimbulkan pengaruh besar di dada hadirin. Dan untuk sementara tempat itu menjadi senyap. (Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan )
Kemudian Zughanusy Pasya melanjutkan perkataannya, “Sesungguhnya di balik ucapan Khalil Pasya, terdapat keinginan untuk memadamkan semangat yang ada di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali putus-asa dan kerugian. Sesungguhnya tentara Alexander Agung yang berangkat dari Yunani ke India, lalu dia menguasai separuh Benua Asia yang luas, jumlah mereka tidak lebih besar dari jumlah tentara kita. Jika pasukan mereka mampu menguasai negeri-negeri yang luas itu, apakah tentara kita tidak akan mampu untuk melintasi tumpukan batu-batu yang bersusun-susun itu?”
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Zughanusy Pasya menarik nafas panjang lalu matanya menyapu ke semua yang hadir. “Khalil Pasya telah mengatakan pada kita, bahwa negara-negara Barat akan datang pada kita untuk membalas dendam,” kata Zughanusy Pasya. “Lalu siapa yang dia maksud dengan negara-negara Barat itu? Apakah yang dia maksud, negara-negara Latin yang kini sedang dilanda permusuhan internal, atau negara-negara di Laut Tengah yang tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya merampok dan mencuri?” lanjutnya dengan suara meninggi. (Baca juga: Ahli Virus itu Guru Spiritual Sultan Muhammad Al-Fatih )
Sultan Muhammad Al-Fatih meminta mereka untuk mengeluarkan pendapat secara terus-terang dan tanpa ragu-ragu. Seperti pada hari itu, tatkala setiap serangan ke Konstantinopel tak juga membuahkan hasil maka rapat majelis syura pun digelar
Dalam rapat tersebut, sebagian di antara mereka menasehatinya untuk segera menarik pasukan. Nasehat ini terutama disampaikan Perdana Menteri Khalil Pasya dan para pendukungnya. (Baca juga: Hagia Sophia Saksi Tingginya Akhlak Sultan Muhammad Al-Fatih )
Penarikan pasukan perlu dilakukan, menurut Khalil Pasya, agar tidak terjadi pertumpahan darah dan tidak menimbulkan kemarahan Nasrani-Eropa, jika kaum muslimin nantinya menguasai kota; serta alasan-alasan lain untuk membenarkan tindakan penarikan mundur.
Pendapat Khalil Pasha sudah bisa ditebak Sultan. Karena sudah berkali-kali penasehatnya itu bicara begitu. Maka tidak aneh, jika Khalil Pasha dicurigai membantu Byzantium dan berusaha menjatuhkan kaum muslimin. (Baca juga: Hagia Sophia, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah )
Prof Dr Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah memaparkan sebagian yang hadir berusaha mendorong Sultan untuk melanjutkan serangan ke dalam kota dan menganggap remeh Eropa dan kekuatannya. Mereka juga mendorong agar kembali menggelorakan semangat tempur para mujahidin untuk menaklukkan kota itu. (Baca juga: Guru Spiritual di Balik Sukses Penaklukan Konstantinopel ).
Dalam pandangan mereka, mundur berarti akan menghancurkan semangat jihad para mujahidin Islam Turki Utsmani. Di antara orang yang berpendapat demikian, adalah seorang komandan yang sangat pemberani bernama Zughanusy Pasya. Dia seorang mualaf. Semula ia Nasrani dari Albania, lalu masuk Islam. Dengan terang-terangan dia menganggap lemah kekuatan Eropa di hadapan Sultan.
Baca juga: Jalan Panjang Konstantinopel, Hagia Shophia, dan Muhammad Al-Fatih
Buku-buku sejarah menyebutkan tentang sikap Zughanusy Pasya ini. Tatkala Sultan menanyakan sikap dan pandangannya, dia melompat dari duduknya dan bersuara lantang dengan menggunakan bahasa Turki yang sedikit gagap. “Tidak! Sekali lagi tidak, wahai Sultan! Saya tidak akan menerima apa yang dikatakan oleh Khalil Pasya. Kami datang ke sini tidak ada tujuan lain, kecuali untuk mati dan bukan untuk pulang kembali,” ucap Zughanusy Pasya berapi-api.
Ucapan lantang ini menimbulkan pengaruh besar di dada hadirin. Dan untuk sementara tempat itu menjadi senyap. (Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan )
Kemudian Zughanusy Pasya melanjutkan perkataannya, “Sesungguhnya di balik ucapan Khalil Pasya, terdapat keinginan untuk memadamkan semangat yang ada di dalam dada kalian, membunuh keberanian dan tekad kalian. Namun dia tidak akan pernah mendapatkan apa-apa, kecuali putus-asa dan kerugian. Sesungguhnya tentara Alexander Agung yang berangkat dari Yunani ke India, lalu dia menguasai separuh Benua Asia yang luas, jumlah mereka tidak lebih besar dari jumlah tentara kita. Jika pasukan mereka mampu menguasai negeri-negeri yang luas itu, apakah tentara kita tidak akan mampu untuk melintasi tumpukan batu-batu yang bersusun-susun itu?”
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Zughanusy Pasya menarik nafas panjang lalu matanya menyapu ke semua yang hadir. “Khalil Pasya telah mengatakan pada kita, bahwa negara-negara Barat akan datang pada kita untuk membalas dendam,” kata Zughanusy Pasya. “Lalu siapa yang dia maksud dengan negara-negara Barat itu? Apakah yang dia maksud, negara-negara Latin yang kini sedang dilanda permusuhan internal, atau negara-negara di Laut Tengah yang tidak mampu berbuat apa-apa selain hanya merampok dan mencuri?” lanjutnya dengan suara meninggi. (Baca juga: Ahli Virus itu Guru Spiritual Sultan Muhammad Al-Fatih )
Lihat Juga :