Memaknai Keberkahan Ramadan (6): Kemuliaan Seseorang Ditentukan Nilai Spiritualitasnya

Jum'at, 31 Maret 2023 - 22:34 WIB
Bahkan keluar masuk WC sekalipun semuanya memiliki nilai-nilai ruhiyah karena bersentuhan langsung dengan nilai-nilai samawi (ruhiyah). Meminta perlindungan dari setan "Allahumma inni a'uzdu bika minal khubutsi wal khabaaits."

Apalagi aspek ritual agama ini. Dari sholat, puasa, haji dan ragam bentuk ibadah ritual, semuanya secara mendasar dimaksudkan untuk menumbuh suburkan nilai-nilai ruhiyah manusia. Karena pada semua amalan itu dzikrullah yang menjadi esensi dasarnya.

Sholat yang kosong dari dzikir (mengingat Allah) dikategorikan oleh Al-Qur'an sebagai sholat kemunafikan (laa yadzjuruna Allah illa qalila). Bahkan terancam dengan neraka wael.

Puasa secara khusus penuh dengan nilai-nilai spiritualitas (ruhiyah). Makan sahur itu bukan sekedar makan pagi. Tapi sebuah amalan ibadah yang padanya dijanjikan barokah.

"Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu ada barokah." (Al-Hadits)

Barokah itu adalah nilai tambah karena bersentuhan langsung dengan Allah (Tabaraka). Sehingga dengan sendirinya merupakan penguatan ruh yang memang langsung dari Allah (ruhina).

Singkatnya semua amalan yang terjadi di bulan Ramadan, sholat-sholat sunnah, baca Al-Qur'an, Tarawih dan qiyaam, hingga kepada sadaqah dan bahkan tidur sekalipun bernilai spiritualitas.

Puasa diakhiri dengan berbuka puasa (iftar). Sebuah amalan yang bukan sekedar makan malam seperti biasanya. Tapi semua amalan yang sarat dengan nilai ruhiyah.

Karenanya doa berbuka dikaitkan langsung dengan ikatan Ilahi: "Untuk Engkau Aku berpuasa, kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu juga aku berbuka puasa. Maka terimalah dariku. Sunnguh Engkau Maha mendengar lagi Maha melihat."

Karenanya bulan Ramadan ini harus menjadi momentum yang baik dalam membangun kehidupan ruhiyah yang solid. Kerapuhan nilai-nilai spiritualitas menjadikan manusia terombang-ambing dalam pergerakan gelombang dunia yang tiada akhir.

Kehidupan materialistis, konsumeris dan hedonistis yang terbangun di atas paham kapitalisme menjadikan manusia semakin rakus dan kehilangan nuraninya.

Akibatnya dalam dunia yang kerap kali diakui sebagai dunia modern, manusia yang seharusnya lebih beradab (civilized), justeru seringkali berkarakter biadab. Bahkan lebih biadab dari hewan.

"Mereka bagaikan hewan. Bahkan lebih sesat dari hewan." (Al-Qur'an)

Semoga puasa kita menumbuh suburkan hati dan ruh kita sehingga dorongan dunia yang dahsyat ini mampu terimbangi. Dengan ajaran keseimbangan antara nilai-nilai fisikal dan ruhiyah inilah yang menjadikan Islam sangat unik dalam karakternya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!