Memaknai Keberkahan Ramadan (15): Puasa Menumbuhkan Rasa Syukur
Senin, 17 April 2023 - 01:39 WIB
Inilah salah satu penyakit besar yang dihadapi oleh umat manusia masa kini. Dalam Al-Qur'an, ada dua penyakit utama yang disebutkan. Yaitu kesedihan (hazanun) dan kekhawatiran (khaufun). Kedua penyakit ini lebih dikenal dengan penyakit mental (mental sickness) yang saat merongrong dunia modern dengan segala kehebatan dan kemajuannya.
Di sinilah letak keberkahan puasa, menghadirkan atau membangun rasa syukur atas segala karunia yang Allah karuniakan kepada manusia. Dengan puasa kita disadarkan bahwa dunia (materi) bukan segalanya dalam kehidupan ini. Kita kesampingkan sementara makanan, minuman, dan ragam kenikmatan duniawi untuk menemukan kembali esensi kehidupan dan kemanusiaan kita.
Ketika kita mampu membangun kesadaran bahwa dunia (materi) bukan segalanya maka kita tidak perlu mengalami kesedihan dan/atau kekhawatiran berlebihan atas segala hiruk pikuk pergerakan duniawi ini. Tidak perlu kehilangan pijakan di bumi karena sedang upper hand (baik-baik saja). Sebaliknya tidak perlu merasa seolah dunia telah berakhir ketika sedang di lower hand (di bawah).
Hidup berubah naik turun. Kadang putih-kadang hitam. Kadang menyenangkan, kadang pula menantang, bahkan ke level yang sangat sulit. Tapi satu hal yang pasti bagi orang yang sadar syukur adalah hitam atau putihnya kehidupan itu hanya pergerakan yang Allah sunnahkan. Dan pada kedua keadaan dalam kacamata batin atau iman adalah baik dan membawa keberkahan. Insya Allah!
(Bersambung)!
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (14): Puasa Tumbuhkan Rasa Kasih Sayang dan Solidaritas
Di sinilah letak keberkahan puasa, menghadirkan atau membangun rasa syukur atas segala karunia yang Allah karuniakan kepada manusia. Dengan puasa kita disadarkan bahwa dunia (materi) bukan segalanya dalam kehidupan ini. Kita kesampingkan sementara makanan, minuman, dan ragam kenikmatan duniawi untuk menemukan kembali esensi kehidupan dan kemanusiaan kita.
Ketika kita mampu membangun kesadaran bahwa dunia (materi) bukan segalanya maka kita tidak perlu mengalami kesedihan dan/atau kekhawatiran berlebihan atas segala hiruk pikuk pergerakan duniawi ini. Tidak perlu kehilangan pijakan di bumi karena sedang upper hand (baik-baik saja). Sebaliknya tidak perlu merasa seolah dunia telah berakhir ketika sedang di lower hand (di bawah).
Hidup berubah naik turun. Kadang putih-kadang hitam. Kadang menyenangkan, kadang pula menantang, bahkan ke level yang sangat sulit. Tapi satu hal yang pasti bagi orang yang sadar syukur adalah hitam atau putihnya kehidupan itu hanya pergerakan yang Allah sunnahkan. Dan pada kedua keadaan dalam kacamata batin atau iman adalah baik dan membawa keberkahan. Insya Allah!
(Bersambung)!
Baca Juga: Memaknai Keberkahan Ramadan (14): Puasa Tumbuhkan Rasa Kasih Sayang dan Solidaritas
(rhs)
Lihat Juga :