Memaknai keberkahan Ramadan (24) : Mengajarkan Nilai Kesyukuran
Selasa, 25 April 2023 - 08:57 WIB
Imam Shamsi Ali Foto : Dok Nusantara Foundation
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation
Syukur merupakan satu dari dua sayap utama, selain sabar, untuk terbang menjelajahi angkasa luas kehidupan manusia. Sebuah kata yang mungkin sederhana dan populer. Bahkan menjadi sesuatu yang terasa ordinary (biasa-biasa saja) di telinga kita.
Semua orang punya ekspresi syukur masing-masing. Orang Indonesia dengan “terima kasih”. Pakistan dengan “syukriyah”. Orang Inggris dengan “thank you”. Orang Spanyo dengan “Gracias”. Orang Prancis dengan “mercy”. Dan orang Arab dengan “syukran”. Demikian seterusnya.
Walaupun semua kata itu memilki konotasi makna yang sama, masing-masing kata pada bahasa yang berbeda-beda itu memiliki keunikan dan kedalaman makna. Yang pasti bersyukur adalah satu nilai karakter mulia pada semua manusia.
Di antara beberapa hal yang saya pelajari dari bangsa Amerika adalah kemuliaan karakter kemanusiaan (human character). Dua diantaranya yang paling dominan.
Satu, sifat orang Amerika yang mudah berterima kasih dan mengapresiasi kebaikan orang lain. Kata-kata “thank you” atau “appreciated” pasti terdengarkan ketika seseorang menerima kebaikan dari orang lain.
Dua, mudahnya orang Amerika meminta maaf jika merasa bersalah. Kata-kata “excuse me”, “pardon me” atau “I am sorry” bukan sesuatu yang berat, bahkan dari seorang bos sekalipun dari sebuah institusi. Walaupun secara bangsa (as a nation) Amerika punya arogansi (atau mungkin keakuan) yang tinggi. Tidak pernah hingga saat ini kita dengarkan Amerika sebaga negara minta maaf ke negara-negara yang telah diporak porandakan seperti Irak.
Jika kembali kepada ajaran agama ini, sesungguhnya syukur menjadi sangat mendasar. Ringkasnya segala aspek ‘ubudiyah dalam agama ini pada esensinya dimaksudkan sebagai bentuk kesyukuran. Ketika isteri bertanya tentang kesungguhan beliau dalam beribadah: “untuk apa engkau lakukan semua itu ya Rasulullah?”. Beliau dengan penuh ketawadhuan menjawab: “tidakkah saya seharusnya menjadi seorang hamba yang bersyukur?”.
Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation
Syukur merupakan satu dari dua sayap utama, selain sabar, untuk terbang menjelajahi angkasa luas kehidupan manusia. Sebuah kata yang mungkin sederhana dan populer. Bahkan menjadi sesuatu yang terasa ordinary (biasa-biasa saja) di telinga kita.
Semua orang punya ekspresi syukur masing-masing. Orang Indonesia dengan “terima kasih”. Pakistan dengan “syukriyah”. Orang Inggris dengan “thank you”. Orang Spanyo dengan “Gracias”. Orang Prancis dengan “mercy”. Dan orang Arab dengan “syukran”. Demikian seterusnya.
Walaupun semua kata itu memilki konotasi makna yang sama, masing-masing kata pada bahasa yang berbeda-beda itu memiliki keunikan dan kedalaman makna. Yang pasti bersyukur adalah satu nilai karakter mulia pada semua manusia.
Di antara beberapa hal yang saya pelajari dari bangsa Amerika adalah kemuliaan karakter kemanusiaan (human character). Dua diantaranya yang paling dominan.
Satu, sifat orang Amerika yang mudah berterima kasih dan mengapresiasi kebaikan orang lain. Kata-kata “thank you” atau “appreciated” pasti terdengarkan ketika seseorang menerima kebaikan dari orang lain.
Dua, mudahnya orang Amerika meminta maaf jika merasa bersalah. Kata-kata “excuse me”, “pardon me” atau “I am sorry” bukan sesuatu yang berat, bahkan dari seorang bos sekalipun dari sebuah institusi. Walaupun secara bangsa (as a nation) Amerika punya arogansi (atau mungkin keakuan) yang tinggi. Tidak pernah hingga saat ini kita dengarkan Amerika sebaga negara minta maaf ke negara-negara yang telah diporak porandakan seperti Irak.
Jika kembali kepada ajaran agama ini, sesungguhnya syukur menjadi sangat mendasar. Ringkasnya segala aspek ‘ubudiyah dalam agama ini pada esensinya dimaksudkan sebagai bentuk kesyukuran. Ketika isteri bertanya tentang kesungguhan beliau dalam beribadah: “untuk apa engkau lakukan semua itu ya Rasulullah?”. Beliau dengan penuh ketawadhuan menjawab: “tidakkah saya seharusnya menjadi seorang hamba yang bersyukur?”.
Lihat Juga :