Memaknai Keberkahan Ramadan (27): Puasa Mengajarkan Kita untuk Berserah Diri
Sabtu, 29 April 2023 - 13:55 WIB
Imam Shamsi Ali, Dai yang juga Direktur Jamaica Muslim Center dan Presiden Nusantara Foundation. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali
Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation
Manusia dengan segala potensi yang Allah karuniakan kepadanya memiliki keterbatasan dalam segala hal. Manusia memiliki potensi di atas semua makhluk yang lain, baik potensi kebaikan maupun potensi hewani. Manusia bisa lebih mulia dari Malaikat. Tapi bisa juga lebih jahat dari hewan.
Poinnya adalah sehebat apapun, sepintar apapun, sekuat apapun, dan sekuasa apapun, manusia terbatas pada semua kelebihan-kelebihan yang Allah karuniakan itu. Sejarah mencatat Fir'aun sebagai seseorang dengan kekuasaan yang dahsyat. Tapi pada akhirnya naif menolong diri sendiri dari serangan gelombang air laut yang lebih dahsyat. Qarun yang kaya raya tapi tak mampu menyuap serangan alam yang menenggelamkannya.
Sejarah mencatat orang-orang yang kuat dan hebat, di masa silam dan juga dalam waktu yang belum terlalu lama. Selain Fir'aun yang disebutkan di atas, juga pernah ada penguasa lain seperti Namrud yang dimatikan oleh seekor nyamuk. Atau penguasa-penguasa abad ini yang belum lama menjadi tanda-tanda bagi mereka yang berakal.
Ada Saddam Husaen, Muammar Qaddafi, juga Husni Mubarak dan lain-lain. Semua adalah penguasa-penguasa yang hebat dan kuat. Tapi tumbang pada masanya sebagai pertanda keterbatasan dalam kekuasaan mereka.
Sebenarnya yang ingin saya garis bawahi adalah keterbatasan dan kelemahan manusia. Di saat situasi memaksanya, mau atau tidak, mencari pegangan yang tiada lemah dan tiada batas (al-urwatul al-Wutsqo). Dan sering kali kesadaran akan pegangan yang tiada lemah dan tiada batas ini hanya terjadi ketika manusia mengalami masa-masa yang menghimpit tadi. Seolah semua telah tertutup. Semua telah selesai dan berakhir.
Di saat-saat seperti itulah manusia (kita semua) disadarkan akan Dia Yang Maha Kuat dan tiada batas. Dia Yang Mencipta, memilki, menguasai dan mengatur segala hal yang eksis (maujud) di semua alam. Baik alam lahir maupun alam batin.
Kesadaran akan Dia yang Maha kuat dan tiada batas itu menjadikan manusia tersadarkan akan keterbatasannya dan tertuntut untuk bergantung dan memohon kepada-Nya. Esensi dari keimananan sebenarnya ada pada hal ini. Berserah diri secara penuh, bergantung kepadaNya (bertawakkal) dan sekaligus menyampaikan harapan (doa) hanya kepada-Nya.
Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation
Manusia dengan segala potensi yang Allah karuniakan kepadanya memiliki keterbatasan dalam segala hal. Manusia memiliki potensi di atas semua makhluk yang lain, baik potensi kebaikan maupun potensi hewani. Manusia bisa lebih mulia dari Malaikat. Tapi bisa juga lebih jahat dari hewan.
Poinnya adalah sehebat apapun, sepintar apapun, sekuat apapun, dan sekuasa apapun, manusia terbatas pada semua kelebihan-kelebihan yang Allah karuniakan itu. Sejarah mencatat Fir'aun sebagai seseorang dengan kekuasaan yang dahsyat. Tapi pada akhirnya naif menolong diri sendiri dari serangan gelombang air laut yang lebih dahsyat. Qarun yang kaya raya tapi tak mampu menyuap serangan alam yang menenggelamkannya.
Sejarah mencatat orang-orang yang kuat dan hebat, di masa silam dan juga dalam waktu yang belum terlalu lama. Selain Fir'aun yang disebutkan di atas, juga pernah ada penguasa lain seperti Namrud yang dimatikan oleh seekor nyamuk. Atau penguasa-penguasa abad ini yang belum lama menjadi tanda-tanda bagi mereka yang berakal.
Ada Saddam Husaen, Muammar Qaddafi, juga Husni Mubarak dan lain-lain. Semua adalah penguasa-penguasa yang hebat dan kuat. Tapi tumbang pada masanya sebagai pertanda keterbatasan dalam kekuasaan mereka.
Sebenarnya yang ingin saya garis bawahi adalah keterbatasan dan kelemahan manusia. Di saat situasi memaksanya, mau atau tidak, mencari pegangan yang tiada lemah dan tiada batas (al-urwatul al-Wutsqo). Dan sering kali kesadaran akan pegangan yang tiada lemah dan tiada batas ini hanya terjadi ketika manusia mengalami masa-masa yang menghimpit tadi. Seolah semua telah tertutup. Semua telah selesai dan berakhir.
Di saat-saat seperti itulah manusia (kita semua) disadarkan akan Dia Yang Maha Kuat dan tiada batas. Dia Yang Mencipta, memilki, menguasai dan mengatur segala hal yang eksis (maujud) di semua alam. Baik alam lahir maupun alam batin.
Kesadaran akan Dia yang Maha kuat dan tiada batas itu menjadikan manusia tersadarkan akan keterbatasannya dan tertuntut untuk bergantung dan memohon kepada-Nya. Esensi dari keimananan sebenarnya ada pada hal ini. Berserah diri secara penuh, bergantung kepadaNya (bertawakkal) dan sekaligus menyampaikan harapan (doa) hanya kepada-Nya.
Lihat Juga :