Salat di Hotel Lebih Utama Bagi Jemaah Haji Lansia daripada Masjidil Haram, Ini Hukumnya

Senin, 29 Mei 2023 - 12:24 WIB
Ketika Rasulullah Saw melaksanakan haji wada’, dan saat tiba di Mekkah, setelah selesai tawaf dan sa’i, Nabi menunggu haji dengan tinggal di Abthah. Selama di Abthah, Rasulullah tidak pernah ke Ka’bah hingga selesai wukuf di Arafah.

Perbuatan Nabi ini dijadikan dasar oleh para ulama bahwa seluruh tanah haram Mekkah memiliki keutamaan sebanding dengan Masjidil Haram. Nabi selama di Mekkah tinggal di Hujun atau Abthah berdasarkan hadits yang artinya sebagai berikut:

“…Kemudian beliau tinggal di bagian atas Mekkah pada al-Hajun, sementara beliau telah berihram haji. Beliau tidak pernah mendekati Ka’bah selesai tawaf hingga kembali dari Arafah.…” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, hlm. 186, nomor hadis 1545).

Nabi tinggal di Abthah sebelum haji selama empat hari yaitu pada Minggu, Senin, Selasa dan Rabu. Pada hari Kamis, beliau meninggalkan Mekkah menuju Arafah dengan terlebih dulu singgah di Mina. Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu ‘Abbas ra. yang artinya sebagai berikut;

“Dari Ibnu Abbas Ra berkata: Sesungguhnya Rasulullah Saw singgah di Abthoh, di dekat Mekkah bermukim bersama para sahabat selama empat hari; Ahad, Senin, Selasa dan Rabu.” (Lihat Fakhruddin az-Zubair bin, Ali al-Muhsi, Syarh Manasik al-Hajj wa al-‘Umrah lil al-Banin, h. 343).

Setelah selesai haji, Nabi pun tidak tinggal di Mekkah. Ketika beliau telah menyelesaikan mabit di Mina pada hari tasyriq ke tiga (nafar tsani), Nabi menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf wada’ dan setelah itu beliau langsung berangkat bersama rombongan kembali ke Madinah.

Mengapa Jemaah Haji Lansia Lebih Baik Salat di Hotel?

Berdasar keterangan bahwa seluruh tanah haram Mekkah adalah Masjidil Haram, maka salat di pondokan, di hotel atau di masjid sekitar pondokan, keutamaannya sama dengan salat di Masjidil Haram.

Ini berarti, Jemaah haji lansia yang selalu berada di hotel dan tidak sempat salat di Masjidil Haram karena udzur juga masih mendapat keutamaan mengikuti sunnah Rasul di mana selama menunggu haji beliau tidak pernah mendekati Ka’bah.

Selain mengikuti Nabi, juga senada dengan kaidah fikih “Dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil masholih” (mencegah kerusakan lebih utama daripada meraih kebaikan). Dalam kasus jemaah lansia, menghindari risiko fisik jauh lebih diutamakan daripada keinginan mengejar pahala berlipat di Masjidil Haram. Apalagi pahala yang diperoleh juga sama. Inilah yang menjadi alasan mengapa salat di hotel bagi jemaah lansia lebih utama.

Pada musim haji, Masjidil Haram sangat padat. Jemaah sulit mendapatkan tempat duduk dan jaraknya jauh, sehingga menguras tenaga dan melelahkan. Belum lagi tata ruang masjid yang sulit dikenali, sehingga memungkinkan jemaah untuk kesasar. Hal ini sangat berisiko bagi jemaah haji lansia, lemah, dan risiko tinggi.

Baca juga: Haji 2023, Ini Doa Masuk Masjidilharam Makkah Lengkap Arab dan Latin
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!