10 Karakteristik Kepemimpinan Nabi Ibrahim yang Layak Diteladani

Sabtu, 08 Juli 2023 - 19:48 WIB
2. Kepemimpinan Ibrahim Berbasis Kepintaran

Terminologi yang sering kita dengarkan adalah fathonah. Ketajaman akal atau kepintaran menjadi karakter dasar kepemimpinan Ibrahim. Hal ini tersimpulkan dari beberapa hal. Satu di antaranya adalah bagaimana proses Nabi Ibrahim dalam menemukan ketauhidan. Dari bintang-bintang, bulan, hingga matahari, disangakanya sebagai tuhan. Namun dengan ketajaman akal itu pulalah beliau menemukan “ketauhidan” yang sejati.

3. Berkarakter Skill Komunikasi yang Mumpuni

Bahwa Nabi Ibrahim mampu mengkomunikasikan ide/pemikirannya secara baik dan efektif. Hal ini tersimpulkan dari kelihaian dan kehebatan Ibrahim dalam merespon dan mengkomunikasikan kebenaran Tauhid kepada sang raja Namrud yang angkuh itu. Bagaimana soliditas komunikasi dan diplomasi yang dimiliki Ibrahim menjadikan sang raja terdiam (fabuhita), gagal merespon poin-poin yang disampaikan Nabi Ibrahim.

4. Ditempa Melalui Proses Panjang

Kepemimpinan Nabi Ibrahim bukan kepemimpinan karbitan. Bukan juga kepemimpinan mumpung. Tidak dikarbitkan oleh kepentingan dan duit. Apalagi karena hanya karena kesempatan dalam kesempitan alias mumpung. Tapi ditempa penuh dengan pelatihan-pelatihan yang dahsyat.

Hal di atas disimpukan dari rentetang ujian (cobaan) yang ditimpakan kepada Nabi Ibrahim. Dari upaya asasinasi dengan dibakar hidup-hidup, hingga ujian memotong anak satu-satunya yang dia cintai. Semua itu menjadi tangga menuju kepada kepemimpinan yang dijanjikan (ja'iluka linnaas imaama).

5. Kepemimpinan dengan Fondasi Keyakinan yang Tinggi

Keyakinan tinggi ini yang lazim dikenal dengan self confidence (percaya diri). Self confidence bukan sikap superman. Tapi kuat dengan iman kepada Allah. Hal ini terintisarikan dari peristiwa upaya pembakaran yang dilakukan oleh sang raja. Ibrahim memiliki yang keyakinan kokoh bahwa yang dapat menolong hanyalah Allah SWT. Dia bahkan menolak tawaran pertolongan para malaikat. Allah pun memerintahkan api menjadi dingin dan nyaman bagi Ibrahim (bardan wa salaaaman).

7. Bersifat Inklusif dan Terbuka

Beliau menerima masukan bahkan kritikan dari siapapun. Karakteristik ini dalam bahasa politik masa kini dksebut demokratis. Membuka diri dan tidak alergi dengan masukan bahkan keritikan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!