Bolehkah Bercadar karena Mengikuti Tren dan Apa Perbedaannya?
Senin, 21 Agustus 2023 - 11:13 WIB
Kian banyak kaum muslimah di Indonesia tidak malu-malu lagi mengenakan pakaian muslimah yang syari, bahkan banyak dari mereka yang bercadar. Namun, ada pula yang mengenakan busana syari dan bercadar hanya ikut tren semata. Foto istimewa
Kian banyak kaum muslimah di Indonesia tidak malu-malu lagi mengenakan pakaian muslimah yang syar'i, bahkan banyak dari mereka yang bercadar. Tentang cadar , memang masih ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang hukumnya wajib atau tidak.
Namun, yang dibahas di sini tidak akan diuraikan tentang dalil-dalil tersebut, hanya cara membedakan antara muslimah bercadar karena mengetahui ilmunya dan yang mengenakannya karena ikut-ikutan tanpa mempelajari ilmunya atau sekadar tren belaka.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa di antaranya:
Ada yang sampai mengenakan burka, mata pun tertutup kain tipis. Tidak semua orang yang memperdalam ilmu agama, berani mengenakan cadar. Sementara yang ikut-ikutan tiba-tiba saja mengenakan cadar tanpa belajar lebih dahulu.
Misalnya, perempuan bercadar boleh saja membeli barang dan berbicara dengan pedagang atau pemilik toko. Sedangkan, perempuan yang bercadar karena ikut-ikutan mungkin saja masih bersenda gurau dengan laki-laki nonmahram.
Namun, yang dibahas di sini tidak akan diuraikan tentang dalil-dalil tersebut, hanya cara membedakan antara muslimah bercadar karena mengetahui ilmunya dan yang mengenakannya karena ikut-ikutan tanpa mempelajari ilmunya atau sekadar tren belaka.
Dirangkum dari berbagai sumber, berikut beberapa di antaranya:
1. Mengenakan kaus kaki
Perempuan yang bercadar karena tahu ilmunya dipastikan selalu mengenakan kaus kaki dan legging. Itu untuk mencegah aurat tersingkap saat beraktivitas. Mereka juga dipastikan mengenakan gamis atau rok. Bukan celana, apalagi celana jin. Sementara yang tidak berilmu, biasanya tidak mengenakan kaus kaki dan legging. Saat pakaiannya tertiup angin, auratnya kelihatan.2. Dilakukan bertahap
Pada kebanyakan perempuan, penggunaan cadar dilakukan secara bertahap sambil belajar dan memperdalam ilmu agama. Biasanya dimulai dengan semacam masker. Lama kelamaan, setelah siap mental, semakin meningkat pula jenis cadar yang digunakan.Ada yang sampai mengenakan burka, mata pun tertutup kain tipis. Tidak semua orang yang memperdalam ilmu agama, berani mengenakan cadar. Sementara yang ikut-ikutan tiba-tiba saja mengenakan cadar tanpa belajar lebih dahulu.
3. Hanya menutup wajah bagi non-mahram
Perempuan yang mengenakan cadar sebenarnya tidak tertutup sama sekali dengan sekelilingnya. Cadar hanya digunakan untuk menjaga diri dari laki-laki nonmahram. Dengan sesama perempuan, mereka berinteraksi tanpa mengenakan cadar, tentu saja di ruangan tertutup yang tidak terdapat laki-laki asing. Jika ada laki-laki, wajahnya kembali ditutup.4. Tidak berduaan dengan laki-laki asing
Ini juga jadi salah satu pembeda. Mereka yang mengenakan cadar karena paham ilmunya tidak akan berduaan dengan laki-laki nonmahram. Apalagi dalam Islam, berkhalwat atau berduaan antara laki-laki dan wanita nonmahram, terlarang. Komunikasi pun terbatas pada yang dibolehkan, misalnya untuk urusan jual beli dan hal lain yang dibolehkan syariat.Misalnya, perempuan bercadar boleh saja membeli barang dan berbicara dengan pedagang atau pemilik toko. Sedangkan, perempuan yang bercadar karena ikut-ikutan mungkin saja masih bersenda gurau dengan laki-laki nonmahram.
5. Hanya mau dibonceng oleh mahram
Hampir sulit menemukan perempuan bercadar membonceng pada ojek motor, baik online maupun yang konvensional. Kalaupun menggunakan ojek, maka pengemudinya dipastikan perempuan juga. Mereka hanya mau dibonceng oleh mahram, seperti suami, saudara, ayah, dan yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadis. Mereka tidak akan membonceng kepada ipar laki-laki karena termasuk nonmahram.Lihat Juga :