Makna Ikhlas dan 3 Klasifikasinya Menurut Syaikh Al-Utsaimin
Minggu, 03 September 2023 - 11:29 WIB
Ketiga, dia bermaksud untuk bertaqarrub kepada Allah Ta’ala, di samping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya –di samping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya.
Selanjutnya, dia berhaji –di samping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji.
Menurut Al-Utsaimin, hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jama’ah haji.
“Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” ( QS Al-Baqarah/2 : 198)
Al-Utsaimin mengatakan jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu.
"Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina," katanya.
Baca juga: Di Manakah Tempat Sifat Ikhlas Itu?
Hal ini tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya.
“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat ; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” ( QS At-Taubah/9 : 58)
Di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah ra disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?”
Rasulullah SAW bersabda: “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi SAW menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Selanjutnya, dia berhaji –di samping niat beibadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syi’ar haji (Al-Masya’ir) dan bertemu para jama’ah haji.
Menurut Al-Utsaimin, hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala mengenai para jama’ah haji.
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ
“Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabb-mu” ( QS Al-Baqarah/2 : 198)
Al-Utsaimin mengatakan jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu.
"Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina," katanya.
Baca juga: Di Manakah Tempat Sifat Ikhlas Itu?
Hal ini tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ
“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat ; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah” ( QS At-Taubah/9 : 58)
Di dalam Sunan Abu Dawud dari Abu Hurairah ra disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata: ‘Wahai Rasulullah, seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?”
Rasulullah SAW bersabda: “Dia tidak mendapatkan pahala” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabi SAW menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala” (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Lihat Juga :