Tadabbur Al-Baqarah Ayat 2: Keistimewaan Al-Qur'an Tidak Ada Keraguan Padanya
Rabu, 27 September 2023 - 21:31 WIB
Sastrawan Arab Takjub dengan Isi Al-Qur'an
Dikisahkan dalam tafsiralquran, suatu ketika para pemuka Quraisy sepakat untuk mengutus Abul Walid, sastrawan Arab yang tiada tanding untuk menghadap Nabi Muhammad ﷺ, dengan tujuan agar beliau meninggalkan dakwah menyeru ajaran Islam, dengan kompensasi diberi kedudukan, harta dan apa saja yang diinginkannya.
Setelah menyimak penuturan Abul Walid, Rasulullah ﷺ kemudian membacakan Surat Fushshilat dari awal hingga akhir. Abul Walid takjub penuh kagum mendengar ayat-ayat yang dibacakan Rasulullah ﷺ tersebut. Ia termenung beberapa saat menghayati keindahan gaya bahasa serta susunan kalimat Al-Qur'an itu.
Kemudian ia kembali ke kaumnya tanpa sepatah kata pun ia ucapkan kepada Rasulullah ﷺ. Setibanya di tengah kaumnya, Abul Walid menyampaikan keterpesonaannya terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Dia katakan kepada kaumnya bahwa Al-Qur'an bukanlah Syair, bukan pula mantra-mantra sihir. Ia bagaikan pohon yang rindang, akarnya menghunjam kuat ke tanah.
Gaya bahasanya sangat indah, susunan kalimatnya sangat memukau. Ia bukan kata-kata manusia, dan tidak mungkin ditandingi oleh syair mana pun. Demikianlah seorang sastrawan ternama di zaman Al-Qur'an turun pun mengakui kehebatan Al-Qur'an. Ia sama sekali tidak meragukannya, karena memang tidak ada keraguan padanya.
Adalah Abdul Halim Mahmud, mantan Syeikh Al-Azhar menegaskan, "Para orientalis yang dari waktu ke waktu berusaha menunjukkan kelemahan Al-Qur'an, tidak mampu mendapat celah sedikit pun untuk meragukan Al-Qur'an."
Al-Qur'an sampai kapan pun, hingga Kiamat tiba akan selalu terjaga sebagaiman janji Allah Ta'ala. Siapa pun yang meragukannya akan tumbang. Siapa pun yang mengingkarinya akan binasa.
Wallahu A'lam
Baca Juga: 40 Hadis Keutamaan Al-Qur'an (3)
Dikisahkan dalam tafsiralquran, suatu ketika para pemuka Quraisy sepakat untuk mengutus Abul Walid, sastrawan Arab yang tiada tanding untuk menghadap Nabi Muhammad ﷺ, dengan tujuan agar beliau meninggalkan dakwah menyeru ajaran Islam, dengan kompensasi diberi kedudukan, harta dan apa saja yang diinginkannya.
Setelah menyimak penuturan Abul Walid, Rasulullah ﷺ kemudian membacakan Surat Fushshilat dari awal hingga akhir. Abul Walid takjub penuh kagum mendengar ayat-ayat yang dibacakan Rasulullah ﷺ tersebut. Ia termenung beberapa saat menghayati keindahan gaya bahasa serta susunan kalimat Al-Qur'an itu.
Kemudian ia kembali ke kaumnya tanpa sepatah kata pun ia ucapkan kepada Rasulullah ﷺ. Setibanya di tengah kaumnya, Abul Walid menyampaikan keterpesonaannya terhadap ayat-ayat Al-Qur'an. Dia katakan kepada kaumnya bahwa Al-Qur'an bukanlah Syair, bukan pula mantra-mantra sihir. Ia bagaikan pohon yang rindang, akarnya menghunjam kuat ke tanah.
Gaya bahasanya sangat indah, susunan kalimatnya sangat memukau. Ia bukan kata-kata manusia, dan tidak mungkin ditandingi oleh syair mana pun. Demikianlah seorang sastrawan ternama di zaman Al-Qur'an turun pun mengakui kehebatan Al-Qur'an. Ia sama sekali tidak meragukannya, karena memang tidak ada keraguan padanya.
Adalah Abdul Halim Mahmud, mantan Syeikh Al-Azhar menegaskan, "Para orientalis yang dari waktu ke waktu berusaha menunjukkan kelemahan Al-Qur'an, tidak mampu mendapat celah sedikit pun untuk meragukan Al-Qur'an."
Al-Qur'an sampai kapan pun, hingga Kiamat tiba akan selalu terjaga sebagaiman janji Allah Ta'ala. Siapa pun yang meragukannya akan tumbang. Siapa pun yang mengingkarinya akan binasa.
Wallahu A'lam
Baca Juga: 40 Hadis Keutamaan Al-Qur'an (3)
(rhs)
Lihat Juga :