Hadis Nabi: Waktu Terasa Semakin Singkat, Ini Penjelasannya
Senin, 20 November 2023 - 20:49 WIB
Para ulama tidak menafsirkan singkatnya waktu dengan bertambahnya kecepatan perputaran bumi. Foto ilustrasi/ist
Gus Musa Muhammad menjelaskan tentang makna waktu semakin singkat sebagaimana tersebut dalam Hadis Nabi ﷺ. Ada banyak ulama yang memberi penafsiran terkait waktu yang terasa singkat ini.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan tiba hari Kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun bagaikan satu bulan, satu bulan bagaikan satu minggu, satu minggu bagaikan satu hari, satu hari bagaikan satu jam. Dan satu jam bagaikan api yg membakar daun kurma." (HR Ahmad, Tirmidzi)
Para ulama tidak menafsirkan "singkatnya waktu" dengan bertambahnya kecepatan perputaran bumi sehingga jumlah masa dalam satu hari berkurang menjadi 23 jam misalnya. Penafsiran seperti ini tentu bertentangan dengan logika.
"Sebab, jika kita memutar sebuah bola di sebuah titik tertentu, tentulah kecepatannya semakin lama semakin berkurang, bukan semakin bertambah," kata Gus Musa Muhammad dalam satu kajiannya.
Gus Musa menukil keterangan Imam an-Nawawi yang menafsirkan maksud dari singkatnya waktu adalah hilangnya keberkahan dalam waktu tersebut. Sehingga satu hari misalnya tidak mampu dimanfaatkan melainkan seperti satu jam saja. Pendapat ini dikuatkan oleh ulama setelahnya seperti Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari.
Ia berkata, "Pendapat yang benar adalah (Hadits ini) bermaksud bahwa Allah mencabut semua keberkahan dari segala sesuatu, termasuk keberkahan waktu. Dan ini merupakan salah satu tanda dekatnya Kiamat."
Secara bahasa, kata "berkah bermakna al-Ziyadah (bertambah) dan berkembang. Kata ini lalu digunakan untuk menunjukkan kebaikan yang banyak seperti dalam firman Allah: "Kitab penuh berkah" dan "malam penuh berkah", yang artinya penuh kebaikan yang banyak.
Rasulullah ﷺ juga sering kali mendoakan para sahabatnya agar Allah memberkahi mereka, seperti doa beliau untuk Abu Qatadah, "Ya Allah, berkahilah kulit dan rambutnya." Sejak saat itu, kulit dan rambut Abu Qatadah tidak pernah berubah meski usianya makin bertambah. Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Dimasyq bercerita bahwa Abu Qatadah wafat pada usia 70 tahun namun kulit dan rambutnya bagaikan anak berusia 17 tahun.
Imam Abdul Wahab Sya'rani bercerita tentang gurunya Syaikh Zakaria Al-Anshari (pelajar fiqh Mazhab Syafi'i pasti mengenal nama ini). "Selama dua puluh tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat beliau dalam kelalaian atau melakukan sesuatu yang tak berguna, baik siang ataupun malam hari. Jika seorang tamu berbicara terlalu panjang kepadanya, beliau segera berkata dengan tegas: "Kau telah membuang-buang waktuku."
Keberkahan waktu dapat kita lihat di sejarah hidup tokoh-tokoh Islam sejak masa sahabat. Mereka berhasil melahirkan prestasi besar hanya dalam masa yang sangat singkat sehingga agak sukar diterima logika "zaman hilang berkah" kita ini.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan tiba hari Kiamat hingga waktu semakin singkat. Satu tahun bagaikan satu bulan, satu bulan bagaikan satu minggu, satu minggu bagaikan satu hari, satu hari bagaikan satu jam. Dan satu jam bagaikan api yg membakar daun kurma." (HR Ahmad, Tirmidzi)
Para ulama tidak menafsirkan "singkatnya waktu" dengan bertambahnya kecepatan perputaran bumi sehingga jumlah masa dalam satu hari berkurang menjadi 23 jam misalnya. Penafsiran seperti ini tentu bertentangan dengan logika.
"Sebab, jika kita memutar sebuah bola di sebuah titik tertentu, tentulah kecepatannya semakin lama semakin berkurang, bukan semakin bertambah," kata Gus Musa Muhammad dalam satu kajiannya.
Gus Musa menukil keterangan Imam an-Nawawi yang menafsirkan maksud dari singkatnya waktu adalah hilangnya keberkahan dalam waktu tersebut. Sehingga satu hari misalnya tidak mampu dimanfaatkan melainkan seperti satu jam saja. Pendapat ini dikuatkan oleh ulama setelahnya seperti Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari.
Ia berkata, "Pendapat yang benar adalah (Hadits ini) bermaksud bahwa Allah mencabut semua keberkahan dari segala sesuatu, termasuk keberkahan waktu. Dan ini merupakan salah satu tanda dekatnya Kiamat."
Secara bahasa, kata "berkah bermakna al-Ziyadah (bertambah) dan berkembang. Kata ini lalu digunakan untuk menunjukkan kebaikan yang banyak seperti dalam firman Allah: "Kitab penuh berkah" dan "malam penuh berkah", yang artinya penuh kebaikan yang banyak.
Rasulullah ﷺ juga sering kali mendoakan para sahabatnya agar Allah memberkahi mereka, seperti doa beliau untuk Abu Qatadah, "Ya Allah, berkahilah kulit dan rambutnya." Sejak saat itu, kulit dan rambut Abu Qatadah tidak pernah berubah meski usianya makin bertambah. Ibnu 'Asakir dalam Tarikh Dimasyq bercerita bahwa Abu Qatadah wafat pada usia 70 tahun namun kulit dan rambutnya bagaikan anak berusia 17 tahun.
Imam Abdul Wahab Sya'rani bercerita tentang gurunya Syaikh Zakaria Al-Anshari (pelajar fiqh Mazhab Syafi'i pasti mengenal nama ini). "Selama dua puluh tahun aku melayaninya, belum pernah aku melihat beliau dalam kelalaian atau melakukan sesuatu yang tak berguna, baik siang ataupun malam hari. Jika seorang tamu berbicara terlalu panjang kepadanya, beliau segera berkata dengan tegas: "Kau telah membuang-buang waktuku."
Keberkahan waktu dapat kita lihat di sejarah hidup tokoh-tokoh Islam sejak masa sahabat. Mereka berhasil melahirkan prestasi besar hanya dalam masa yang sangat singkat sehingga agak sukar diterima logika "zaman hilang berkah" kita ini.
Lihat Juga :