Hudhud: Cinta Mawar Banyak Durinya, Mengusik dan Menguasai

Senin, 10 Agustus 2020 - 06:08 WIB
Bila teringat akan senyum putri itu, ia mengucurkan airmata bagai awan menjatuhkan hujan. Cinta yang garang ini berlangsung terus tujuh tahun lamanya, dan selama itu ia hidup di jalanan bersama anjing-anjing.

Akhirnya para pengiring sang putri memutuskan untuk membunuhnya. Tetapi putri itu bicara padanya dengan diam-diam; katanya, "Mana mungkin akan ada hubungan yang mesra antara kau dengan aku? Pergilah lekas, atau kau akan dibunuh nanti; jangan tinggal lagi di pintuku, tetapi bangkitlah pergi."

Darwis malang itu menjawab, "Pada hari ketika hamba jatuh cinta pada Tuanku Putri, hamba bercuci tangan dari kehidupan ini. Beribu-ribu yang seperti hamba mengorbankan diri ke haribaan keindahan Tuan. Karena para pengiring Tuan hendak membunuh hamba secara tak adil, maka jawablah kiranya pertanyaan yang biasa ini. Pada hari ketika Tuan menjadi sebab bagi kematian hamba, mengapa Tuan tersenyum pada hamba?"

"O kau si dungu," kata putri itu, "ketika kuketahui bahwa kau hendak merendahkan martabat dirimu sendiri, aku tersenyum karena kasihan. Aku sengaja tersenyum karena kasihan bukan karena hendak mencemooh."

Berkata demikian, ia pun lenyap bagai seberkas asap, meninggalkan darwis itu termangu sendiri. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Darwis dan Putri Raja )



(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!