Mengenal Arakan Rohingya Salvation Army, Pejuang yang Melawan Penindasan Myanmar
Kamis, 14 Desember 2023 - 15:23 WIB
Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) dikenal sebagai kelompok perjuangan untuk membebaskan etnis Rohingya dari penindasan Myanmar. Foto/dok Burma News International
Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) mungkin tampak asing bagi sebagian orang. Tentara pembebasan Rohingya Arakan ini muncul di tengah konflik etnis di Myanmar yang melibatkan Rohingya selama bertahun-tahun.
Konflik berkepanjangan yang menimpa etnis Rohingya ini telah membuat para warga sipil tak bersalah menjadi korban. Ada banyak yang terbunuh, sementara tak sedikit juga para warga yang memilih melarikan diri dan mengungsi ke negara lain.
Pada salah satu dampak konflik tersebut, muncul kelompok bersenjata bernama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Menggambarkan gerakannya sebagai bentuk perjuangan membela etnis Rohingya yang terpinggirkan, mereka juga kerap dianggap terlibat pada sejumlah kasus penyerangan bersenjata.
Apa itu Arakan Rohingya Salvation Army?
Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) mendeklarasikan diri sebagai kelompok pejuang Rohingya yang bertujuan membebaskan etnisnya dari penindasan pemerintah Myanmar dan kelompok agama mayoritas. Sebelumnya, mereka pernah menggunakan nama Harakatul Yakeen.
Mengutip Al Jazeera, Jumat (8/12/2023), ARSA pertama kali muncul pada Oktober 2016. Waktu itu, mereka bertanggung jawab atas penyerangan tiga pos polisi di Maungdaw dan Rathedaung. Pada perkembangannya, pemerintah Myanmar memberikan label teroris kepada Arakan Rohingya Salvation Army. Hal ini didasarkan pada gerakannya yang radikal dengan penggunaan senjata.
Kendati begitu, banyak pihak yang menganggap ARSA ini bukanlah kelompok teroris. Seorang penasihat Pusat Studi Ekstremisme Eropa bernama Maung Zarni menyebut bahwa kelompok ini jelas berbeda dengan teroris.
Secara gerakan, ARSA tidak bertujuan menyerang masyarakat sebagaimana yang dituduh pemerintah Myanmar. Sebaliknya, kelompok ini tercipta akibat pelanggaran sistematis dan penindasan berkepanjangan yang dilakukan pemerintah terhadap warga Rohingya.
Lebih jauh, ARSA mungkin lebih mirip dengan para tahanan Yahudi di Auschwitz yang bangkit dan melawan Nazi pada Oktober 1944. Singkatnya, mereka adalah kumpulan orang-orang yang sebelumnya sudah putus asa, namun tiba-tiba memilih membentuk kelompok untuk mempertahankan diri.
Dalam gerakannya, ARSA selalu menekankan bahwa tujuannya adalah membebaskan etnis Rohingya dari penindasan. Mereka ingin warga-warga Rohingnya mendapat hak-hak dasar seperti kewarganegaraan.
Konflik berkepanjangan yang menimpa etnis Rohingya ini telah membuat para warga sipil tak bersalah menjadi korban. Ada banyak yang terbunuh, sementara tak sedikit juga para warga yang memilih melarikan diri dan mengungsi ke negara lain.
Pada salah satu dampak konflik tersebut, muncul kelompok bersenjata bernama Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA). Menggambarkan gerakannya sebagai bentuk perjuangan membela etnis Rohingya yang terpinggirkan, mereka juga kerap dianggap terlibat pada sejumlah kasus penyerangan bersenjata.
Apa itu Arakan Rohingya Salvation Army?
Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) mendeklarasikan diri sebagai kelompok pejuang Rohingya yang bertujuan membebaskan etnisnya dari penindasan pemerintah Myanmar dan kelompok agama mayoritas. Sebelumnya, mereka pernah menggunakan nama Harakatul Yakeen.
Mengutip Al Jazeera, Jumat (8/12/2023), ARSA pertama kali muncul pada Oktober 2016. Waktu itu, mereka bertanggung jawab atas penyerangan tiga pos polisi di Maungdaw dan Rathedaung. Pada perkembangannya, pemerintah Myanmar memberikan label teroris kepada Arakan Rohingya Salvation Army. Hal ini didasarkan pada gerakannya yang radikal dengan penggunaan senjata.
Kendati begitu, banyak pihak yang menganggap ARSA ini bukanlah kelompok teroris. Seorang penasihat Pusat Studi Ekstremisme Eropa bernama Maung Zarni menyebut bahwa kelompok ini jelas berbeda dengan teroris.
Secara gerakan, ARSA tidak bertujuan menyerang masyarakat sebagaimana yang dituduh pemerintah Myanmar. Sebaliknya, kelompok ini tercipta akibat pelanggaran sistematis dan penindasan berkepanjangan yang dilakukan pemerintah terhadap warga Rohingya.
Lebih jauh, ARSA mungkin lebih mirip dengan para tahanan Yahudi di Auschwitz yang bangkit dan melawan Nazi pada Oktober 1944. Singkatnya, mereka adalah kumpulan orang-orang yang sebelumnya sudah putus asa, namun tiba-tiba memilih membentuk kelompok untuk mempertahankan diri.
Dalam gerakannya, ARSA selalu menekankan bahwa tujuannya adalah membebaskan etnis Rohingya dari penindasan. Mereka ingin warga-warga Rohingnya mendapat hak-hak dasar seperti kewarganegaraan.
Lihat Juga :