Kisah Rasulullah SAW Menanti Peralihan Kiblat Salat dari Baitul Maqdis ke Kakbah

Jum'at, 05 Januari 2024 - 10:13 WIB
Ibadah salat itu bukan semata-mata menghadap ke masjid al-Haram atau Al-Aqsha sebagai tujuan. Foto/Ilustrasi: Reuters
Rasulullah SAW menanti-nanti peralihan kiblat dari Baitul Maqdis ke Kakbah di Masjidilharam . Dikisahkah bahwa Nabi Muhammad SAW berdiri menghadap langit setiap hari menunggu wahyu turun perihal peralihan kiblat itu seperti digambarkan dalam Surat Al-Baqarah ayat 144 berikut.

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ


Artinya: “Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.”

Ketika ayat tersebut turun, Rasulullah baru melaksanakan salat dua rekaat berjamaah di sebuah masjid di pinggiran kota Madinah. Dengan turunnya ayat itu, maka beliau segera menghentikan salat sebentar, kemudian beliau berputar 180 derajat menghadap arah baru, sehingga jamaah yang ikut salat itu terpaksa jalan memutar dan tetap berada di belakang Nabi.

Baca juga: Peristiwa Bulan Rajab: Shalahuddin Sukses Membebaskan Baitul Maqdis

Untuk mempertahankan bukti sejarah, hingga kini, masjid tempat salat Nabi itu masih mempertahankan dua mimbar, satu menghadap ke Kakbah dan satu lagi menghadap ke Baitul Maqdis, dan disebut dengan Masjid Qiblatain (dua kiblat).

Imam Abu al-Fida Ismail Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir, menyebut: yang pertama kali di-naskh dalam Al-Qur’an ialah kiblat, bahwasanya Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, sementara penduduk Madinah mayoritas adalah Yahudi, Allah memerintahkan untuk menghadap Baitul Maqdis (ketika salat), maka berbahagialah orang Yahudi. Rasulullah menghadap Baitul Maqdis (ketika salat) selama lebih dari 10 bulan, padahal beliau lebih senang pada kiblatnya Nabi Ibrahim (Kakbah), maka beliau seringkali berdoa dan menghadap ke langit.

Dalam beberapa keterangan disebutkan, ketika Allah memerintahkan perintah salat dan menghadap ke Masjid Al-Aqsha, hal itu dimaksudkan agar menghadap ke tempat yang suci, bebas dari berbagai macam berhala dan sesembahan.

Ketika itu, kondisi Masjid Al-Haram yang merupakan tempat keberangkatan Isra dan Mi'raj, belum berupa bangunan masjid. Sebab, kala itu masih dipenuhi berhala-berhala yang jumlahnya mencapai 309 buah dan senantiasa disembah oleh orang Arab sebelum kedatangan Islam. Di bawah dominasi kekufuran seperti itu, Rasulullah SAW belum bisa menunaikan ibadah salat di tempat tersebut.

Baca juga: Nabi Joshua, Pengganti Nabi Musa yang Merebut Baitul Maqdis
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!