Pembebasan Irak: Kisah Khalid bin Walid Kalahkan Pasukan Persia di Mazar
Selasa, 16 Januari 2024 - 11:28 WIB
Pasukan Muslimin sudah memperkirakan bahwa Persia akan meminta bantuan kabilah-kabilah Arab di Irak. Ilustrasi: Ist
Ekspedisi pertama ke Irak dan menguasai Hafir serta membunuh penguasa setempat, Ormizd, meninggalkan dampak besar yang membangkitkan semangat pasukan Muslimin.
Tanpa Ormizd, tentara Persia tak dapat bertahan dan memilih melarikan diri. Mutsanna asy-Syaibani meneruskan pengejarannya memburu mereka, seolah ia tak mau kehilangan jejak sebelum mencapai Mada'in.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakr As-Siddiq" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan kala itu datang berita bahwa sepasukan besar bala tentara Persia dari Mada'in dikirim untuk menghadapi Khalid bin Walid dan pasukannya.
Raja Ardasyir ketika menerima surat Ormizd (penguasa Hafir) sudah memanggil Qarin anak Qaryanis, salah seorang bangsawan tinggi, untuk memimpin angkatan bersenjata sebagai bala bantuan yang diberangkatkan ke kota pelabuhan itu.
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Dalam perjalanan ke selatan itu Qarin bertemu dengan Kobad dan Anusyagan yang memimpin sisa-sisa serdadu yang sudah kalah. Qarin menghentikan mereka, ia berbicara dengan mereka agar mereka merasa tenang.
Kemudian ia menggabungkan pasukannya dengan pasukan mereka. Setelah itu mereka bermarkas di Mazar, di tepi kanal yang menghubungkan Tigris dengan Furat.
Musanna yang pada awalnya bermaksud menghabisi sisa-sisa tentara Persia tersadar bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Musuh terlalu kuat. Oleh karena itu ia mencari tempat bermarkas yang tak jauh dari Mazar.
Selanjutnya ia menulis surat kepada Khalid bin Walid menguraikan segala yang sedang dihadapinya. Setelah menerima kabar itu Khalid khawatir sekali Musanna akan berhadapan dengan pasukan Qarin lalu mengalahkannya. Ini akan melemahkan kekuatan pasukan Muslimin.
Cepat-cepat Khalid berangkat dengan pasukannya. Dalam waktu singkat ia sudah sampai di Mazar. Rupanya Qarin memang sudah mengadakan persiapan matang untuk menyerang Musanna. Pasukan Musanna kini sudah tak tahu lagi apa yang akan ditentukan Allah terhadap mereka.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Tanpa Ormizd, tentara Persia tak dapat bertahan dan memilih melarikan diri. Mutsanna asy-Syaibani meneruskan pengejarannya memburu mereka, seolah ia tak mau kehilangan jejak sebelum mencapai Mada'in.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Abu Bakr As-Siddiq" yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah (PT Pustaka Litera AntarNusa, 1987) menceritakan kala itu datang berita bahwa sepasukan besar bala tentara Persia dari Mada'in dikirim untuk menghadapi Khalid bin Walid dan pasukannya.
Raja Ardasyir ketika menerima surat Ormizd (penguasa Hafir) sudah memanggil Qarin anak Qaryanis, salah seorang bangsawan tinggi, untuk memimpin angkatan bersenjata sebagai bala bantuan yang diberangkatkan ke kota pelabuhan itu.
Baca juga: Al-Musanna Pahlawan Asal Bahrain Pelopor Pembebasan Irak
Dalam perjalanan ke selatan itu Qarin bertemu dengan Kobad dan Anusyagan yang memimpin sisa-sisa serdadu yang sudah kalah. Qarin menghentikan mereka, ia berbicara dengan mereka agar mereka merasa tenang.
Kemudian ia menggabungkan pasukannya dengan pasukan mereka. Setelah itu mereka bermarkas di Mazar, di tepi kanal yang menghubungkan Tigris dengan Furat.
Musanna yang pada awalnya bermaksud menghabisi sisa-sisa tentara Persia tersadar bahwa hal itu tidak mungkin dilakukan. Musuh terlalu kuat. Oleh karena itu ia mencari tempat bermarkas yang tak jauh dari Mazar.
Selanjutnya ia menulis surat kepada Khalid bin Walid menguraikan segala yang sedang dihadapinya. Setelah menerima kabar itu Khalid khawatir sekali Musanna akan berhadapan dengan pasukan Qarin lalu mengalahkannya. Ini akan melemahkan kekuatan pasukan Muslimin.
Cepat-cepat Khalid berangkat dengan pasukannya. Dalam waktu singkat ia sudah sampai di Mazar. Rupanya Qarin memang sudah mengadakan persiapan matang untuk menyerang Musanna. Pasukan Musanna kini sudah tak tahu lagi apa yang akan ditentukan Allah terhadap mereka.
Baca juga: Pembebasan Irak: Kisah Benteng Perempuan dan Seorang Putri Bangsawan Persia
Lihat Juga :