Inilah Potret Istri Saleha dan Penyejuk Hati Suami
Jum'at, 14 Agustus 2020 - 06:36 WIB
Menjadi istri saleha dan penyejuk hati suami, adalah obsesi mulia setiap istri yang merindukan kebahagiaan sejati. Foto ilustrasi/ist
Sebagai pasangan, suami istri harus memahami karakter teman hidupnya. Baik tentang seleranya, hasratnya, keinginannya dan berbagai perkara yang membuat kehidupan rumah tangga harmonis.
Seorang muslimah apalagi yang telah bersuami, hendaknya terus belajar memahami psikologi atau tabiat suami agar bisa menghadirkan cinta yang paling indah, dan memberikan pelayanan terbaik kepada orang yang dicintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla. Bisakah ia menjadi sosok bidadari saleha sebagaimana wasiat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam,
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia itu kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah.” (HR Muslim, an-Nasa`i, dan Ahmad)
Seorang istri juga akan menjadi qurrota a’yun (penghias pandangan) tatkala ia senantiasa bersungguh-sungguh menjalani bahtera rumah tangga karena iman dan mengharap pahala dan ridha Allah ‘Azza wa Jalla. (Baca juga : Meski di Rumah, Kapan Seorang Muslimah Boleh Melepaskan Jilbabnya? )
Potret seorang istri saleha, bisa kita teladani dari kisah Zainab binti Hudair, istri Syuraih Al-Qodli, salah seorang sahabat tabi'in Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dikutip dari buku 'Agar Suami Cemburu Padamu karya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil," inilah sepenggal kisah yang dapat menjadi inspirasi bagi seorang istri yang ingin menjadi perhiasan terindah dunia dan bidadarinya akhirat yaitu perempuan saleha.
Dikisahkan oleh Syuraih:
“Ketika aku menikahi Zainab binti Hudair aku berkata dalam hati, Aku telah menikah dengan seorangperempuan Arab yang paling keras dan paling kaku tabiatnya. Aku teringat tabiat perempuan-perempuan bani Tamim dan kerasnya hati mereka. Aku berkeinginan untuk menceraikannya. Kemudian aku berkata dalam hati, “Aku pergauli dulu (yaitu menikah dan berhubungan dengannya), jika aku dapati apa yang aku suka, aku tahan ia. Dan jika tidak, aku ceraikan ia.”
Kemudian datanglahperempuan-perempuanbani Tamim mengantarkannya. Dan setelah ditempatkan dalam rumah, aku berkata, “Wahai fulanah, sesungguhnya menurut sunnah apabila seorang wanita masuk menemui suaminya hendaklah si suami salat dua rakaat dan si istri juga salat dua rakaat.”
Akupun bangkit mengerjakan salat kemudian aku menoleh ke belakang ternyata ia ikut salat di belakangku. Seusai salat para budak-budak wanita pengiringnya datang dan mengambil pakaianku dan memakaikan padaku pakaian tidur yang telah dicelup dengan za’faran.
Dan tatkala rumah sudah kosong, aku mendekatinya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Tahan dulu (sabar dulu).”
Seorang muslimah apalagi yang telah bersuami, hendaknya terus belajar memahami psikologi atau tabiat suami agar bisa menghadirkan cinta yang paling indah, dan memberikan pelayanan terbaik kepada orang yang dicintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla. Bisakah ia menjadi sosok bidadari saleha sebagaimana wasiat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam,
اَلدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia itu kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah.” (HR Muslim, an-Nasa`i, dan Ahmad)
Seorang istri juga akan menjadi qurrota a’yun (penghias pandangan) tatkala ia senantiasa bersungguh-sungguh menjalani bahtera rumah tangga karena iman dan mengharap pahala dan ridha Allah ‘Azza wa Jalla. (Baca juga : Meski di Rumah, Kapan Seorang Muslimah Boleh Melepaskan Jilbabnya? )
Potret seorang istri saleha, bisa kita teladani dari kisah Zainab binti Hudair, istri Syuraih Al-Qodli, salah seorang sahabat tabi'in Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dikutip dari buku 'Agar Suami Cemburu Padamu karya Dr. Najla’ As-Sayyid Nayil," inilah sepenggal kisah yang dapat menjadi inspirasi bagi seorang istri yang ingin menjadi perhiasan terindah dunia dan bidadarinya akhirat yaitu perempuan saleha.
Dikisahkan oleh Syuraih:
“Ketika aku menikahi Zainab binti Hudair aku berkata dalam hati, Aku telah menikah dengan seorangperempuan Arab yang paling keras dan paling kaku tabiatnya. Aku teringat tabiat perempuan-perempuan bani Tamim dan kerasnya hati mereka. Aku berkeinginan untuk menceraikannya. Kemudian aku berkata dalam hati, “Aku pergauli dulu (yaitu menikah dan berhubungan dengannya), jika aku dapati apa yang aku suka, aku tahan ia. Dan jika tidak, aku ceraikan ia.”
Kemudian datanglahperempuan-perempuanbani Tamim mengantarkannya. Dan setelah ditempatkan dalam rumah, aku berkata, “Wahai fulanah, sesungguhnya menurut sunnah apabila seorang wanita masuk menemui suaminya hendaklah si suami salat dua rakaat dan si istri juga salat dua rakaat.”
Akupun bangkit mengerjakan salat kemudian aku menoleh ke belakang ternyata ia ikut salat di belakangku. Seusai salat para budak-budak wanita pengiringnya datang dan mengambil pakaianku dan memakaikan padaku pakaian tidur yang telah dicelup dengan za’faran.
Dan tatkala rumah sudah kosong, aku mendekatinya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata, “Tahan dulu (sabar dulu).”
Lihat Juga :