Seni Islam: Tidak Harus Berbahasa Arab dan tentang Ajaran Islam

Kamis, 30 Mei 2024 - 09:11 WIB
Baca juga: Lestarikan Seni Islam, Generasi Muda Belajar Hadrah Selawat Al-Banjari

Begitu sekelumit dari sisi kelemahan manusia yang diabadikan oleh Al-Quran dalam kisah Yusuf ( QS 12 : 23-24).

Akan tetapi, Quraish melanjutkan, Al-Quran tidak larut dalam melukiskannya --karena ini dapat menghanyutkan, tetapi juga dia tidak berhenti sampai di sana. Karena itu baru aspek debu tanah manusia, kisahnya dilanjutkan dengan menggambarkan kesadaran para pelaku, sehingga pada akhirnya bertemu debu tanah dan roh Ilahi itu pada sosok kedua hamba Allah itu.

Allah SWT meyakinkan manusia tentang ajarannya dengan menyentuh seluruh totalitas manusia, termasuk menyentuh hati mereka melalui seni yang ditampilkan Al-Quran, antara lain melalui kisah-kisah nyata atau simbolik yang dipadu oleh imajinasi: melalui gambaran-gambaran konkret dari gagasan abstrak yang dipaparkan dalam bahasa seni yang mencapai puncaknya.

Dapat dipastikan bahwa Al-Quran menggunakan seni untuk dakwah, dan dapat pula dipastikan bahwa selama ini, kita belum memanfaatkan secara maksimal apalagi mengembangkan apa yang dicontohkan Al-Quran itu.

Menurut Quraish, kalau Al-Quran menggambarkan dalam bahasa lisan sikap dan gejolak hati manusia, maka tentu tidak ada salahnya jika sikap dan gejolak hati itu digambarkan dalam bentuk bahasa gerak dan mimik, bersama dengan bahasa lisan.

Itulah salah satu contoh pengembangan, karena menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk bukan berarti kita harus menirunya dalam segala hal, tetapi dalam bidang seni misalnya, ia berarti menghayati jiwa bimbingan dan nafas penampilannya, kemudian setelah itu mempersilakan setiap seniman untuk menerjemahkan jiwa dan nafas tersebut dalam kreasi seninya.

Al-Quran misalnya, kata Quraish, menjadikan kisah sebagai salah satu sarana pendidikan yang sejalan dengan pandangannya tentang alam, manusia, dan kehidupan. Maka pada saat seseorang menggunakan kisah sebagai sarana pendidikan seni dan hiburan dengan tujuan memperhalus budi, mengingatkan tentang jati diri manusia, menggambarkan akibat baik atau buruk dan satu pengamalan, maka pada saat itu, seni yang ditampilkannya adalah seni yang bernafaskan Islam, walaupun di celah-celah kisahnya dilukiskan kelemahan manusia dalam batas dan penampilan yang tidak mendorong kejatuhannya.

Baca juga: Syaikh Al-Qardhawi: Larangan Melukis Tidak Jadi Penyebab Terpuruknya Seni Islam

Al-Quran dan sunnah misalnya melukiskan alam dengan begitu indah, berdialog, dan bersambung rasa dengan manusia. Dan pada saat kita menikmati suatu lukisan yang hidup, maka kisah itu telah memerankan pandangan Islam tentang alam, tidak jauh berbeda dengan ungkapan Rasulullah Saw. ketika melukiskannya dengan bahasa lisan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!