Penaklukan Mesir: Kisah Keberanian Zubair bin Awwam Menerobos Benteng Babilon
Selasa, 09 Juli 2024 - 05:15 WIB
Baca juga: Kisah Amr bin Ash Berusaha Menguasai Benteng Umm Dunain dan Babilon
Demikian sebuah sumber menyebutkan. Sumber yang dikutip oleh Butler dari Tabari mengatakan bahwa Zubair dan kawan-kawannya naik ke atas benteng itu, membunuh pengawalnya dan membawa kepalanya.
Ketika hendak turun, mereka melihat garnisun benteng itu sedang memasang sebuah dinding melintang di koridor di atas tembok-tembok di bagian itu. Mereka tinggal di tempat mereka berada itu.
Pagi-pagi sekali komandan benteng itu menawarkan perdamaian kepada Amr bin Ash dengan menyerahkan pasukannya. Tetapi Zubair menentang perdamaian itu dan berkata kepada Amr: "Sebaiknya kita sabar sebentar sampai saya turun dari tembok ke dalam benteng, tentu soalnya akan seperti yang kita inginkan."
Akan tetapi Amr tidak saja menolak pendapatnya itu, bahkan ia membuat persetujuan tertulis dengan komandan benteng, dengan syarat bahwa pasukan itu harus sudah meninggalkan benteng dalam waktu tiga hari dan keluar melalui sungai bersama kekuatan mereka selama berapa hari dengan menyerahkan benteng berikut segala isinya yang terdiri atas barang-barang simpanan dan alat-alat perang kepada pihak Muslimin.
Perincian demikian tidak disebutkan oleh Tabari. Hanya saja semua sejarawan Muslimin menyebutkan bahwa Amr telah memenuhi permintaan Muqauqis untuk berdamai atas dasar jizyah setelah pasukan Muslimin menerobos ke dalam benteng itu.
Baca juga: Perang di Luar Benteng Babilon: Kisah Panglima Perang Romawi Muqauqis Menyerah
Haekal mengatakan kalau benar bahwa Muqauqis tak ada di benteng karena ia sudah dibuang setelah menghadap Heraklius, barangkali komandan garnisun itulah yang mengadakan persetujuan damai dengan Amr, seperti dalam sumber yang dikutip Butler di atas.
Pasukan Romawi itu keluar meninggalkan benteng pada hari keenam bulan April tahun 641. Tetapi mereka menolak menarik diri pada saat itu dengan berlumuran rasa malu dan hina, kalau hari tersebut tidak dijadikan 'hari ratapan dan kesedihan' buat orang Mesir.
Orang-orang Kopti yang dipenjarakan di dalam benteng itu selama pengepungan, oleh pihak Romawi diseret, tangan mereka dipotong dan mereka disiksa. Hal ini membuat Uskup Mesir Hanna an-Naqyusi, seorang sejarawan masa itu, marah besar.
Demikian sebuah sumber menyebutkan. Sumber yang dikutip oleh Butler dari Tabari mengatakan bahwa Zubair dan kawan-kawannya naik ke atas benteng itu, membunuh pengawalnya dan membawa kepalanya.
Ketika hendak turun, mereka melihat garnisun benteng itu sedang memasang sebuah dinding melintang di koridor di atas tembok-tembok di bagian itu. Mereka tinggal di tempat mereka berada itu.
Pagi-pagi sekali komandan benteng itu menawarkan perdamaian kepada Amr bin Ash dengan menyerahkan pasukannya. Tetapi Zubair menentang perdamaian itu dan berkata kepada Amr: "Sebaiknya kita sabar sebentar sampai saya turun dari tembok ke dalam benteng, tentu soalnya akan seperti yang kita inginkan."
Akan tetapi Amr tidak saja menolak pendapatnya itu, bahkan ia membuat persetujuan tertulis dengan komandan benteng, dengan syarat bahwa pasukan itu harus sudah meninggalkan benteng dalam waktu tiga hari dan keluar melalui sungai bersama kekuatan mereka selama berapa hari dengan menyerahkan benteng berikut segala isinya yang terdiri atas barang-barang simpanan dan alat-alat perang kepada pihak Muslimin.
Perincian demikian tidak disebutkan oleh Tabari. Hanya saja semua sejarawan Muslimin menyebutkan bahwa Amr telah memenuhi permintaan Muqauqis untuk berdamai atas dasar jizyah setelah pasukan Muslimin menerobos ke dalam benteng itu.
Baca juga: Perang di Luar Benteng Babilon: Kisah Panglima Perang Romawi Muqauqis Menyerah
Haekal mengatakan kalau benar bahwa Muqauqis tak ada di benteng karena ia sudah dibuang setelah menghadap Heraklius, barangkali komandan garnisun itulah yang mengadakan persetujuan damai dengan Amr, seperti dalam sumber yang dikutip Butler di atas.
Pasukan Romawi itu keluar meninggalkan benteng pada hari keenam bulan April tahun 641. Tetapi mereka menolak menarik diri pada saat itu dengan berlumuran rasa malu dan hina, kalau hari tersebut tidak dijadikan 'hari ratapan dan kesedihan' buat orang Mesir.
Orang-orang Kopti yang dipenjarakan di dalam benteng itu selama pengepungan, oleh pihak Romawi diseret, tangan mereka dipotong dan mereka disiksa. Hal ini membuat Uskup Mesir Hanna an-Naqyusi, seorang sejarawan masa itu, marah besar.
Lihat Juga :