7 Inovasi dan Perbaikan yang Dilakukan Kemenag untuk Sukseskan Layanan Haji 2024
Senin, 15 Juli 2024 - 21:08 WIB
Dalam penyelenggaraan haji tahun ini jemaah haji mendapatkan konsumsi penuh, termasuk saat puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Hal ini berbeda dari tahun lalu yang menjelang dan setelah puncak haji selama 3 hari jemaah tidak mendapatkan layanan katering.Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) juga memastikan pelayanan konsumsi jemaah berjalan baik dan tidak ada keterlambatan. Hal ini misalnya dengan memberikan pelatihan kepada 57 perusahaan katering lokal yang mengelola konsumsi jemaah. "Konsumsi di Makkah atau Madinah, menu-menu makanan jemaah yang kita sampaikan ke vendor bisa dipenuhi," ucap Hilman.
4. Aplikasi Kawal Haji
Aplikasi Kawal Haji mulai diterapkan tahun ini. Aplikasi ini bisa diunduh jemaah haji melalui Apps Store dan digunakan sebagai komunikasi langsung antara jemaah haji dengan PPIH. Jemaah bisa melaporkan setiap masalah yang ditemui. Tim Kawal Haji akan merespons dan mencari solusi dari masalah tersebut.
"Ini satu inovasi yang penting, bahwa jemaah bisa mengadukan, terbaca oleh semua pihak, dan respons bisa terjaga mana yang sudah dan mana yang belum ditindaklanjuti. Dengan itu kami mendapatkan data yang komprehensif, Semua aduan ada kapan itu terjadi, apa aduannya, kapan direspons, terekam dengan baik," kata Hilman.
5. Mina Jadid Tak Digunakan
Kementerian Agama membuat kebijakan baru dalam penyelenggaraan ibadah haji 2024 terkait penempatan jemaah Indonesia di Mina, yakni jemaah tidak akan ditempatkan di Mina Jadid, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.Mina Jadid berada di kawasan Muzdalifah atau sekitar 7 km menuju ke Jamarat. Dalam rangkaian ibadah haji, jemaah sedikitnya 3 kali bolak balik dari Mina ke Jamarat.
Perubahan ini sebagai upaya menambah kenyamanan jemaah haji Indonesia dalam beribadah terutama jemaah lansia agar tidak terlalu jauh dengan Jamarat— tempat lempar jumrah. Perubahan ini juga didasarkan pada masukan dari masyarakat terkait pelaksanaan ibadah Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang merupakan masa puncak haji.
"Di Mina itu lah yang menjadi paling challenging, paling menantang, kepadatannya, kemudian juga luasannya. Nah, luasan Mina ini segitu-gitunya. Dulu pernah diperluas, sampai sekarang juga pernah diperluas apa yang disebut mungkin Anda juga tahu sebagian Musdhalifah itu menjadi Mina (Mina Jadid) di siang harinya," ucap Hilman.
6. Tim Kesehatan Bantu Jemaah Lihat Kakbah
PPIH memfasilitasi jemaah haji Indonesia yang belum pernah ke Masjidilharam untuk melihat dan berdoa di depan Kakbah. Sebab, ada sejumlah jemaah yang sejak awal kedatangan di Makkah dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Makkah atau di Rumah Sakit Arab Saudi sehingga belum pernah sekali pun melihat Kakbah. Padahal puncak haji telah usai dan jemaah dalam tahap pemulangan ke Tanah Air.
4. Aplikasi Kawal Haji
Aplikasi Kawal Haji mulai diterapkan tahun ini. Aplikasi ini bisa diunduh jemaah haji melalui Apps Store dan digunakan sebagai komunikasi langsung antara jemaah haji dengan PPIH. Jemaah bisa melaporkan setiap masalah yang ditemui. Tim Kawal Haji akan merespons dan mencari solusi dari masalah tersebut.
"Ini satu inovasi yang penting, bahwa jemaah bisa mengadukan, terbaca oleh semua pihak, dan respons bisa terjaga mana yang sudah dan mana yang belum ditindaklanjuti. Dengan itu kami mendapatkan data yang komprehensif, Semua aduan ada kapan itu terjadi, apa aduannya, kapan direspons, terekam dengan baik," kata Hilman.
5. Mina Jadid Tak Digunakan
Kementerian Agama membuat kebijakan baru dalam penyelenggaraan ibadah haji 2024 terkait penempatan jemaah Indonesia di Mina, yakni jemaah tidak akan ditempatkan di Mina Jadid, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.Mina Jadid berada di kawasan Muzdalifah atau sekitar 7 km menuju ke Jamarat. Dalam rangkaian ibadah haji, jemaah sedikitnya 3 kali bolak balik dari Mina ke Jamarat.
Perubahan ini sebagai upaya menambah kenyamanan jemaah haji Indonesia dalam beribadah terutama jemaah lansia agar tidak terlalu jauh dengan Jamarat— tempat lempar jumrah. Perubahan ini juga didasarkan pada masukan dari masyarakat terkait pelaksanaan ibadah Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang merupakan masa puncak haji.
"Di Mina itu lah yang menjadi paling challenging, paling menantang, kepadatannya, kemudian juga luasannya. Nah, luasan Mina ini segitu-gitunya. Dulu pernah diperluas, sampai sekarang juga pernah diperluas apa yang disebut mungkin Anda juga tahu sebagian Musdhalifah itu menjadi Mina (Mina Jadid) di siang harinya," ucap Hilman.
6. Tim Kesehatan Bantu Jemaah Lihat Kakbah
PPIH memfasilitasi jemaah haji Indonesia yang belum pernah ke Masjidilharam untuk melihat dan berdoa di depan Kakbah. Sebab, ada sejumlah jemaah yang sejak awal kedatangan di Makkah dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Makkah atau di Rumah Sakit Arab Saudi sehingga belum pernah sekali pun melihat Kakbah. Padahal puncak haji telah usai dan jemaah dalam tahap pemulangan ke Tanah Air.
Lihat Juga :