Keberhasilan Pembangunan dalam Pandangan Islam: Mewujudkan Bayang-Bayang Surga
Minggu, 01 September 2024 - 09:24 WIB
Prof Quraish Shihab. Foto/Ilustrasi: Ist
Di dalam Al-Quran Surat Az-Zukhruf Ayat 32 Allah SWT berfirman:
a hum yaqsimûna raḫmata rabbik, naḫnu qasamnâ bainahum ma‘îsyatahum fil-ḫayâtid-dun-yâ wa rafa‘nâ ba‘dlahum fauqa ba‘dlin darajâtil liyattakhidza ba‘dluhum ba‘dlan sukhriyyâ, wa raḫmatu rabbika khairum mimmâ yajma‘ûn
Artinya: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ( QS Az-Zukhruf : 32)
Baca juga: Masuk Surga Sambil Tertawa
Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Membumikan Al-Quran , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996) mengatakan keharmonisan hubungan melahirkan kemajuan dan perkembangan masyarakat, demikian kandungan ayat di atas.
Perkembangan inilah yang merupakan arah yang dituju oleh masyarakat religius yang Islami sebagaimana digambarkan oleh Al-Quran pada akhir surah Al-Fath , yang mengibaratkan masyarakat Islam yang ideal:
"... sebagai tanaman yang tumbuh berkembang sehingga mengeluarkan tunasnya dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya..."( QS 48 :29)
Menurut Quraish, keharmonisan tidak mungkin tercipta kecuali jika dilandasi oleh rasa aman. Karena itu pula, setiap aktivitas istikhlaf (pembangunan) baru dapat dinilai sesuai dengan etika agama apabila rasa aman dan sejahtera menghiasi setiap anggota masyarakat.
Dengan kata lain, pembangunan yang dihiasi oleh etika agama adalah "yang mengantar manusia menjadi lebih bebas dari penderitaan dan rasa takut".
قْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّاۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
a hum yaqsimûna raḫmata rabbik, naḫnu qasamnâ bainahum ma‘îsyatahum fil-ḫayâtid-dun-yâ wa rafa‘nâ ba‘dlahum fauqa ba‘dlin darajâtil liyattakhidza ba‘dluhum ba‘dlan sukhriyyâ, wa raḫmatu rabbika khairum mimmâ yajma‘ûn
Artinya: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. ( QS Az-Zukhruf : 32)
Baca juga: Masuk Surga Sambil Tertawa
Prof Dr Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Membumikan Al-Quran , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat" (Mizan, 1996) mengatakan keharmonisan hubungan melahirkan kemajuan dan perkembangan masyarakat, demikian kandungan ayat di atas.
Perkembangan inilah yang merupakan arah yang dituju oleh masyarakat religius yang Islami sebagaimana digambarkan oleh Al-Quran pada akhir surah Al-Fath , yang mengibaratkan masyarakat Islam yang ideal:
"... sebagai tanaman yang tumbuh berkembang sehingga mengeluarkan tunasnya dan tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas pokoknya..."( QS 48 :29)
Menurut Quraish, keharmonisan tidak mungkin tercipta kecuali jika dilandasi oleh rasa aman. Karena itu pula, setiap aktivitas istikhlaf (pembangunan) baru dapat dinilai sesuai dengan etika agama apabila rasa aman dan sejahtera menghiasi setiap anggota masyarakat.
Dengan kata lain, pembangunan yang dihiasi oleh etika agama adalah "yang mengantar manusia menjadi lebih bebas dari penderitaan dan rasa takut".
Lihat Juga :