Permusuhan Yahudi dengan Nabi: Pengkhiatan Bani Nadhir dan Quraizhah
Sabtu, 07 September 2024 - 11:02 WIB
Baca juga: Hilonim, Yahudi Mayoritas: Identitas Israel Lebih Penting Ketimbang Yahudi
Kaum Muslimin secepatnya bertindak mengepung perkampungan Yahudi Bani Nadhir selama enam hari enam malam lamanya. Allah menimbulkan rasa takut di hati musuh itu, mereka cepat-cepat minta izin kepada Rasulullah supaya boleh meninggalkan kota Madinah.
Nabi mengizinkan dengan syarat hanya membawa sekadar yang dapat dibawa oleh seekor unta dan tidak boleh membawa baju besi. Di antara mereka ada yang menetap di Khaibar, ada pula yang menetap di Syam.
Bani Quraizhah
Bani Quraizhah berkhianat di saat yang sangat genting, karena kaum Muslimin terjepit di antara musuh-musuhnya, yaitu musuh yang datang dari depan, belakang, dari luar dan dalam, di saat adanya perang Ahzab.
Pada saat itu, kaum Muslimin menderita kelaparan yang sangat hebat, sehingga mereka mengikat batu ke perut mereka. Mereka dikepung musuh dari segenap penjuru.
Saat itu Yahudi Bani Nadhir mengajak Yahudi Bani Quraizhah bergabung dengan orang Quraish dalam perang Ahzab menghancurkan Islam.
Ka’ab pemimpin Bani Quraizhah menerima ajakan itu. Mereka bertekad menghancurkan Islam. Nabi mengutus Sa’ad bin Mu’az ketua suku Aus dan Sa’ad bin Ubadah ketua suku Khazraj untuk memperingatkan Ka’ab akan bahaya pengkhianatan itu.
Baca juga: Mayoritas Yahudi yang Menjajah Palestina adalah Keturunan Yahudi Khazar
Akan tetapi peringatan itu diterima Ka’ab dengan sangat kasar dan angkuh. Akhirnya, perang Ahzab selesai. Musuh- musuh yang menyerang Madinah kembali ke negeri masing-masing dengan tangan hampa.
Kaum Muslimin bergerak cepat mengepung tempat-tempat Bani Quraizhah. Pengepungan itu menyusahkan Yahudi Bani Quraizhah, akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka. Tetapi sesal kemudian tak berguna.
Kaum Muslimin secepatnya bertindak mengepung perkampungan Yahudi Bani Nadhir selama enam hari enam malam lamanya. Allah menimbulkan rasa takut di hati musuh itu, mereka cepat-cepat minta izin kepada Rasulullah supaya boleh meninggalkan kota Madinah.
Nabi mengizinkan dengan syarat hanya membawa sekadar yang dapat dibawa oleh seekor unta dan tidak boleh membawa baju besi. Di antara mereka ada yang menetap di Khaibar, ada pula yang menetap di Syam.
Bani Quraizhah
Bani Quraizhah berkhianat di saat yang sangat genting, karena kaum Muslimin terjepit di antara musuh-musuhnya, yaitu musuh yang datang dari depan, belakang, dari luar dan dalam, di saat adanya perang Ahzab.
Pada saat itu, kaum Muslimin menderita kelaparan yang sangat hebat, sehingga mereka mengikat batu ke perut mereka. Mereka dikepung musuh dari segenap penjuru.
Saat itu Yahudi Bani Nadhir mengajak Yahudi Bani Quraizhah bergabung dengan orang Quraish dalam perang Ahzab menghancurkan Islam.
Ka’ab pemimpin Bani Quraizhah menerima ajakan itu. Mereka bertekad menghancurkan Islam. Nabi mengutus Sa’ad bin Mu’az ketua suku Aus dan Sa’ad bin Ubadah ketua suku Khazraj untuk memperingatkan Ka’ab akan bahaya pengkhianatan itu.
Baca juga: Mayoritas Yahudi yang Menjajah Palestina adalah Keturunan Yahudi Khazar
Akan tetapi peringatan itu diterima Ka’ab dengan sangat kasar dan angkuh. Akhirnya, perang Ahzab selesai. Musuh- musuh yang menyerang Madinah kembali ke negeri masing-masing dengan tangan hampa.
Kaum Muslimin bergerak cepat mengepung tempat-tempat Bani Quraizhah. Pengepungan itu menyusahkan Yahudi Bani Quraizhah, akhirnya mereka menyesali perbuatan mereka. Tetapi sesal kemudian tak berguna.
Lihat Juga :