Kisah Mualaf Menachem Ali, Pakar Filologi yang Menjadi Pendakwah Kenamaan
Jum'at, 13 September 2024 - 16:54 WIB
Menurut Ali, ada dua faktor krusial yang menjadikannya terus mencari. Salah satunya berhubungan dengan kitab agamanya dulu.
"Ini pengalaman saya pribadi ya. Pertama, firman Allah yang menjadi buku atau kitab itu problem. Kedua, firman Allah yang menjadi manusia itu problem." Ucap Menachem Ali, dikutip Jumat (13/9/2024).
Pada faktor pertama soal firman Allah yang menjadi buku atau kitab, Ali mempertanyakan kesepakatan antara corak-corak kekristenan di dunia. Ia menyebut tiga kelompok besar yang masing-masing punya Alkitab, namun isinya berbeda dalam artian ada yang 73 buku, 66 buku hingga 78 buku.
“Artinya apa, semua kekristenan di dunia memang nama kitabnya sama (Alkitab). Tetapi, sebenarnya isinya itu diperdebatkan. Mana yang wahyu dan bukan itu tidak ada kesepahaman dan kesepakatan.” sambung Ali.
Lalu, Ali mencoba membandingkannya dengan kitab suci umat Islam, Al Qur’an. Terlepas dari mazhab atau organisasi apa pun yang diikuti, kitabnya hanya satu dan itu bersifat final serta tidak diperdebatkan.
Setelah resmi menjadi mualaf dan masuk Islam, Ali mulai beralih menjadi seorang pendakwah bersama spesialisasinya. Tak jarang, ia juga terlibat dalam ‘mengislamkan’ seseorang untuk menjadi mualaf.
Demikianlah ulasan mengenai kisah mualaf Menachem Ali.
Baca juga: Kisah Mualaf Kapolda Papua Mathius D Fakhiri, Akhirnya Mantap Peluk Agama Islam
Wallahu a’lam
"Ini pengalaman saya pribadi ya. Pertama, firman Allah yang menjadi buku atau kitab itu problem. Kedua, firman Allah yang menjadi manusia itu problem." Ucap Menachem Ali, dikutip Jumat (13/9/2024).
Pada faktor pertama soal firman Allah yang menjadi buku atau kitab, Ali mempertanyakan kesepakatan antara corak-corak kekristenan di dunia. Ia menyebut tiga kelompok besar yang masing-masing punya Alkitab, namun isinya berbeda dalam artian ada yang 73 buku, 66 buku hingga 78 buku.
“Artinya apa, semua kekristenan di dunia memang nama kitabnya sama (Alkitab). Tetapi, sebenarnya isinya itu diperdebatkan. Mana yang wahyu dan bukan itu tidak ada kesepahaman dan kesepakatan.” sambung Ali.
Lalu, Ali mencoba membandingkannya dengan kitab suci umat Islam, Al Qur’an. Terlepas dari mazhab atau organisasi apa pun yang diikuti, kitabnya hanya satu dan itu bersifat final serta tidak diperdebatkan.
Setelah resmi menjadi mualaf dan masuk Islam, Ali mulai beralih menjadi seorang pendakwah bersama spesialisasinya. Tak jarang, ia juga terlibat dalam ‘mengislamkan’ seseorang untuk menjadi mualaf.
Demikianlah ulasan mengenai kisah mualaf Menachem Ali.
Baca juga: Kisah Mualaf Kapolda Papua Mathius D Fakhiri, Akhirnya Mantap Peluk Agama Islam
Wallahu a’lam
(wid)
Lihat Juga :