Kisah Pejuang Palestina Tawfiq Chaovali: Meninggal setelah 40 Tahun Dipenjara Austria

Selasa, 17 September 2024 - 05:15 WIB
Beberapa laporan mengklaim bahwa penumpang di dalamnya termasuk pilot militer Israel yang terlibat dalam invasi Lebanon. Namun, klaim ini kemudian dibantah oleh PLO.

Para pejuang kelompok Abu Nidal telah memasuki Austria menggunakan paspor Tunisia yang diperoleh di Libya. Dua penyerang terluka dan ditangkap setelah pengejaran mobil yang panjang, sementara Abdel Aziz Merzoughi, salah satu pria bersenjata, tewas setelah kendaraan mereka dihentikan di jalan dekat ibu kota Slovakia, Bratislava.

Chaovali dan Mongi Ben Saadaoui, dua penyerang lainnya, kemudian ditangkap oleh polisi Austria dengan luka parah.

Awalnya, kedua pria itu menolak memberikan pernyataan. "Mereka tidak memiliki kartu identitas. Ketika ditanya apakah mereka orang Palestina, mereka menjawab, 'Saya berbicara bahasa Inggris,'" demikian dilaporkan surat kabar Austria Die Presse pada tanggal 28 Desember 1985.

Kemudian diketahui bahwa keduanya adalah pengungsi Palestina dari kamp Sabra dan Shatila, dan Chaovali telah menyaksikan pembantaian yang mengerikan itu secara langsung.

Baca juga: Kisah Gadis Palestina Marah Bakir: Diberondong 14 Peluru Israel, Dipenjara di Usia 16 Tahun

Mereka telah dilatih untuk misi di Lebanon dan telah bertemu dengan para penyerang Roma di Swiss. Kelompok Abu Nidal, yang juga dikenal sebagai Dewan Revolusi Fatah, mengaku bertanggung jawab atas serangan di Wina dan Roma sebagai balasan atas pembantaian yang dilakukan oleh pasukan Israel dan sekutu mereka di Lebanon.

Khususnya, pembantaian di Sabra dan Shatila, yang dilakukan pada tanggal 16 September 1982, oleh pendudukan Israel dan milisi Falangis, mengakibatkan pemerkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan antara 2.000 hingga 3.500 pengungsi Palestina dan warga sipil Lebanon.

Chaovali dan rekan-rekannya berusaha membalas dendam atas kekejaman ini, serta atas sejumlah pembantaian lain yang dilakukan oleh pasukan Israel dan proksi mereka di Lebanon.

Salah satu penyerang yang selamat dari serangan di Roma juga kehilangan ayahnya dalam pembantaian Sabra dan Shatila.

Pada malam tanggal 27 Desember 1985, seorang penelepon anonim menghubungi sebuah stasiun radio Spanyol, mengklaim bahwa Organisasi Abu Nidal, atau Dewan Revolusi Fatah, bertanggung jawab atas serangan di Wina dan Roma. Kelompok tersebut kemudian secara resmi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut dengan nama "Sel-Sel Fedayeen Arab".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!