Kisah Perang Memperebutkan Mesir antara Daulah Abbasiyah dan Daulah Fatimiyah
Sabtu, 09 November 2024 - 09:40 WIB
Selama 20 tahun pertama dari berdirinya Daulah Fatimiyah selalu terjadi pergolakan di antara dua pemerintahan tersebut untuk memperebutkan Mesir. Ilustrasi: AI
DAULAH Fatimiyah mengalami masa petumbuhan saat berada di bawah tiga khalifah yaitu: Khalifah Ubaidillah Al-Mahdi (909-934 M), Khalifah Al-Qaim (934-946 M), dan Khalifah Al-Mansur (946-953 M). Pada masa ini ibu kota Daulah Fatimiyah masih berada di Maroko .
Dr. H. Syamruddin Nasution, M.Ag. dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013) menuturkan tidak lama setelah berdiri Daulah Fatimiyah di Maroko (909 M) maka Abdurrahman III yang memerintah Daulah Umayyah di Spanyol (921-961 M) tidak mau lagi memakai gelar Sultan karena itu dia memproklamirkan diri pula memakai gelar Khalifah di Cordova setelah memahami kelemahan Khalifah Abbasiyah di Baghdad.
Oleh sebab itu pada waktu yang bersamaan terdapat tiga Khalifah di dunia Islam, Khalifah Daulah Abbasiyah di Baghdad, Khalifah Daulah Umayyah di Cordova dan Khalifah Daulah Fatimiyah di Mesir. Ketiga kekhalifahan itu satu sama lainnya tidak saling berhubungan di bidang politik tetapi berhubungan di bidang ilmu pengetahuan.
Baca juga: Kekhalifahan Dinasti Fatimiyah : Pendiri, Sejarah, dan Kekayaan
Dalam perkembangannya Daulah Fatimiyah ingin memindahkan ibu kota pemerintahan mereka ke Mesir untuk mempermudah pengaruh ke timur dan barat karena letak Mesir berada di antara keduanya, sementara Daulah Abbasiyah ingin mempertahankan Mesir jangan lepas dari wilayah pemerintahan mereka.
Maka selama 20 tahun pertama dari berdirinya Daulah Fatimiyah selalu terjadi pergolakan di antara dua pemerintahan tersebut untuk memperebutkan Mesir.
Pada tahun 1003 M/301 H, 4 tahun setelah Ubaidillah Al-Mahdi berkuasa, dia mengirim pasukan terdiri dari orang-orang Maroko dalam usaha hendak merebut Mesir. Pasukan itu langsung dipimpin oleh anaknya, Abu Al-Qasim, dibantu oleh Panglima Al-Kuttam ibn Yusuf. Pasukan ini berhasil menaklukkan kota Iskandariyah.
Akan tetapi Khalifah Daulah Abbasiyah Al-Muktadir mengirim pasukan dalam jumlah besar di bawah pimpinan Muamis Al-Khadim dan dia dapat mengalahkan tentara Daulah Fatimiyah di dekat Al-Jarirah.
Pasukan Daulah Fatimiyah terpaksa mundur balik ke Maroko. Dengan membawa bibit-bibit permusuhan yang semakin membara.
Usaha kedua, pada tahun 1009M/307 H, enam tahun kemudian, Khalifah Al-Mahdi dari Daulah Fatimiyah kembali mengirim pasukan di bawah pimpinan Abu Al-Qasim. Pasukan ini berhasil menaklukkan kota Iskandariyah dan Al-Jarirah, tetapi Daulah Abbasiyah mengirim pasukan besar lagi di bawah pimpinan Muannis Al-Khadam. Tentara Daulah Fatimiyah terpukul undur dan kapal-kapal mereka dibakar pasukan Abbasiyah.
Dr. H. Syamruddin Nasution, M.Ag. dalam bukunya berjudul "Sejarah Peradaban Islam" (Yayasan Pusaka Riau, 2013) menuturkan tidak lama setelah berdiri Daulah Fatimiyah di Maroko (909 M) maka Abdurrahman III yang memerintah Daulah Umayyah di Spanyol (921-961 M) tidak mau lagi memakai gelar Sultan karena itu dia memproklamirkan diri pula memakai gelar Khalifah di Cordova setelah memahami kelemahan Khalifah Abbasiyah di Baghdad.
Oleh sebab itu pada waktu yang bersamaan terdapat tiga Khalifah di dunia Islam, Khalifah Daulah Abbasiyah di Baghdad, Khalifah Daulah Umayyah di Cordova dan Khalifah Daulah Fatimiyah di Mesir. Ketiga kekhalifahan itu satu sama lainnya tidak saling berhubungan di bidang politik tetapi berhubungan di bidang ilmu pengetahuan.
Baca juga: Kekhalifahan Dinasti Fatimiyah : Pendiri, Sejarah, dan Kekayaan
Dalam perkembangannya Daulah Fatimiyah ingin memindahkan ibu kota pemerintahan mereka ke Mesir untuk mempermudah pengaruh ke timur dan barat karena letak Mesir berada di antara keduanya, sementara Daulah Abbasiyah ingin mempertahankan Mesir jangan lepas dari wilayah pemerintahan mereka.
Maka selama 20 tahun pertama dari berdirinya Daulah Fatimiyah selalu terjadi pergolakan di antara dua pemerintahan tersebut untuk memperebutkan Mesir.
Pada tahun 1003 M/301 H, 4 tahun setelah Ubaidillah Al-Mahdi berkuasa, dia mengirim pasukan terdiri dari orang-orang Maroko dalam usaha hendak merebut Mesir. Pasukan itu langsung dipimpin oleh anaknya, Abu Al-Qasim, dibantu oleh Panglima Al-Kuttam ibn Yusuf. Pasukan ini berhasil menaklukkan kota Iskandariyah.
Akan tetapi Khalifah Daulah Abbasiyah Al-Muktadir mengirim pasukan dalam jumlah besar di bawah pimpinan Muamis Al-Khadim dan dia dapat mengalahkan tentara Daulah Fatimiyah di dekat Al-Jarirah.
Pasukan Daulah Fatimiyah terpaksa mundur balik ke Maroko. Dengan membawa bibit-bibit permusuhan yang semakin membara.
Usaha kedua, pada tahun 1009M/307 H, enam tahun kemudian, Khalifah Al-Mahdi dari Daulah Fatimiyah kembali mengirim pasukan di bawah pimpinan Abu Al-Qasim. Pasukan ini berhasil menaklukkan kota Iskandariyah dan Al-Jarirah, tetapi Daulah Abbasiyah mengirim pasukan besar lagi di bawah pimpinan Muannis Al-Khadam. Tentara Daulah Fatimiyah terpukul undur dan kapal-kapal mereka dibakar pasukan Abbasiyah.
Lihat Juga :