Pendidikan Muhammadiyah: Kisah KH Ahmad Dahlan Dianggap Muktazilah sampai Murtad
Senin, 18 November 2024 - 08:47 WIB
Perjuangan Kiai Ahmad Dahlan untuk memasukkan materi agama ke dalam sekolah tidak berhenti di kalangan internal umat Islam saja. Pada April 1922 ia meminta kepada pemerintah agar memberi izin bagi orang Islam untuk mengajarkan agama Islam di sekolah-sekolah Goebernemen.
Usaha ini berhasil. Kiai Ahmad Dahlan sendiri juga mengajar agama di OSVIA (sekolah pamong praja) di Magelang, dan Kweekschool (sekolah guru) di Jetis, Jogjakarta.
Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Kiai Ahmad Dahlan sengaja memilih dua sekolah tersebut karena dalam pandangannya para guru dan pamong praja adalah kelompok strategis yang mampu membawa perubahan di masyarakat.
Puncaknya, Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah swasta yang meniru sekolah Gubernemen dengan pelajaran agama di dalamnya.
Ketiga, Kiai Ahmad Dahlan memberikan ceramah agama menjelang dimulainya rapat-rapat di Budi Utomo. Ini merupakan terobosan baru di mana Ahmad Dahlan memberikan pendidikan agama non-formal.
Kiai Ahmad Dahlan menilai para anggota Budi Utomo adalah intelektual yang perlu mendapatkan penanaman nilai-nilai dan jiwa agama yang memperkuat komitmen dan kepribadian sebagai agent pembaharuan.
Secara personal Kiai Ahmad Dahlan tidak hanya memiliki kedekatan dengan Budi Utomo, tetapi secara strategis beliau menjadikan organisasi elite priayi Jawa ini sebagai akses untuk mengembangkan gerakan Muhammadiyah.
Gagasan pendirian Muhammadiyah sebagai organisasi justru datang dari murid-murid Kiai Ahmad Dahlan di Budi Utomo. Dengan dibentuknya organisasi gagasan pembaharuan Muhammadiyah dapat terlembaga dan berkesinambungan.
Selain pembaharuan kurikulum, Kiai Ahmad Dahlan juga melakukan pembaharuan metode pendidikan Islam.
Usaha ini berhasil. Kiai Ahmad Dahlan sendiri juga mengajar agama di OSVIA (sekolah pamong praja) di Magelang, dan Kweekschool (sekolah guru) di Jetis, Jogjakarta.
Baca juga: Kisah KH Hasyim Asy'ari dan KH Ahmad Dahlan, Dua Tokoh Satu Guru
Kiai Ahmad Dahlan sengaja memilih dua sekolah tersebut karena dalam pandangannya para guru dan pamong praja adalah kelompok strategis yang mampu membawa perubahan di masyarakat.
Puncaknya, Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah swasta yang meniru sekolah Gubernemen dengan pelajaran agama di dalamnya.
Ketiga, Kiai Ahmad Dahlan memberikan ceramah agama menjelang dimulainya rapat-rapat di Budi Utomo. Ini merupakan terobosan baru di mana Ahmad Dahlan memberikan pendidikan agama non-formal.
Kiai Ahmad Dahlan menilai para anggota Budi Utomo adalah intelektual yang perlu mendapatkan penanaman nilai-nilai dan jiwa agama yang memperkuat komitmen dan kepribadian sebagai agent pembaharuan.
Secara personal Kiai Ahmad Dahlan tidak hanya memiliki kedekatan dengan Budi Utomo, tetapi secara strategis beliau menjadikan organisasi elite priayi Jawa ini sebagai akses untuk mengembangkan gerakan Muhammadiyah.
Gagasan pendirian Muhammadiyah sebagai organisasi justru datang dari murid-murid Kiai Ahmad Dahlan di Budi Utomo. Dengan dibentuknya organisasi gagasan pembaharuan Muhammadiyah dapat terlembaga dan berkesinambungan.
Selain pembaharuan kurikulum, Kiai Ahmad Dahlan juga melakukan pembaharuan metode pendidikan Islam.
Lihat Juga :