Larangan Adam dan Hawa Mendekati Pohon, Terkait Hubungan Seks?
Selasa, 26 November 2024 - 12:57 WIB
Kedua, redaksi Firman Allah sebelum mereka mendekati pohon tersebut adalah dalam bentuk dual ("Janganlah kamu berdua mendekati pohon ini," QS. al-Baqarah : 35), tetapi setelah mereka mendekatinya (memakan buah terlarang) redaksi ayat berbentuk plural atau jama' "Turunlah kamu, sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain" ( Q.S. al-Baqarah : 36).
Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan seks tersebut. (13)
Baca juga: Masalah Takwil Menurut Kaum Kebatinan dan Sufi
Quraish Shihab mengatakan pendapat ini bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan.
Pertama, ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya, sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud.
Kedua, Kosakata "pohon" ditakwilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung, dan anehnya "daun-daun surga" dipahami secara hakiki.
Ketiga, di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh, karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal, tak sebagaimana dipahami oleh dr. Mustafa Mahmud.
"Contoh yang dikemukakan tersebut menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an, apalagi pentakwilan ayat-ayatnya, membutuhkan, di samping nalar, juga penguasaan bahasa Arab," ujar Quraish Shihab.
Baca juga: Penggunaan Takwil dan Metafora dalam Menafsirkan Al-Quran
Hal ini menunjukkan bahwa ketika itu mereka yang tadinya hanya berdua (Adam dan Hawa) kini telah menjadi lebih dari dua orang dengan adanya janin yang dikandung oleh Hawa setelah hubungan seks tersebut. (13)
Baca juga: Masalah Takwil Menurut Kaum Kebatinan dan Sufi
Quraish Shihab mengatakan pendapat ini bertentangan dengan teks ayat-ayat al-Qur'an serta kaidah-kaidah kebahasaan.
Pertama, ayat al-Qur'an menggambarkan bahwa keadaan tanpa busana terjadi setelah atau akibat dari memakan buah pohon terlarang bukan sebelumnya, sebagaimana dipahami oleh Mustafa Mahmud.
Kedua, Kosakata "pohon" ditakwilkan atau dipahami secara metaforis tanpa ada argumentasi pendukung, dan anehnya "daun-daun surga" dipahami secara hakiki.
Ketiga, di sisi lain bahasa Arab tak menganggap wujud janin sebagai wujud yang penuh, karena itu wanita hamil akan tetap diperlakukan oleh bahasa sebagai wujud tunggal, tak sebagaimana dipahami oleh dr. Mustafa Mahmud.
"Contoh yang dikemukakan tersebut menunjukkan betapa pemahaman ayat-ayat al-Qur'an, apalagi pentakwilan ayat-ayatnya, membutuhkan, di samping nalar, juga penguasaan bahasa Arab," ujar Quraish Shihab.
Baca juga: Penggunaan Takwil dan Metafora dalam Menafsirkan Al-Quran
(mhy)
Lihat Juga :