Sejarah Lahirnya Ahmadiyah: Ketika Umat Islam Tenggelam ke Tingkat Paling Bawah
Kamis, 28 November 2024 - 16:53 WIB
Lahirnya Ahmadiyah tidak terlepas dari situasi dan kondisi umat Islam sendiri pada saat itu. Ilustrasi: AI
LAHIRNYAaliran Ahmadiyah merupakan serentetan peristiwa sejarah dalam Islam , yang kemunculannya tidak terlepas dari situasi dan kondisi umat Islam sendiri pada saat itu.
Lothrop Stoddard dalam bukunya berjudul "Dunia Baru Islam" (Panitia Penerbit, 1966) menyebutsejak kekalahan Turki Utsmani dalam serangannya ke benteng Wina tahun 1683, pihak Barat mulai bangkit menyerang kerajaan tersebut, dan serangan itu lebih efektif lagi di abad ke-18.
Selanjutnya di abad berikutnya bangsa Eropa didorong oleh semangat revolusi industri dan ditunjang oleh berbagai penemuan baru, mereka mampu mencipta senjata-senjata modern.
Secara agresif mereka dapat menjarah daerah-daerah Islam di satu pihak, sedangkan di pihak lain umatIslam sendiri masih tenggelam dalam kebodohan dan sikap yang apatis dan fatalistis.
"Akhirnya Inggris dapat merampas India dan Mesir, Perancis dapat menguasai Afrika Utara, sedangkan bangsa Eropa lainnya dapat menjarah daerah-daerah Islam lainnya," tulisLothrop Stoddard.
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Sesudah India menjadi koloni Inggris, tampaknya sikap ummat Islam yang masih sangat tradisional dan fatalistis, dengan disertai semangat antipati dan fanatisme keagamaan yang berlebihan dalam menghadapi tradisi Barat, menyebabkan mereka semakin terisolasi. Keadaan kaum Muslimin India ini, semakin buruk terutama sesudah terjadinya pemberontakan Mutiny di tahun 1857.
Sebagai akibat pemberontakan tersebut, pihak Inggris menjadi lebih curiga dan bersikap reaksioner terhadap ummat Islam. Inggris berkeyakinan bahwa ummat Islamlah yang menjadi biang keladi pemberontakan tersebut, dan oleh karena itu harus bertanggung jawab.
Selain itu ia pun menuduh umatIslam ingin mengembalikan hak-hak kemaharajaan Mughal , di samping itu Inggris menganggap oposisi umat Muslim adalah karena didorong oleh semangat nasionalisme yang menyala-nyala, sedangkan kaum Hindu tampak dapat menyembunyikannya, sehingga mereka dapat diajak bekerja sama dengan pemerintah Inggris.
"Dengan demikian, posisi kaum Hindu jauh lebih baik bila dibandingkan dengan posisi ummat Islam," tambahK. 'Ali dalam"History of India, Pakistan & Bangladesh, (Dacca: 'Ali Publication, 1980),
Sebagaimana diketahui, kaum Hindu di bawah pemerintahan kolonial Inggris, lebih bersikap kooperatif daripada ummat Islam, karena itu sikap nonkooperatif ummat Islam India saat itu semakin memojokkan posisi mereka serta membawanya ke dalam situasi keterasingan di negeri sendiri.
Baca juga: Komnas HAM Desak SKB 3 Menteri tentang Ahmadiyah Dicabut
Selain itu, mereka semakin tenggelam dalam keterbelakangan dan perselisihan dengan sesama Muslim, karena masalah khilafiyyah di satu pihak, dan di pihak lain hubungan di antara mereka terutama yang telah mendapat didikan sistem Barat, semakin jauh jarak yang memisahkannya.
Lothrop Stoddard dalam bukunya berjudul "Dunia Baru Islam" (Panitia Penerbit, 1966) menyebutsejak kekalahan Turki Utsmani dalam serangannya ke benteng Wina tahun 1683, pihak Barat mulai bangkit menyerang kerajaan tersebut, dan serangan itu lebih efektif lagi di abad ke-18.
Selanjutnya di abad berikutnya bangsa Eropa didorong oleh semangat revolusi industri dan ditunjang oleh berbagai penemuan baru, mereka mampu mencipta senjata-senjata modern.
Secara agresif mereka dapat menjarah daerah-daerah Islam di satu pihak, sedangkan di pihak lain umatIslam sendiri masih tenggelam dalam kebodohan dan sikap yang apatis dan fatalistis.
"Akhirnya Inggris dapat merampas India dan Mesir, Perancis dapat menguasai Afrika Utara, sedangkan bangsa Eropa lainnya dapat menjarah daerah-daerah Islam lainnya," tulisLothrop Stoddard.
Baca juga: Pandangan Islam Terhadap Syiah dan Ahmadiyah
Sesudah India menjadi koloni Inggris, tampaknya sikap ummat Islam yang masih sangat tradisional dan fatalistis, dengan disertai semangat antipati dan fanatisme keagamaan yang berlebihan dalam menghadapi tradisi Barat, menyebabkan mereka semakin terisolasi. Keadaan kaum Muslimin India ini, semakin buruk terutama sesudah terjadinya pemberontakan Mutiny di tahun 1857.
Sebagai akibat pemberontakan tersebut, pihak Inggris menjadi lebih curiga dan bersikap reaksioner terhadap ummat Islam. Inggris berkeyakinan bahwa ummat Islamlah yang menjadi biang keladi pemberontakan tersebut, dan oleh karena itu harus bertanggung jawab.
Selain itu ia pun menuduh umatIslam ingin mengembalikan hak-hak kemaharajaan Mughal , di samping itu Inggris menganggap oposisi umat Muslim adalah karena didorong oleh semangat nasionalisme yang menyala-nyala, sedangkan kaum Hindu tampak dapat menyembunyikannya, sehingga mereka dapat diajak bekerja sama dengan pemerintah Inggris.
"Dengan demikian, posisi kaum Hindu jauh lebih baik bila dibandingkan dengan posisi ummat Islam," tambahK. 'Ali dalam"History of India, Pakistan & Bangladesh, (Dacca: 'Ali Publication, 1980),
Sebagaimana diketahui, kaum Hindu di bawah pemerintahan kolonial Inggris, lebih bersikap kooperatif daripada ummat Islam, karena itu sikap nonkooperatif ummat Islam India saat itu semakin memojokkan posisi mereka serta membawanya ke dalam situasi keterasingan di negeri sendiri.
Baca juga: Komnas HAM Desak SKB 3 Menteri tentang Ahmadiyah Dicabut
Selain itu, mereka semakin tenggelam dalam keterbelakangan dan perselisihan dengan sesama Muslim, karena masalah khilafiyyah di satu pihak, dan di pihak lain hubungan di antara mereka terutama yang telah mendapat didikan sistem Barat, semakin jauh jarak yang memisahkannya.
Lihat Juga :