Kiai Ahmad Dahlan Terinspirasi Surat Ali Imran Ayat 104 dalam Membangun Organisasi Modern
Selasa, 10 Desember 2024 - 10:50 WIB
Khotbah Jumat dan Hari Raya dilakukan dengan Bahasa Indonesia (Melayu) dan Jawa, salat Hari Raya diselenggarakan di tempat terbuka, pendirian tempat ibadah bagi kaum perempuan yang disebut musala, pengelolaan dengan manajemen modern praktik zakat mal, zakat fitrah, dan ibadah kurban bagi aksi pemberdayaan kaum fakir miskin (mustadl’afin, proletar dan marginal).
Legan Golek Momongan
Jalan pikiran demikian dan berbagai aksi pemberdayaan kaum tertindas ketika itu sulit dicari padanannya dalam pemikiran kaum Salafi yang selama ini menjadi referensi tunggal kebenaran pemahaman tentang ajaran Islam.
Muncullah slogan yang terkenal dalam tradisi Muhammadiyah tentang “sedikit bicara banyak kerja” atau “legan golek momongan” (bujangan mencari anak asuh) yang kemudian menjadi etos aktivis gerakan ini di kemudian hari.
Slogan dan etos tersebut mengindikasikan sebuah praksis keberagamaan yang mendasari hampir semua kerja sosial-budaya yang dikembangkan Kiai Ahmad Dahlan.
Hingga kini bentuk kegiatan Muhammadiyah lebih merupakan perluasan dari apa yang telah dimulai Kiai Ahmad Dahlan sampai ia wafat pada Februari 1923.
Namun tidak mudah menyatakan berbagai praktik gerakan pembaruan Kiai tersebut dilakukan berdasar semangat Protestanisme.
Kiai Ahmad Dahlan sendiri tidak pernah membaca karya Max Weber, apalagi sejarah pembaharuan Martin Luther.
Kritik ketertutupan ijtihad dari Jamaludin Al-Afghani (selanjutnya Afghani) dan tokoh pembaharu Islam lainnya telah membuka wawasan baru dunia Islam dan memberi inspirasi gerakan Islam di berbagai belahan dunia, seperti kelahiran Muhammadiyah di Tanah Air.
Sementara gagasan Pan-Islamisme yang melahirkan gerakan pembebasan di negeri-negeri muslim dari kolonialisme, melahirkan sikap anti Barat dan segala produk pemikiran modern non-Islam.
Lebih jauh, ajaran Islam yang disusun para ulama (Salaf) pada abad-abad pertama pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW kemudian berkembang sebagai ideologi bahkan mengalami peng-kudusan.
Kecenderungan ideologisasi dan peng-kudus-an atas ajaran Islam dari tafsir ulama Salaf itu lebih menjelaskan berbagai kesulitan pengembangan gagasan duniawi yang antara lain direkomendasi oleh etos Protestanisme.
Kesulitan serupa dihadapi bangsa-bangsa Muslim yang telah merdeka dan bebas dari kolonialisme mengenai bagaimana menyusun kehidupan negara di tengah percaturan peradaban dunia modern dan global.
Abdul Munir Mukhan mengatakan kecenderungan ideologisasi, lebih-lebih lagi peng-kudus-an ajaran Islam, dari tafsir para ulama Salaf bisa dilihat dari kekacauan penempatan ajaran Islam yang otentik berasal dari wahyu Tuhan dan kenabian Muhammad SAW dengan ajaran Islam sebagai hasil penafsiran para ulama Salaf atas ayat-ayat Alquran dan Sunnah Nabi.
Keyakinan kebenaran mutlak dan kesempurnaan atas ajaran Islam kemudian diterakan pada ajaran Islam sebagai hasil penafsiran ulama Salaf.
Peng-kudus-an hasil pemikiran (tafsir) dari ulama Salaf seperti itu diperkuat oleh sistem hierarki ke-kudus-an yang menempatkan kehidupan generasi sahabat lebih kudus dan lebih benar dari generasi tabi'in (pasca sahabat) dan seterusnya.
Posisi ulama Salaf tersebut tercermin dari ajaran Islam tentang Hari Kiamat di masa depan dalam proses sejarah sebagai kepastian degradasi etika-moral dalam perjalanan sejarah umat manusia.
Bukan Salafi dan Wahabi
Legan Golek Momongan
Jalan pikiran demikian dan berbagai aksi pemberdayaan kaum tertindas ketika itu sulit dicari padanannya dalam pemikiran kaum Salafi yang selama ini menjadi referensi tunggal kebenaran pemahaman tentang ajaran Islam.
Muncullah slogan yang terkenal dalam tradisi Muhammadiyah tentang “sedikit bicara banyak kerja” atau “legan golek momongan” (bujangan mencari anak asuh) yang kemudian menjadi etos aktivis gerakan ini di kemudian hari.
Slogan dan etos tersebut mengindikasikan sebuah praksis keberagamaan yang mendasari hampir semua kerja sosial-budaya yang dikembangkan Kiai Ahmad Dahlan.
Hingga kini bentuk kegiatan Muhammadiyah lebih merupakan perluasan dari apa yang telah dimulai Kiai Ahmad Dahlan sampai ia wafat pada Februari 1923.
Namun tidak mudah menyatakan berbagai praktik gerakan pembaruan Kiai tersebut dilakukan berdasar semangat Protestanisme.
Kiai Ahmad Dahlan sendiri tidak pernah membaca karya Max Weber, apalagi sejarah pembaharuan Martin Luther.
Kritik ketertutupan ijtihad dari Jamaludin Al-Afghani (selanjutnya Afghani) dan tokoh pembaharu Islam lainnya telah membuka wawasan baru dunia Islam dan memberi inspirasi gerakan Islam di berbagai belahan dunia, seperti kelahiran Muhammadiyah di Tanah Air.
Sementara gagasan Pan-Islamisme yang melahirkan gerakan pembebasan di negeri-negeri muslim dari kolonialisme, melahirkan sikap anti Barat dan segala produk pemikiran modern non-Islam.
Lebih jauh, ajaran Islam yang disusun para ulama (Salaf) pada abad-abad pertama pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW kemudian berkembang sebagai ideologi bahkan mengalami peng-kudusan.
Kecenderungan ideologisasi dan peng-kudus-an atas ajaran Islam dari tafsir ulama Salaf itu lebih menjelaskan berbagai kesulitan pengembangan gagasan duniawi yang antara lain direkomendasi oleh etos Protestanisme.
Kesulitan serupa dihadapi bangsa-bangsa Muslim yang telah merdeka dan bebas dari kolonialisme mengenai bagaimana menyusun kehidupan negara di tengah percaturan peradaban dunia modern dan global.
Abdul Munir Mukhan mengatakan kecenderungan ideologisasi, lebih-lebih lagi peng-kudus-an ajaran Islam, dari tafsir para ulama Salaf bisa dilihat dari kekacauan penempatan ajaran Islam yang otentik berasal dari wahyu Tuhan dan kenabian Muhammad SAW dengan ajaran Islam sebagai hasil penafsiran para ulama Salaf atas ayat-ayat Alquran dan Sunnah Nabi.
Keyakinan kebenaran mutlak dan kesempurnaan atas ajaran Islam kemudian diterakan pada ajaran Islam sebagai hasil penafsiran ulama Salaf.
Peng-kudus-an hasil pemikiran (tafsir) dari ulama Salaf seperti itu diperkuat oleh sistem hierarki ke-kudus-an yang menempatkan kehidupan generasi sahabat lebih kudus dan lebih benar dari generasi tabi'in (pasca sahabat) dan seterusnya.
Posisi ulama Salaf tersebut tercermin dari ajaran Islam tentang Hari Kiamat di masa depan dalam proses sejarah sebagai kepastian degradasi etika-moral dalam perjalanan sejarah umat manusia.
Bukan Salafi dan Wahabi
Lihat Juga :