Ketika Kiai Ahmad Dahlan Dituduh Kafir karena Meniru Sekolah Belanda
Sabtu, 09 November 2024 - 16:23 WIB
loading...
KH Ahmad Dahlan. Foto: Ist
A
A
A
Kiai Haji Ahmad Dahlan (1868 -1923) adalah Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan pendiri Muhammadiyah . Beliau dikenal banyak membuat terobosan di bidang pendidikan.
"Tidak hanya berhenti pada substansi pengajaran. Ia juga mengangkat citra pendidikan Islam dari yang tadinya bersifat non-formal menjadi sekolah formal," tulis Prof Dr. Abdul Mu’thi, M.Ed dalam buku berjudul "KH Ahmad Dahlan" Bab "Pembaharuan Pendidikan KH Ahmad Dahlan" (Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015).
Secara kelembagaan, lanjut Abdul Mu'ti, kala itu sekolah Islam telah setara dengan sekolah-sekolah Belanda . Lulusan sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak hanya diakui eksistensinya di mata masyarakat, tapi juga diakui secara hukum di hadapan pemerintah.
Secara kelembagaan, Kiai Ahmad Dahlan telah berhasil meletakkan landasan lahirnya pendidikan modern.
Baca juga: Ketika KH Ahmad Dahlan Undang Tokoh Komunis Semaoen dan Darsono
Sistem sekolah Islam dan madrasah yang sekarang ini merupakan model lembaga pendidikan Islam yang paling dominan yang merupakan pengembangan yang lebih lanjut dari sistem sekolah dan madrasah yang dikembangkan oleh Kiai Ahmad Dahlan.
"Kiai Ahmad Dahlan juga mengadopsi model manajemen dan sarana prasarana sekolah-sekolah Belanda," tutur Abdul Mu'ti.
Kendati didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan, kata Mu'ti, status sekolah Muhammadiyah bukanlah milik Kiai Ahmad Dahlan, tapi milik umat dengan organisasi Muhammadiyah sebagai pemegang otoritasnya.
Sekolah Muhammadiyah dikelola secara organisatoris dengan menggunakan tata pamong seperti yang ada di sekolah-sekolah Belanda.
Dalam konteks ini, Kiai Ahmad Dahlan telah berhasil mengubah otoritas manajemen pendidikan pesantren tradisional yang berbasiskan kharisma individu ke dalam sistem modern yang berbasiskan organisasi.
"Tidak hanya berhenti pada substansi pengajaran. Ia juga mengangkat citra pendidikan Islam dari yang tadinya bersifat non-formal menjadi sekolah formal," tulis Prof Dr. Abdul Mu’thi, M.Ed dalam buku berjudul "KH Ahmad Dahlan" Bab "Pembaharuan Pendidikan KH Ahmad Dahlan" (Museum Kebangkitan Nasional Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2015).
Secara kelembagaan, lanjut Abdul Mu'ti, kala itu sekolah Islam telah setara dengan sekolah-sekolah Belanda . Lulusan sekolah-sekolah Muhammadiyah tidak hanya diakui eksistensinya di mata masyarakat, tapi juga diakui secara hukum di hadapan pemerintah.
Secara kelembagaan, Kiai Ahmad Dahlan telah berhasil meletakkan landasan lahirnya pendidikan modern.
Baca juga: Ketika KH Ahmad Dahlan Undang Tokoh Komunis Semaoen dan Darsono
Sistem sekolah Islam dan madrasah yang sekarang ini merupakan model lembaga pendidikan Islam yang paling dominan yang merupakan pengembangan yang lebih lanjut dari sistem sekolah dan madrasah yang dikembangkan oleh Kiai Ahmad Dahlan.
"Kiai Ahmad Dahlan juga mengadopsi model manajemen dan sarana prasarana sekolah-sekolah Belanda," tutur Abdul Mu'ti.
Kendati didirikan oleh Kiai Ahmad Dahlan, kata Mu'ti, status sekolah Muhammadiyah bukanlah milik Kiai Ahmad Dahlan, tapi milik umat dengan organisasi Muhammadiyah sebagai pemegang otoritasnya.
Sekolah Muhammadiyah dikelola secara organisatoris dengan menggunakan tata pamong seperti yang ada di sekolah-sekolah Belanda.
Dalam konteks ini, Kiai Ahmad Dahlan telah berhasil mengubah otoritas manajemen pendidikan pesantren tradisional yang berbasiskan kharisma individu ke dalam sistem modern yang berbasiskan organisasi.
Lihat Juga :