10 Contoh Kultum Ramadan Singkat 5-7 Menit: Cocok untuk Tarawih, Subuh, dan Buka Puasa

Senin, 03 Maret 2025 - 17:47 WIB
Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah, Surah Ad-Dhuha, surah ke-93 dalam Al-Qur'an, terdiri dari 11 ayat yang diturunkan di Makkah. Surah ini memberikan penghiburan kepada Nabi Muhammad SAW serta mengajarkan umat Islam untuk memperhatikan kaum dhuafa, termasuk anak yatim, dan untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah.

Dalam ayat 9 hingga 11 dari Surah Ad-Dhuha yang berbunyi:

فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ٩ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ١٠ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ


Artinya: Maka terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur). Maka dari ayat tersebut ada beberapa poin penting yang harus kita perhatikan

Larangan Berlaku Sewenang-wenang terhadap Anak Yatim (Ayat 9): Allah SWT melarang umat-Nya untuk berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Ini berarti kita harus memperlakukan mereka dengan baik, tidak mengambil hak-hak mereka, dan memberikan perlindungan serta kasih sayang yang mereka butuhkan. Sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah, kita harus memuliakan anak yatim dan memperlakukan mereka sebagaimana kita ingin anak kita diperlakukan jika kita tiada.

Larangan Menghardik Peminta-minta (Ayat 10): Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak menghardik atau mengabaikan orang yang meminta-minta. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk membantu mereka sesuai kemampuan kita atau setidaknya menolak dengan cara yang baik tanpa menyakiti perasaan mereka. Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah menekankan pentingnya memberikan makan dan memenuhi hajat mereka tanpa menghardik.

Perintah Mensyukuri Nikmat Allah (Ayat 11): Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu menyebut-nyebut nikmat yang telah diberikan-Nya sebagai bentuk syukur. Ini dapat diwujudkan dengan menceritakan nikmat tersebut kepada orang lain atau dengan menggunakan nikmat tersebut untuk kebaikan. Tafsir dari NU Online menjelaskan bahwa menampakkan nikmat kepada orang lain merupakan bentuk syukur terhadap Allah.

Pada bulan Ramadan, ketika umat Islam meningkatkan ibadah dan kepedulian sosial, pesan-pesan dalam Surah Ad-Dhuha menjadi sangat relevan. Kita diajak untuk lebih peka terhadap kebutuhan anak yatim dan fakir miskin, serta selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah SWT. Dengan mengamalkan ajaran-ajaran ini, kita dapat meningkatkan kualitas ibadah dan mempererat tali silaturahmi dalam masyarakat.

Demikianlah kultum singkat mengenai Surah Ad-Dhuha yang mengajarkan kita untuk tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, tidak menghardik orang yang meminta-minta, dan selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT. Semoga kita dapat mengamalkan nilai-nilai mulia ini, terutama di bulan suci Ramadan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

8. Kultum 8 Memohon Ampun kepada Allah SWT atas segala Dosa dan Perbuatan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahim.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Hadirin yang dirahmati Allah, Surah Al-A'raf ayat 23 mengajarkan kita tentang pentingnya memohon ampun kepada Allah SWT atas segala dosa yang telah kita perbuat. Dalam konteks bulan Ramadan, momen ini menjadi waktu yang tepat untuk introspeksi dan meningkatkan kualitas ibadah kita.

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, di mana setiap umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak istighfar atau memohon ampun atas segala dosa yang telah kita lakukan. Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ayat yang mengajarkan kita tentang pentingnya taubat dan istighfar, salah satunya adalah Surah Al-A'raf ayat 23.

Surah Al-A'raf ayat 23 berbunyi:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ


Artinya: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.

Ayat ini menceritakan tentang pengakuan Nabi Adam AS dan Hawa setelah mereka melakukan kesalahan dengan memakan buah yang dilarang oleh Allah SWT. Mereka menyadari kesalahan tersebut dan segera memohon ampunan serta rahmat-Nya. Ini menunjukkan sikap rendah hati dan penyesalan yang mendalam atas dosa yang telah diperbuat.

Dalam tafsir yang disampaikan oleh Ibn Kathir, disebutkan bahwa doa ini adalah kata-kata yang diterima Adam dari Tuhannya. Hal ini menekankan bahwa memohon ampunan adalah langkah pertama menuju perbaikan diri dan mendapatkan rahmat Allah SWT.

Selama bulan Ramadan, pintu-pintu ampunan Allah SWT terbuka lebar. Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk memperbanyak istighfar dan taubat.

Marilah kita jadikan bulan Ramadan ini sebagai momentum untuk membersihkan diri dari segala dosa dengan memperbanyak istighfar dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mendapatkan rahmat dan ampunan, serta dijauhkan dari kerugian di dunia dan akhirat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

9. Kultum 9 Keutamaan Bersabar di Bulan Suci Ramadan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita kembali dengan bulan suci Ramadan, bulan penuh berkah dan ampunan. Pada kesempatan kali ini, marilah kita merenungkan makna kesabaran dalam menjalankan ibadah puasa, sebagaimana yang tercantum dalam firman Allah SWT dalam Surah Az-Zumar ayat 10:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْۗ لِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌۗ وَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌۗ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ


Artinya: Katakanlah Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Ayat ini mengandung pesan penting bagi kita, terutama dalam konteks menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk bertakwa, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam menjalankan perintah tersebut, terutama ibadah puasa, diperlukan kesabaran yang tinggi.

Kesabaran dalam berpuasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perbuatan dan ucapan yang dapat mengurangi pahala puasa. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, janganlah berkata kotor dan jangan berteriak-teriak. Jika seseorang mencacinya atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata Sesungguhnya aku sedang berpuasa.

Dalam ayat tersebut, Allah SWT juga menjanjikan bahwa orang-orang yang bersabar akan mendapatkan pahala tanpa batas. Ini menunjukkan betapa besar nilai kesabaran di sisi Allah SWT, terutama dalam menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir, kesabaran mencakup tiga hal: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi maksiat, dan sabar dalam menghadapi cobaan.

Oleh karena itu, marilah kita tingkatkan kesabaran kita dalam menjalankan ibadah puasa ini, dengan menahan diri dari segala hal yang dapat mengurangi pahala puasa, serta tetap istiqomah dalam ketaatan kepada Allah SWT. Semoga dengan kesabaran ini, kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan pahala tanpa batas dari Allah SWT.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

10. Kultum 10 Menjaga Makanan yang Dikonsumsi selama Ramadan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Alhamdulillah, kita kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan, bulan penuh berkah dan rahmat. Pada kesempatan kali ini, mari kita merenungkan firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’idah ayat 10, yang berbunyi:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ


Artinya: Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka.

Ayat ini menegaskan ancaman bagi mereka yang ingkar dan mendustakan ayat-ayat Allah. Dalam konteks Surah Al-Ma’idah, Allah SWT memberikan perintah dan larangan yang harus dipatuhi oleh orang-orang beriman, termasuk mengenai makanan halal dan haram. Pada ayat sebelumnya, Allah berfirman:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ...


Artinya: Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah, Dihalalkan bagimu (makanan) yang baik-baik...

Dalam ayat ini, Allah menjelaskan bahwa makanan yang baik dan halal diperbolehkan bagi umat Islam. Hal ini mencakup hewan ternak seperti unta, sapi, dan kambing, kecuali yang telah diharamkan seperti bangkai dan darah.

Selama bulan Ramadan, menjaga konsumsi makanan halal menjadi sangat penting. Selain sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, mengonsumsi makanan halal juga mempengaruhi kualitas ibadah kita. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Oleh karena itu, marilah kita selalu memastikan bahwa makanan yang kita konsumsi selama Ramadan adalah halal dan baik. Dengan demikian, kita dapat menjalankan ibadah puasa dengan lebih khusyuk dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dengan membahas berbagai tema, seperti keutamaan puasa, kesabaran, kebaikan dan kebatilan, serta ibadah dan akhlak dalam Islam, kultum dapat menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga 10 contoh kultum Ramadan singkat yang telah disajikan dapat menjadi inspirasi bagi para dai, guru, maupun masyarakat umum dalam menyampaikan pesan kebaikan. Mari kita manfaatkan bulan penuh berkah ini untuk meningkatkan ibadah, memperbaiki diri, dan memperbanyak amal kebaikan. M/G Alya Ramadhanty Vardiansyah

Baca juga: Salat Tarawih 11 atau 23 Rakaat, Semuanya Baik dan Sah
(wid)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!