Dai Ambassador Dompet Dhuafa Warnai Kehidupan Muslim Jawa di Kaledonia Baru
Kamis, 20 Maret 2025 - 15:32 WIB
Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2025 penugasan Kaledonia Baru, Ustaz Basyir Arif, melakukan safari Ramadan ke sejumlah kota di negara tersebut. Foto/Dok. SindoNews
NOUMEA - Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2025 penugasan Kaledonia Baru, Ustaz Basyir Arif, melakukan safari Ramadan ke sejumlah kota di negara tersebut. Safari mulai dari Noumea, Bourail, hingga Kone, dengan jarak tempuh sekitar 266 kilometer pada hari pertama Ramadan 1446 H, Sabtu (1/3/2025).
Diaspora Indonesia dan keturunannya telah ada di negera ini sejak tahun 1896, yakni pada masa kolonialisasi oleh Kerajaan Belanda. Saat itu, Belanda bekerja sama dengan Prancis membawa orang-orang suku Jawa ke Kaledonia Baru yang masih dalam proses pembangunan dan pengembangan. Sebelumnya, pulau ini ditemukan oleh James Cook pada tahun 1774.
Nama Kaledonia Baru ditetapkan karena terinspirasi dari Kota Kaledonia di Kerajaan Inggris Raya. James Cook sendiri menemukan wilayah ini tanpa niatan untuk mendudukinya, yang pada akhirnya diambil alih oleh Prancis. Maka tidak mengherankan jika orang Jawa di sini sangat mahir berbahasa Prancis dan sebagian keturunan sudah melupakan bahasa Jawa, karena hampir semuanya telah menjadi WNP (Warga Negara Prancis). Baca juga: Ramadan 1446 H, Dompet Dhuafa-Yayasan Indonesia Setara Kerja Sama Pengelolaan Zakat
"Ini bukan pengalaman pertama bagi kami berdakwah di negara Prancis. Tahun lalu kami berdakwah di Paris, Troyes, Marseille, bahkan di Belgia bagian berbahasa Prancis, meliputi Brusselle dan Louvain-la-Neuve," kata Ustaz Basyir Arif dalam siaran pers, Kamis (20/3/2025).
Tantangan terbesar berdakwah di negara sekuler yang memisahkan agama dari ruang publik ini adalah sulitnya menemukan ruang ibadah. ”Sehingga, kami harus melakukan dakwah dari rumah ke rumah, mulai dari kedutaan, konsulat, hingga ke rumah penduduk,” ujarnya.
Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan Indonesia, di mana mendirikan masjid sangatlah mudah. Sering kali juga ada musala di setiap kompleks, bahkan ada gedung yang menyediakan musala di setiap lantainya, dan ada pula pusat perbelanjaan yang memiliki masjid yang indah dan estetis.
Sementara di Marseille, tidak ada satu pun masjid meskipun banyak imigran Aljazair yang tinggal di daerah tersebut. Usulan untuk mendirikan masjid sudah lama ada dan lahan pun tersedia, tetapi untuk bisa mendapat izin dari pemerintah setempat sangatlah sulit.
Belgia lebih beruntung karena terdapat Islamic Center yang didirikan oleh Arab Saudi yang juga menanggung biaya untuk imam, pengajar, dan pengelolanya. Akan tetapi, setelah insiden pengeboman pada 2016, pengelolaan Islamic Center ini diambil alih oleh pemerintah dan kegiatan pembelajaran tidak seaktif sebelumnya.
Di Noumea, terdapat cerita serupa, di mana komunitas Jawa dulunya membangun masjid lalu merenovnya dengan dukungan dana dari Arab Saudi. Termasuk pengiriman seorang imam bernama Mustafa Hamid, seorang muslim India yang lahir di Kepulauan Fiji. Ada pula masjid lain di Kota Bourail. Masjid ini dibangun oleh masyarakat Aljazair yang banyak bekerja di area penambangan nikel.
Pada Jumat (7/3/2025), Dai Ambassador Dompet Dhuafa melakukan misi dakwah ke kediaman-kediaman anggota Asosiasi Dakwah dan Sosial Indo-Kaledonia yang dipimpin oleh Alphonse Boedjari Soenarto. Organisasi ini mencakup 324 keturunan Jawa.
Diaspora Indonesia dan keturunannya telah ada di negera ini sejak tahun 1896, yakni pada masa kolonialisasi oleh Kerajaan Belanda. Saat itu, Belanda bekerja sama dengan Prancis membawa orang-orang suku Jawa ke Kaledonia Baru yang masih dalam proses pembangunan dan pengembangan. Sebelumnya, pulau ini ditemukan oleh James Cook pada tahun 1774.
Nama Kaledonia Baru ditetapkan karena terinspirasi dari Kota Kaledonia di Kerajaan Inggris Raya. James Cook sendiri menemukan wilayah ini tanpa niatan untuk mendudukinya, yang pada akhirnya diambil alih oleh Prancis. Maka tidak mengherankan jika orang Jawa di sini sangat mahir berbahasa Prancis dan sebagian keturunan sudah melupakan bahasa Jawa, karena hampir semuanya telah menjadi WNP (Warga Negara Prancis). Baca juga: Ramadan 1446 H, Dompet Dhuafa-Yayasan Indonesia Setara Kerja Sama Pengelolaan Zakat
"Ini bukan pengalaman pertama bagi kami berdakwah di negara Prancis. Tahun lalu kami berdakwah di Paris, Troyes, Marseille, bahkan di Belgia bagian berbahasa Prancis, meliputi Brusselle dan Louvain-la-Neuve," kata Ustaz Basyir Arif dalam siaran pers, Kamis (20/3/2025).
Tantangan terbesar berdakwah di negara sekuler yang memisahkan agama dari ruang publik ini adalah sulitnya menemukan ruang ibadah. ”Sehingga, kami harus melakukan dakwah dari rumah ke rumah, mulai dari kedutaan, konsulat, hingga ke rumah penduduk,” ujarnya.
Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan Indonesia, di mana mendirikan masjid sangatlah mudah. Sering kali juga ada musala di setiap kompleks, bahkan ada gedung yang menyediakan musala di setiap lantainya, dan ada pula pusat perbelanjaan yang memiliki masjid yang indah dan estetis.
Sementara di Marseille, tidak ada satu pun masjid meskipun banyak imigran Aljazair yang tinggal di daerah tersebut. Usulan untuk mendirikan masjid sudah lama ada dan lahan pun tersedia, tetapi untuk bisa mendapat izin dari pemerintah setempat sangatlah sulit.
Belgia lebih beruntung karena terdapat Islamic Center yang didirikan oleh Arab Saudi yang juga menanggung biaya untuk imam, pengajar, dan pengelolanya. Akan tetapi, setelah insiden pengeboman pada 2016, pengelolaan Islamic Center ini diambil alih oleh pemerintah dan kegiatan pembelajaran tidak seaktif sebelumnya.
Di Noumea, terdapat cerita serupa, di mana komunitas Jawa dulunya membangun masjid lalu merenovnya dengan dukungan dana dari Arab Saudi. Termasuk pengiriman seorang imam bernama Mustafa Hamid, seorang muslim India yang lahir di Kepulauan Fiji. Ada pula masjid lain di Kota Bourail. Masjid ini dibangun oleh masyarakat Aljazair yang banyak bekerja di area penambangan nikel.
Pada Jumat (7/3/2025), Dai Ambassador Dompet Dhuafa melakukan misi dakwah ke kediaman-kediaman anggota Asosiasi Dakwah dan Sosial Indo-Kaledonia yang dipimpin oleh Alphonse Boedjari Soenarto. Organisasi ini mencakup 324 keturunan Jawa.
Lihat Juga :