Panduan Ramadhan, Berikut Hal-hal yang Dimakruhkan Saat Puasa

Minggu, 03 Mei 2020 - 17:05 WIB
Dalam sanad hadis ini diriwayatkan oleh Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amru an Nakha’i. Imam Al Baihaqi berkata tentang mereka berdua: "Ma’ruf bin Hisan adalah dha’if, dan Sulaiman bin ‘Amru an Nakha’i, lebih dha’if darinya." (Syu’abul Iman No. 3939)

Dalam Takhrijul Ihya' disebutkan:

وفيه سليمان بن عمرو النخعي أحد الكذابين .

"Dalam hadits ini terdapat Sulaiman bin 'Amru an Nakha’i, salah seorang pendusta." (Imam Zainuddin al ‘Iraqi, Takhrijul Ihya’, Juz. 2, Hal. 23, No. 723). Syeikh Albany mendha'ifkan hadits ini. (Lihat Shahih wa Dha’if Jami’ush Shaghir, Juz. 26, Hal. 384,No. 12740)

Dengan demikian, kata Ustaz Farid, tidurnya orang berpuasa sebagai ibadah merupakan pemahaman yang tidak bisa diterima. Tidur, kapan pun kita lakukan, baik ketika puasa atau tidak, jika dilatarbelakangi oleh niat mulia yakni menghindar hal-hal yang tidak bermanfaat, mengumpukan tenaga untuk bisa melakukan ketaatan, dan lain-lain, maka itu semua bernilai ibadah walau tidak sedang puasa.

Demikianlah tidurnya orang-orang saleh. Sebaliknya walau pun sedang puasa, namun tidurnya diniatkan untuk 'menghindar' rasa lapar sampai-sampai ia meninggalkan hal-hal yang lebih utama karena tidurnya, dan hal ini menunjukkan kemalasannya, maka sama sekali tidak bernilai ibadah. Jadi ibadah atau tidaknya tidur seseorang, dilihat dari apa yang melatarbelakangi atau motivasi dari tidurnya. Selesai.

Wallahu A'lam
(rhs)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!