Tak Mudah bagi Umar bin Khattab untuk Jalankan Wasiat Khalifah Abu Bakar
Rabu, 09 September 2020 - 16:30 WIB
Sesudah menyimak kata-kata Musanna dan Umar, orang banyak itu merasa sangat tercela dengan sikap mereka yang masih malas-malas itu. Mereka sudah membela Rasulullah SAW dan memuliakan agama Allah, tetapi mengapa dengan seruan Umar mereka tak mau beranjak? (Baca juga: Kisah Pertentangan Ketika Khalifah Abu Bakar Menunjuk Umar sebagai Penggantinya )
Dalam keadaan umat yang masih ragu-ragu, tiba-tiba Abu Ubaid bin Mas'ud bin Anu as-Saqafi tampil. Ia menyatakan siap berangkat ke Irak. Dialah orang pertama yang menyambut tugas ini.
Baca juga: Vaksin Jadi Retorika Bisnis, Donor Plasma Darah Terbukti Ampuh Sembuhkan COVID-19
Menyusul kemudian orang kedua, Salit bin Qais. Ketika itulah orang baru datang mengerumuni mereka dan mereka sepakat akan berangkat bersama-sama. Jumlah mereka mencapai seribu orang dari Madinah.
Umar senang sekali melihat mereka sudah berkumpul demikian. Jantungnya tergetar karena rasa bersyukur kepada Allah, bahwa kaum Muslimin sekarang sudah tergugah dari kebekuannya selama ini, yang tadinya hampir saja merusak suasana. (Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Meyakinkan Khalifah Abu Bakar tentang Pengumpulan Al-Qur'an )
Abu Ubaid
Masalah selanjutnya adalah siapa yang akan ditunjuk untuk menjadi pimpinan ekspedisi itu? Kalangan Muhajirin dan Anshar sama-sama berminat akan jabatan tersebut. Keadaan ini menjadi pemikiran mereka yang tadinya masih ragu memenuhi seruan itu. Mereka khawatir jika Khalifah Umar menyerahkan pimpinan pasukan kepada satu orang yang bukan dari Madinah sementara kebanyakan anggota pasukannya terdiri dari orang-orang Madinah.
Cepat-cepat mereka berkata kepada Khalifah: "Pimpinan mereka hendaknya seorang sahabat yang mula-mula, dari Muhajirin dan Anshar ."
Baca juga: Satu Peserta Sakit, AstraZeneca Hentikan Tes Vaksin Covid-19 Global
Tetapi sikap ragu-ragu mereka selama tiga hari pertama pemerintahan Umar telah melukai hati dan masih terasa bekasnya. Oleh karena itu Umar langsung menjawab mereka: "Tidak! Allah telah mengangkat Saudara-saudara karena kesigapan dan kecepatan Saudara-saudara menghadapi musuh. Kalau kalian takut dan enggan menghadapi musuh, lebih baik pimpinan diserahkan kepada orang yang mau mempertahankan dan menyambut seruan itu. Pimpinan akan saya serahkan hanya kepada orang yang pertama menyambut tugas ini.”
Dalam keadaan umat yang masih ragu-ragu, tiba-tiba Abu Ubaid bin Mas'ud bin Anu as-Saqafi tampil. Ia menyatakan siap berangkat ke Irak. Dialah orang pertama yang menyambut tugas ini.
Baca juga: Vaksin Jadi Retorika Bisnis, Donor Plasma Darah Terbukti Ampuh Sembuhkan COVID-19
Menyusul kemudian orang kedua, Salit bin Qais. Ketika itulah orang baru datang mengerumuni mereka dan mereka sepakat akan berangkat bersama-sama. Jumlah mereka mencapai seribu orang dari Madinah.
Umar senang sekali melihat mereka sudah berkumpul demikian. Jantungnya tergetar karena rasa bersyukur kepada Allah, bahwa kaum Muslimin sekarang sudah tergugah dari kebekuannya selama ini, yang tadinya hampir saja merusak suasana. (Baca juga: Kisah Umar bin Khattab Meyakinkan Khalifah Abu Bakar tentang Pengumpulan Al-Qur'an )
Abu Ubaid
Masalah selanjutnya adalah siapa yang akan ditunjuk untuk menjadi pimpinan ekspedisi itu? Kalangan Muhajirin dan Anshar sama-sama berminat akan jabatan tersebut. Keadaan ini menjadi pemikiran mereka yang tadinya masih ragu memenuhi seruan itu. Mereka khawatir jika Khalifah Umar menyerahkan pimpinan pasukan kepada satu orang yang bukan dari Madinah sementara kebanyakan anggota pasukannya terdiri dari orang-orang Madinah.
Cepat-cepat mereka berkata kepada Khalifah: "Pimpinan mereka hendaknya seorang sahabat yang mula-mula, dari Muhajirin dan Anshar ."
Baca juga: Satu Peserta Sakit, AstraZeneca Hentikan Tes Vaksin Covid-19 Global
Tetapi sikap ragu-ragu mereka selama tiga hari pertama pemerintahan Umar telah melukai hati dan masih terasa bekasnya. Oleh karena itu Umar langsung menjawab mereka: "Tidak! Allah telah mengangkat Saudara-saudara karena kesigapan dan kecepatan Saudara-saudara menghadapi musuh. Kalau kalian takut dan enggan menghadapi musuh, lebih baik pimpinan diserahkan kepada orang yang mau mempertahankan dan menyambut seruan itu. Pimpinan akan saya serahkan hanya kepada orang yang pertama menyambut tugas ini.”
Lihat Juga :