Kisah Sahabat Nabi : Wafat Seorang Diri dan Kelak Dibangkitkan Sendirian

Sabtu, 26 Juli 2025 - 16:29 WIB
Ibnu Mas'ud kemudian duduk lalu diceritakan kepada para sahabatnya maksud dari pujian yang diucapkannya itu. Nabi pernah bersabda tentang Abu Dzar saat perang Tabuk melawan Romawi pada tahun kesembilan Hijrah. "Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Dzar. Ia berjalan sebatang kara, meninggal sebatang kara dn dibangkitkan nanti sebatang kara."

Setelah berlalu masa 20 tahun atau lebih dari hari yang kita sebutkan tadi, Abu Dzar wafat di padang pasir Rabadzah sebatang kara. Setelah sebatang kara pula ia menempuh hidup yang luar biasa yang tak seorang pun dapat menyamainya.

Zuhud dan Tegas Melawan Kebatilan

Dalam lembaran sejarah, Abu Dzar muncul sebatang kara yakni orang satu-satunya yang paling zuhud, tegas melawan kebatilan. Kemudian di sisi Allah kelak ia akan dibangkitkan sebagai tokoh satu-satunya pula. Jasa-jasanya terhadap agama Allah tidak ada yang menyamainya. Allah Ta'ala memuliakan beliau berkat perjuangan dan kegigihannya membela agama Allah dan Rasul-Nya.

Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu bernama asli Jundub bin Janadah. Beliau adalah seorang yang tajam pengamatannya tentang kebenaran. Menurut riwayat, ia termasuk salah seorang yang menentang pemujaan berhala di zaman jahiliyah, dan sahabat yang sangat zuhud.

Beliau adalah sahabat paling radikal dalam menegakkan risalah Islam. Radikal dalam hal ini bukan bermakna negatif. Beliau paling revolusioner, sikapnya tegas dalam melawan kebathilan. Atas sikapnya itu, beliau pun menerima resiko berat. Luka akibat dipukuli, berbagai dintimidasi hingga pingsan kerap diamalinya dan sedikit pun tidak menyurutkannya dalam menegakkan kebenaran Islam di hadapan kaum musyrik Makkah.

Bahkan terhadap sahabat Nabi yang dianggapnya melenceng dari kebenaran, beliau nasihati tanpa pandang bulu. Ini juga yang membuat Rasulullah صلى الله عليه وسلم kagum dan takjub hingga menyampaikan ucapan istimewa kepadanya. "Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar ".

Pada suatu hari Abu Dzar ditawarkan sebuah jabatan sebagai amir di Irak. Beliau berkata: "Demi Allah, tuan-tuan takkan dapat memancingku dengan duniauntuk selama-lamanya!"

Pada kesempatan lain, seorang sahabat melihatnya memakai jubah usang, "Bukankah anda masih punya baju yang lain? Beberapa hari yang lewat saya lihat anda punya dua helai baju baru!"

Jawab Abu Dzar : "Wahai putra saudaraku! Kedua baju itu telah kuberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya daripadaku!"

Kata sahabat itu pula: "Demi Allah! Anda juga membutuhkannya!" Lalu Abu Dzar berkata: "Ampunilah ya Allah! Kamu terlalu membesarkan dunia! Tidakkah kamu lihat burdah yang saya pakai ini? Dan saya punya satu lagi untuk salat Jum'at. saya punya seekor kambing untuk diperah susunya, dan seekor keledai untuk ditunggangi! Nikmat apa lagi yang lebih besar dari yang kita miliki ini".

Pada suatu hari ia duduk menyampaikan sebuah Hadis, katanya: "Aku diberi wasiat oleh junjunganku ( Nabi Muhammad ) dengan tujuh perkara:
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!