Hukum Berdiam Diri Melihat Kezaliman Menurut Islam
Senin, 01 September 2025 - 09:32 WIB
1. Mendiamkan kemungkaran akan dinilai sama seperti orang yang melakukan maksiat walau tidak melakukannya secara langsung karena sebagaimana wajib menjauhi maksiat, maka wajib juga mengingkari orang yang melakukan maksiat.
2. Mendiamkan kemungkaran menunjukkan menganggap remeh kemungkaran dan menganggap remeh perintah Allah.
3. Kalau maksiat didiamkan, maka perbuatan tersebut akan semakin merebak.
4. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat, perbuatan maksiat akan dianggap bukan maksiat, bahkan nantinya bisa dianggap sebagai perbuatan baik.
5. Mendiamkan kemungkaran akan mengakibatkan kejelekan akan terus diikuti oleh yang lainnya dan akan terus seperti itu.
Bagaiman sikap kita dalam mencegah kemungkaran? Dalam Jaami' Al-'Ulum wa Al-Hikam, Imam Ahmad berkata: "Manusia itu membutuhkan sikap lemah lembut (mudaaroh) dan lemah lembut ketika diingatkan pada kebaikan dan kemungkaran. Hal yang dikecualikan adalah orang yang terang-terangan dalam kefasikan, maka ia tidak dimuliakan."
Para murid Ibnu Mas'ud jika melewati sekelompok orang yang mereka pandang sedang berbuat jelek, mereka mengatakan, "Tak perlu tergesa-gesa, tak perlu tergesa-gesa, semoga Allah merahmati kalian." (Jaami' Al-'Ulum wa Al-Hikam, 2:256)
Demikian penjelasan hukum mendiamkan kemungkaran. Semoga kita dapat mengambil faedah dan pelajaran.
Baca juga: Inilah Dosa dan Azab Bagi Pemimpin Zalim
2. Mendiamkan kemungkaran menunjukkan menganggap remeh kemungkaran dan menganggap remeh perintah Allah.
3. Kalau maksiat didiamkan, maka perbuatan tersebut akan semakin merebak.
4. Jika orang berilmu dan paham agama mendiamkan maksiat, perbuatan maksiat akan dianggap bukan maksiat, bahkan nantinya bisa dianggap sebagai perbuatan baik.
5. Mendiamkan kemungkaran akan mengakibatkan kejelekan akan terus diikuti oleh yang lainnya dan akan terus seperti itu.
Bagaiman sikap kita dalam mencegah kemungkaran? Dalam Jaami' Al-'Ulum wa Al-Hikam, Imam Ahmad berkata: "Manusia itu membutuhkan sikap lemah lembut (mudaaroh) dan lemah lembut ketika diingatkan pada kebaikan dan kemungkaran. Hal yang dikecualikan adalah orang yang terang-terangan dalam kefasikan, maka ia tidak dimuliakan."
Para murid Ibnu Mas'ud jika melewati sekelompok orang yang mereka pandang sedang berbuat jelek, mereka mengatakan, "Tak perlu tergesa-gesa, tak perlu tergesa-gesa, semoga Allah merahmati kalian." (Jaami' Al-'Ulum wa Al-Hikam, 2:256)
Demikian penjelasan hukum mendiamkan kemungkaran. Semoga kita dapat mengambil faedah dan pelajaran.
Baca juga: Inilah Dosa dan Azab Bagi Pemimpin Zalim
(wid)
Lihat Juga :