Kisah Hikmah : Rumah dan Tamunya yang Mencari Jalan
Selasa, 21 Oktober 2025 - 21:15 WIB
Kisah perumpamaan yang luhur ini, yang dikutip dari ajaran-ajaran Nizamudin Awlia yang hidup pada abad keempat belas, dianggap memiliki pesan-pesan kebaikan pada beberapa tingkat. Kisah ini menunjuk pada beragam urutan kegunaan akal agar suatu pemahaman tertentu yang lebih tinggi bisa dicapai.
Kisah ini juga dimaksudkan untuk menekankan, dengan cara yang mudah diterima akal, perlunya keberadaan sekelompok sufi , dan hubungan batin di antara berbagai orang, dan bagaimana keduanya bisa saling melengkapi.
Banyak perhatian dicurahkan para darwis terutama pada kebutuhan akan pengaturan unsur-unsur tertentu sebelum seseorang bisa menarik manfaat dari usaha-usaha kelompok.
Kisah ini merupakan salah satu kisah Sufi yang mengandung pembatasan. Kisah ini tidak boleh dipelajari terpisah, dan di manapun cerita ini dituliskan, seorang murid harus membaca kisah berikutnya segera sesudah yang satu ini.
Kisah ini tidak muncul dalam kumpulan karya klasik mana pun, tetapi mungkin ditemukan dalam koleksi catatan yang dimiliki para darwis; mereka pun menceritakannya dari waktu ke waktu sebagai bagian rangkaian pelajaran yang terencana. Versi ini diambil dari naskah yang menyatakan bahwa kisah ini dikarang oleh Guru Agung Syeh Amir-Sayed Kulal Sokhari, yang meninggal tahun 1371.
Baca juga: Inilah Pahala Memuliakan Tamu, Kaum Muslim Wajib Tahu!
Kisah ini juga dimaksudkan untuk menekankan, dengan cara yang mudah diterima akal, perlunya keberadaan sekelompok sufi , dan hubungan batin di antara berbagai orang, dan bagaimana keduanya bisa saling melengkapi.
Banyak perhatian dicurahkan para darwis terutama pada kebutuhan akan pengaturan unsur-unsur tertentu sebelum seseorang bisa menarik manfaat dari usaha-usaha kelompok.
Kisah ini merupakan salah satu kisah Sufi yang mengandung pembatasan. Kisah ini tidak boleh dipelajari terpisah, dan di manapun cerita ini dituliskan, seorang murid harus membaca kisah berikutnya segera sesudah yang satu ini.
Kisah ini tidak muncul dalam kumpulan karya klasik mana pun, tetapi mungkin ditemukan dalam koleksi catatan yang dimiliki para darwis; mereka pun menceritakannya dari waktu ke waktu sebagai bagian rangkaian pelajaran yang terencana. Versi ini diambil dari naskah yang menyatakan bahwa kisah ini dikarang oleh Guru Agung Syeh Amir-Sayed Kulal Sokhari, yang meninggal tahun 1371.
Baca juga: Inilah Pahala Memuliakan Tamu, Kaum Muslim Wajib Tahu!
(wid)
Lihat Juga :