Dosa-dosa Wanita karena Lisannya, Cek di Sini Saja!
Sabtu, 29 November 2025 - 11:01 WIB
Lantas, apa saja ucapan atau lisan yang menjadi dosa dari kaum wanita ini:
Abdullah bin Abbas mengatakan, “Semoga Allah merahmati seseorang yang berbicara lalu ia mendapatkan kebaikan. Atau diam dari ucapan buruk sehingga ia selamat.” Ucapan Ibnu Abbas ini adalah ucapan yang indah. Kalau seseorang harus berbicara, bicaralah dengan sesuatu yang dapat menuai pahala dan memberi kemanfaatan . Kalau tidak demikian, maka lebih baik diam. Itu membuatnya selamat dan orang lain selamat.
Diamnya seseorang agar tidak jatuh pada keburukan, ini adalah keutamaan. Ibnu Mundzir rahimahullah mengatakan, “Kalau sekiranya berucap dalam rangka menaati Allah itu senilai perak, maka diam supaya tidak terjatuh pada kemaksiatan adalah senilai emas.”
Jadi, perintah diam dalam hadis Rasulullah adalah agar lisan tidak terjerumus pada perkataan yang sia-sia atau bahkan perkataan yang buruk.
“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit di bawahnya. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri. Jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika orang itu memang layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (HR. Abu Dawud)
Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu‘anhu, ada seseorang yang melaknat angin karena selendangnya diterbangkan oleh angin tersebut. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Janganlah Engkau melaknatnya, karena sesungguhnya dia diperintah (oleh Allah). Sungguh, orang yang melaknat sesuatu padahal dia tidak pantas mendapatkan laknat, maka laknat tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
1. Adu domba
Adu domba adalah seseorang mengabarkan realita kepada orang ketiga. Tapi tujuannya adalah untuk merusak . Jadi, kalimat yang diucapkan adalah baik, realita, bukan dusta, dan maksud mengatakannya pun baik.Abdullah bin Abbas mengatakan, “Semoga Allah merahmati seseorang yang berbicara lalu ia mendapatkan kebaikan. Atau diam dari ucapan buruk sehingga ia selamat.” Ucapan Ibnu Abbas ini adalah ucapan yang indah. Kalau seseorang harus berbicara, bicaralah dengan sesuatu yang dapat menuai pahala dan memberi kemanfaatan . Kalau tidak demikian, maka lebih baik diam. Itu membuatnya selamat dan orang lain selamat.
Diamnya seseorang agar tidak jatuh pada keburukan, ini adalah keutamaan. Ibnu Mundzir rahimahullah mengatakan, “Kalau sekiranya berucap dalam rangka menaati Allah itu senilai perak, maka diam supaya tidak terjatuh pada kemaksiatan adalah senilai emas.”
Jadi, perintah diam dalam hadis Rasulullah adalah agar lisan tidak terjerumus pada perkataan yang sia-sia atau bahkan perkataan yang buruk.
2. Suka melaknat
Di antara yang harus dihindari adalah melaknat atau saling melaknat. Dari sahabat Abu Darda’ radhiyallahu‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا لَعَنَ شَيْئًا صَعِدَتِ اللَّعْنَةُ إِلَى السَّمَاءِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ دُونَهَا، ثُمَّ تَهْبِطُ إِلَى الْأَرْضِ فَتُغْلَقُ أَبْوَابُهَا دُونَهَا، ثُمَّ تَأْخُذُ يَمِينًا وَشِمَالًا، فَإِذَا لَمْ تَجِدْ مَسَاغًا رَجَعَتْ إِلَى الَّذِي لُعِنَ، فَإِنْ كَانَ لِذَلِكَ أَهْلًا وَإِلَّا رَجَعَتْ إِلَى قَائِلِهَا
“Jika seorang hamba melaknat sesuatu, maka laknat itu akan naik ke langit, dan tertutuplah pintu-pintu langit di bawahnya. Kemudian laknat itu akan turun lagi ke bumi, namun pintu-pintu bumi telah tetutup. Laknat itu kemudian bergerak ke kanan dan ke kiri. Jika tidak mendapatkan tempat berlabuh, ia akan menghampiri orang yang dilaknat, jika orang itu memang layak dilaknat. Namun jika tidak, maka laknat itu akan kembali kepada orang yang melaknat.” (HR. Abu Dawud)
Dari sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu‘anhu, ada seseorang yang melaknat angin karena selendangnya diterbangkan oleh angin tersebut. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
لَا تَلْعَنْهَا، فَإِنَّهَا مَأْمُورَةٌ، وَإِنَّهُ مَنْ لَعَنَ شَيْئًا لَيْسَ لَهُ بِأَهْلٍ رَجَعَتِ اللَّعْنَةُ عَلَيْهِ
“Janganlah Engkau melaknatnya, karena sesungguhnya dia diperintah (oleh Allah). Sungguh, orang yang melaknat sesuatu padahal dia tidak pantas mendapatkan laknat, maka laknat tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Lihat Juga :