Al-Qasim: Derita Panjang Cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq Semasa Kecil

Rabu, 23 September 2020 - 13:35 WIB
Aku melihat kepala Umar sejajar dengan jari-jari kakekku, dengan dengan arah kaki Nabi saw.”

Imam Mujtahid

Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal Kitabullah dan menimba hadis-hadis dari bibinya, Aisyah sebanyak yang dikehendaki Allah. Dia tekun mendatangi Al-Haram Nabawi dan duduk dalam halaqah-halaqah ilmu yang terhampar di setiap sudut-sudut masjid laksana bintang-bintang gemerlap yang bertaburan di langit yang terang.

Baca juga: Harus Kompak Jaga Keamanan Pilkada

Beliau menghadiri majlisnya Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Khabbah, Rafi’ bin Khudaij, Aslam pembantu Umar bin Khattab dan sebagainya.

Hingga pada gilirannya beliau menjadi imam mujtahid dan menjelma menjadi manusia yang paling pandai dalam hal sunnah pada zamannya, di mana ketika itu seseorang belumlah dianggap sebagai tokoh sebelum dia mendalami sunnah-sunnah Rasulullah saw.

Baca juga: Corona Bikin Ekonomi Global Meriang, Duit USD8,8 Triliun pun Melayang

Setelah sempurna perlengkapan ilmu pemuda yang merupakan cucu Abu Bakar ini, orang-orang banyak belajar kepadanya dengan penuh perhatian. Sementara beliau memberikan ilmunya tanpa pamrih atau jual mahal.

Beliau tak pernah absen untuk pergi ke masjid Nabawi setiap hari lalu salat dua rakaat tahiyatul majid kemudian duduk di bekas tempat Umar r.a di Raudhah, yakni tempat antara kubur Nabi saw. dengan mimbarnya. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala pejuru untuk menimba ilmu dari sumber yang segar dan bersih, melegakan jiwa yang haus akan ilmu.

Baca juga: Jokowi Sebut Semua Negara Berhak Mendapatkan Vaksin Corona dengan Harga Terjangkau

Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Al-Qasim bin Muhammad dan putra bibinya, selain Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Keduanya menjadi tokoh yang ditaati dan didengar tutur katanya kendati keduanya tidak memiliki wilayah kekuasaan dan jabatan.

Masyarakat mengangkat keduanya karena sifat taqwa dan wara’nya. Juga karena pusaka yang ada di dalam dadanya berupa ilmu dan pemahamannya, ditambah lagi karena sifat zuhudnya terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta berharap banyak terhadap apa-apa yang ada di sisi Allah.

Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayah dan para bawahannya hormat kepadanya. Penguasa-penguasa tersebut bahkan tidak pernah memutuskan suatu masalah yang pelik kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua ulama tersebut.
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!